Tuhan Berada Di Sudut Yang Sepi

Saya membaca tulisan Emha Ainun Nadjib yang berjudul “Allah dan Slang-slang AC” dengan trenyuh tapi setuju dengan tulisannya. Dia menuliskan tentang tempat shalat di gedung-gedung yang biasanya tersembunyi. Terpojok di sana beserta sliwerannya slang-slang AC.

Ini adalah sebuah fakta. Tempat shalat di gedung-gedung biasanya ada di tempat-tempat sisa. Tempat yang tidak dapat disewakan. Di situ digelar sajadah. Untuk mencapai ke sana mungkin kita harus melewati labirin, yang membuat tikuspun tersesat.

Apakah Engkau kesepian di sana, ya Allah? Maafkanlah kami …

Iklan

25 pemikiran pada “Tuhan Berada Di Sudut Yang Sepi

  1. Saya juga heran,

    apa penyebab semua ini ?

    apakah mall, super market, maupun plaza2 itu nggak kuat bangun tempat sholat yang nyaman ?

    apakah biaya pembuatan gedung, tidak cukup membangun mushalla yang layak untuk tempat ibadah ?

  2. Sebetulnya keadaan sekarang sudah jauh lebih baik daripada sekitar akhir 80an awal 90an. Seingat saya, saat itu semua hotel yang saya tahu memperlakukan mushola parah seperti itu. Tetapi sekarang hotel-hotel dan mall yang bagus telah menyediakan kamar khusus untuk mushola yang cukup baik. Mungkin ada satu dua yang masih memperlakukan mushola dengan parah, tetapi kecenderungannya yang seperti itu sudah mulai ditinggalkan pelanggannya.

  3. Tapi itu kan dilakukan *setelah* gedung jadi. Apakah para desainer / arsitek tidak memikirkan ini dari awal? Don’t they have a say on the desain? Atau, memang ini tidak diajarkan dalam desain di jurusan Arsitektur?

  4. tapi terkadang saya lebih memaknai shalat di tempat2 seperti itu. ada semacam kepuasan bathin mampu bersujud di tengah hirup pikuk dunia dan tantangan utk mencari tmpt utk shalat!

  5. Nah, kebetulan saya kuliah di bidang arsitektur. Jadi inget pas ngerjain tugas kuliah desain hotel sederhana. Saya dan teman2 pernah mendesain semacam ruang ibadah yang cukup luas gitu di dalem hotelnya, tapi sama pak dosen diprotes gitu pak. Katanya harus mengutamakan fungsi utamanya dulu, kalo residensial komersial kayak hotel ya diutamakan area2 yg menunjang fungsi tersebut. Padahal luasannya hanya sebesar 2 modul kamar hotel yang ada. Pak dosennya bilang, “kan kalau tamu yg nginap bisa sholat di kamarnya sendiri2”. Sepertinya kalau sudah berhubungan dengan komersial, pertimbangannya memang lebih diberatkan ke hal hal yang duniawi. Hmm..

  6. Ironisnya juga, bangunan masjid dibuat besar-besar dan megah, tapi hanya penuh di hari jumat atau hari-hari besar lainnya. Selebihnya hanya 2 atau 3 shaf saja yang digunakan untuk sholat wajib berjamaah. Jadi kadang-kadang sy kepikiran, betapa ironisnya kita menuntut mall (yang adalah tempat belanja) wajib menyediakan tempat sholat yang cukup lapang sementara masjid (yang adalah tempat sholat) dibiarkan melompong tanpa makmum yang cukup.

  7. Saya sih ga peduli. Karena seakan-akan kita mengharapkan orang lain yang berbuat baik kepada Tuhan u/ menyediakan tempat beribadah.

    Kalo saya malah bangga. “Eh Tuhan, ini lho saya. Dimana pun saya berada dan bagaimanapun keadaan tempatnya, saya selalu ingat Engkau”.

    Ngapain peduli orang lain.

  8. Tapi Di BIP mushala nya bagus lho Om. Engga mojok kaya mushola di mall lain. Malah ada ac nya 🙂
    emang sih kebanyakan kaya gitu, mojok mushola nya. tapi ada juga yang engga mojok kaya di BIP 🙂

    salam hangat…

  9. Tulisan bapak mengingatkan saya akan kejadian awal november 2012 lalu. Dimana saya terpaksa menghadap Illah dalam keadaan basah kuyup, akibat berhujan-hujan ria di rooftop sebuah hotel berbintang demi menggapai sebuah ruangan kecil bernama musholla. Dramatis, ironis.

  10. yang paling nampak sekali, kalau desain awal dari gedung itu minus mushalla. kemuadian di gunakan satu ruangan entah apa itu untuk menjadi mushalla.
    atao mungkin pemiliknya takut kalo di tuntut juga untuk menyediakan pura, klentheng , gereja, dll… 🙂

  11. Dulu, 2 tahun lalu. Mushola di Mall-Mall Tangerang begitu juga Pak, tapi karena banyak dikritisi oleh masyarakat dan pejabat di Tangerang, sekarang agak mendingan…, fasilitas dan kenyamannya pun mulai ditingkatkan…, yah tapi tetap kurang layak juga sich….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s