Berkelimpahan (yang membingungkan)

Sering saya melihat orang mengambil makanan yang berlebihan di acara-acara kondangan atau makan-makan. Kemudian makanan ini tidak dia makan sampai habis. Sementara itu tamu yang datang belakangan kehabisan makanan. Mengapa orang-orang ini mengambil makanan yang berlebihan dan tidak secukupnya saja? Saya mendapat kesan seperti tidak mau rugi.

Hal yang serupa terjadi di restoran, yang mungkin bersifat all you can eat atau kalau dibayari. Ngambilnya juga banyak-banyak dan tidak habis juga.

Ternyata hal serupa terjadi di dunia digital. “Wah ini ada 2GB sisa kuota. Bagaimana menghabiskannya?” Lantas download hal-hal yang tidak penting dan tidak akan digunakan hanya untuk menghabiskan kuota. Mengapa harus dihabiskan? Aji mumpung?

Saya menduga kita hidup di dunia yang serba kurang. Begitu kita berhadapan dengan situasi yang berlimpahan maka kita justru kebingungan. Bagai seorang anak yang tidak pernah permen, tiba-tiba masuk ke toko permen dan boleh makan sepuasnya. Malah bingung …

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

7 responses to “Berkelimpahan (yang membingungkan)

  • noudie

    New economic model pak. Dulu demand creates supply. Sekarang (nearly) unlimited supply of diskspace/bandwidth/etc creating demand (to download/save/buy unnecessary items). Digital consumerism perhaps? New wisdom: Semakin modernnya dunia, semakin penting untuk hidup minimalis🙂

  • Tina Latief

    kata cukup atau secukupnya itu memang luar biasa pak kekuatannya..

  • Dhidhit

    dalam falsafah jawa namanya “ojo mumpung”

  • gkkblog

    itu memang sudah sifat dasar manusia kang. selalu merasa tidak puas dan serakah. tapi ngomong2 berbicara di sisa kuota 2gb, saya pikir saya juga akan bertindak hal yang sama, donlot sepuasnya, atau, menghabiskannya untuk nonton gangnam style atau sejenisnya. hehe

  • Budiono

    kalo sisa 2GB ndak dihabiskan, kalo didepositkan ke bulan berikutnya sih enak pak, lha biasanya kan hangus.. maka ndak salah kalo dipake nyari sesuatu yang lebih bermanfaat :d

  • iscab.saptocondro

    Kuota saya cuma 300 MB per bulan di Jerman. Habis dalam 20 hari. Sekarang harus puas dengan kecepatan 64 kbps dalam genggaman. Kalau mau buka Facebook harus cari WLAN terdekat.
    Di Indonesia, mobile internet bisa sampai 2 GB? Betul-betul hidup melimpah di Indonesia.
    OK, di Indonesia ada kebutuhan unggah-unduh foto makanan tiap kali makan di luar. Di Jerman, makanan gitu-gitu doang tampangnya. Jadinya kuota giga tidak betul-betul dibutuhkan.

  • selfbeside

    ketiga asumsi bpk memang benar, satu prinsip yg pasti “gak mau rugi”, sya sendiri sering melakukn contoh yg ketiga bpk kasih, kuota bagi sya amat sangat berharga, xixixi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: