Kerja Keras

Suatu ketika ada mahasiswa yang ingin mendiskusikan ide proposal sebuah lomba dengan saya. Setelah mendengarkan presentasinya saya melihat masih ada beberapa kelemahan yang dapat diperbaiki. Saya minta dia untuk melakukan survey apakah sudah ada inisiatif serupa dan siapa saja pemain yang menggeluti bidang itu. Nampaknya sang mahasiswa ini belum mengerti. Saya jelaskan kembali. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pencarian di internet. Seharusnya ini lebih mudah dibandingkan jaman dahulu sebelum ada internet.

Sang mahasiswa akhirnya paham dengan yang saya maksud dan mulai berpikir keras karena dia mulai sadar ada banyak hal yang harus dia kerjakan. Dia mulai mempertimbangkan teman-temannya yang tidak ikutan lomba dan dapat berleha-leha dalam liburan ini, sementara dia harus bekerja untuk mencari data yang dimaksudkan. Ya, saya katakan dia harus bekerja keras.

Cara yang paling sederhana dari implementasi kerja keras adalah kerja dengan waktu yang lebih lama. Sering saya tanya kepada mahasiswa, berapa lama Anda tidur seharinya? Kalau Anda tidur lebih lama dari saya maka Anda kurang kerja keras. Ini hanya salah satu ukuran. Bisa juga kita gunakan ukuran kerja keras yang lain, misalnya terkait dengan usaha yang membutuhkan otot yang lebih kekar.

Jika kita ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang lain tentu saja usaha kita harus lebih banyak. Atau dengan kata lain, harus bekerja lebih keras. Masalahnya adalah mau atau tidak. Kebanyakan orang jawabannya adalah tidak. Mau hasilnya tapi tidak mau usahanya. Lah bagaimana bisa?

Ada yang kemudian mengusulkan kerja lebih cerdas. Lah kerja lebih keras saja sudah susah dilakukan (dalam artian malas dilakukan), apalagi kerja cerdas. Yang terakhir ini membutuhkan pemikiran. Berpikir itu lebih sukar dari sekedar menggerakan otot atau melakukan sesuatu dalam kurun waktu yang lebih lama – kerja keras. Kalau bisa kerja cerdas memang bagus, tapi saya mengusulkan kerja keras dulu lah yang lebih mudah. Siap?

Iklan

14 pemikiran pada “Kerja Keras

  1. Kerja keras sangat diperlukan untuk menggapi hasil yang sesuai dengan keinginan kita , tapi tidak semua hasil dari jerih payah kita yang keras akan menhasilkan sesuatu yang lebih dari yang diinginkannya , jadi keseimpulan yang dapat saya ambil , marilah kerja keras selalu meski hasil tidak begitu puas , setidaknya kita sudah berusaha semaksimal mungkin.. Dan jangan lupa untuk berdoa pada Tuhan Yang Maha Esa agar kerja keras kita memberikan Hasil yang sangat maksimal.

    Artikel Kerja Keras anda dapat memberikan inspirasi bagi orang bannyak.Keep Blogging hehe

  2. Karena terbuai dengan ‘kerja cerdas’, banyak orang yang akhirnya malah menyia-nyiakan waktu kosongnya. Tetap saja kerja keras itu penting. Para ilmuwan besar, negarawan besar, pemimpin2 rohani besar, dsb mereka semua tidak meninggalkan kerja keras walaupun sudah ‘kerja cerdas’.

  3. setuju pak. 🙂

    Jadi inget satu quote gitu, kira-kira intinya gini, “orang muda itu sukses atau tidak itu ditentukan waktu luang yang dihabiskannya, di saat yang lain sibuk berlibur, hangout, dll, dia habiskan waktu luangnya untuk belajar dan berlatih”

    I’ll be that one.. 🙂

  4. Kerja keras, kerja cerdas etc menurut saya is a b*** s***t.

    Gaul dan luck jauh lebih penting.

    Baca buku “the black swan” Nassim Taleb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s