Republik Sinetron

Sebetulnya saya tidak suka menulis blog dengan topik yang sedang ngetrend. Harus topik yang lain. Namun kali ini saya terpaksa menulis sesuatu yang sedang ngetrend. Ini tentang pencalonan Gubernur Jawa Barat.

Kalau dilihat dari daftar calon, ternyata kebanyakan adalah artis. Tanpa bermaksud mengecilkan para artis ini, saya hanya bertanya-tanya mengapa demikian? Apakah mereka tidak punya pekerjaan lain? Saya pikir tadinya passion mereka adalah di seni. Secara mereka sebagai aktor / aktris begitu. Apakah pekerjaan mereka sebelumnya itu hanya dolanan? Mengapa mereka tidak menekuni hal itu sampai akhir hayatnya?

Cara para artis ini menjadi calon bagi partai politik itu juga menurut saya mengecilkan peran kader-kader parpol yang sudah membina karir mereka di sana. Bahkan bisa jadi politik memang passion dari para kader ini. Setidaknya, para kader ini lebih lama menimba ilmu politiknya. Tiba-tiba mereka terdepak begitu saja? Demi partai, demikian mungkin alasannya? Saya yakin banyak yang sakit hati.

Mungkin memang Indonesia kita ini adalah Republik Sinetron. Hanya itu alasan logis yang dapat saya terima.

Iklan

21 pemikiran pada “Republik Sinetron

  1. itulah indonesia. para (poli)tikus ini begitu ketakutan nggak dikenal pemilihnya sehingga menggaet artis..
    karena rating adalah segalanya -__-

  2. Pak Budi,

    Sebab para artis sdh mempunyai fan based.

    Seperti bisnis yang telah mempunyai customer based.

    Jadi lbh gampang dijalankan.. Hehe..

    Salam,

    Hotelpadi.com (rajanya tarif hotel murah)

  3. semua hal itu ada keterkaitan dan selalu ujung2nya uang.
    utk artis berpolitik akan nambah duit -> media massa akan membesar2kan dan korannya akan laris manis sehingga nambah omzet alias duit. -> komentator akan semakin laris karena bahan komentar akan semakin bertambah sehingga duitnya juga nambah -> yang nonton acara (ya kita-kita ini) tentu akan terpengaruh media tapi sayang duitnya ga nambah, hahaha…

  4. Kalau di Indonesia, trennya mungkin artis masuk ke dunia politik.

    Kalau di Brazil atau negara maju sepakbola lainnya, trennya mantan pemain sepak bola yang masuk ke ranah politik. 😀

  5. Teman saya pernah berkata, para pemimpin di negeri ini adalah para seniman, Bung Karno adalah seniman yang menyukai arsitektur bangunan dan monumen2, Gusdur penyuka seni wayang kulit, Pak SBY presiden RI saat ini suka menyanyi, bahkan sudah membuat album sendiri Pak…, mungkin itulah saat ini jadi terbalik posisinya artis jadi politisi untuk ikut memimpin di daerah. Atau memang benar pendapat Bapak, negara ini adalah Republik Sinetron…, segalanya bisa diskenariokan dan disutradarai…, hehe…

  6. Itu sama aja dengan mempertanyakan dosen/peneliti yang sukanya main band atau main futsal. Bukannya passion-nya adalah di penelitian? Harusnya meneliti kok malah ngeloyor futsal?

    Hmmm mungkin bukan perbandingan yang apple-to-apple. Tapi ya mungkin saja orang punya “second passion”, “third passion”, misi pribadi, atau apapun itulah….

    Tapi intinya: fenomena2 tersebut sah2 saja selama gak ada yang melarang. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang, kata Warkop 😀

  7. Jelas ada bedanya dong karena saya melakukan hal yang lain (ngeband atau futsal) bukan dengan kapasitas profesional tetapi sebagai hobby / amatir. Baru aneh kalau saya tiba-tiba menjadi pemain Persib atau menjadi artis sungguhan (dalam artian profesi yang berbayar, sebagai mata pencaharian). Terlihat perbedaannya? 🙂

    Suatu saat saya diminta untuk mengulas tentang pertandingan sepak bola. Saya ketawa saja. Ini dagelan apa? Apa kompetensi saya untuk mengulasi selain sebagai penggemar doang? he he he… Ya kalau untuk dagelan oke sajalah.

    Kira-kira sama. Kalau memang kepemimpinan negara hanya untuk dagelan semata, ya monggo. Rekiblik Dagelan 🙂 … Presidennya udah ada toh? wk wk wk

  8. Hehehe, tadi perbandingan saya di atas dilihat dari sisi “passion”. Kalo dilihat dari kacamata profesionalisme ya perbandingannya jadi gak apple-to-apple. Jadi apple-to-samsung…

    Tapi sebenarnya pak Budi bisa kok jadi artis. Itu dokter gigi bisa tuh jadi artis (drg. Fadli)… Yang mana yang pekerjaan profesional saya ga tau juga hehe…

    Bicara tentang kepemimpinan negara… Ronald Reagan yang aktor pernah jadi presiden, gak pake dagelan sih sayangnya, xixixi… Yang membedakan memang kompetensi. Di negara saya, kompetensi melawak memang harus ada. Jadi pelawak adalah fast track buat jadi presiden di sini. Kalo di Indonesia mungkin harus jadi pencipta lagu dulu kali ya… wkwkwk

  9. buat sya arti juga oke asalkan dia beneran punya latar blakang pendidikan yg jelas dan minimal sarjana aja, trus jngn sampe pola hidup artisnya dibawa bawa, hidup jetset gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s