I am Titanium

Aku terduduk. Memandangi kota di malam hari. Lampu-lampu menerangi rumah. Menjauhkan kegelapan dan ketakutan. Seharusnya city lights membuat suasana yang indah, tetapi untuk seorang diri ini merupakan sebuah siksaan. Tak dapat membagi keindahan. Sigh.

Angin dingin menembus kemeja dan T-shirt yang kukenakan. Tangan merapikan kemeja, memasukkan anak kancing ke lubangnya. Tidak sengaja tangan menyentuh bagian tubuh yang keras bagai baja. Titanium tepatnya.

Benda ini berada di sana sebagai upaya untuk menyelamatkan diriku ketika mengalami kecelakaan. Nenek, seorang dokter peneliti jenius, yang memasangkannya. Selain itu ada banyak hal yang dilakukan nenek untukku. Tak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya setengah tubuhku adalah titanium. Tak ada bedanya dengan sebuah robot.

Kecelakaan itu juga mengubah hidupku karena pada hari itu aku kehilangan kedua orang tuaku. Hanya nenek satu-satunya yang kumiliki. Kesedihan yang memuncak juga membuat hatiku menjadi lebih keras dari Titanium. Maybe this is for the best.

Ah, sudah waktunya makan malam. Nenek pasti sudah menungguku. Menghela nafas, seraya lirih berkata …

I am Titanium.

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

14 responses to “I am Titanium

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: