Tag

,

Tulisan ini merupakan upaya saya untuk mengajak kita peduli terhadap lingkungan. Mungkin pesannya terlalu sederhana dan terlalu obvious. Semua orang juga sudah tahu. Pada kenyataannya tidak. tetapi sesungguhnya pesan-pesan seperti ini masih dibutuhkan.

Sering saya melihat orang berkendaraan – motor, mobil, bahkan mobil mewah sekalipun – yang melontarkan sampah ke jalan. Paham yang mereka anut adalah, mobil saya harus bersih dari sampah. Jalan? Ah terserah. Fenomena “not in my backyard“.

Bahwa membuang sampah pada tempatnya ternyata masih belum diresapi. Ini harus diajarkan sejak dini. Suatu ketika ada anak-anak, kecil-kecil, bermain di depan rumah kami. Mereka makan makanan kecil. Kami tanya, kalau buang sampah di mana? Dengan lugunya mereka menjawab: di selokan. Kami tersentak. Mereka nampaknya tidak diajari. Atau – lebih mengerikan lagi – mereka diajari untuk membuang sampah di selokan. Pantas saja kalau hujan selokan menjadi meluap karena aliran air tertutup oleh sampah-sampah yang susah hancur tersebut.

Pendidikan dapat terjadi di tiga tempat; (1) rumah, (2) sekolah, dan (3) masyarakat. Di luar negeri kita bisa lihat bahwa rumah mereka berantakan, sekolah pun tidak terlalu hebat, tetapi di masyarakat tetap ada “pelajaran-pelajaran”. Sebagai contoh, di kendaraan umum seperti bis ada petunjuk untuk memberikan tempat kepada orang tua atau yang membutuhkan. Ini merupakan pelajaran dari masyarakat. Untuk itu saya mengajak kita untuk membuat “pelajaran-pelajaran” di manapun kita bisa melakukannya. Termasuk di blog.

Untuk kali ini, pesan yang ingin saya sampaikan adalah

Buanglah sampah pada tempatnya

(Mungkin di lain kesempatan saya bisa menambahkan dengan ilistrasi grafis yang lebih menarik daripada sekedar teks saja.)