Susahnya Menilai

Salah satu hal yang tidak saya sukai sebagai dosen adalah bagian menilai. Ini adalah suatu pekerjaan yang tidak menyenangkan tetapi harus dilakukan.

Umumnya dosen ingin meluluskan semua mahasiswanya, sayangnya kadang mahasiswanya yang justru mempersulit hal ini. Misalnya, mahasiswa gagal ujian. Kadang gagalnya juga spektakuler. Bagaimana dosen dapat meluluskan? Alasannya apa?ย  Dosen harus dapat memastikan bahwa mahasiswa paham dengan apa yang diajarkan dan memenuhi tujuan dari kuliah tersebut. Itulah sebabnya perhatikan tujuan silabus dari kuliah. Di sana ada inti yang akan diujikan. Sayangnya mahasiswa tidak peduli.

Hal kedua adalah menilai dan melihat sebaran nilai. Tidak saja saya harus membuat daftar yang lulus (dan yang tidak), tetapi saya harus mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami materi. Yang bagus diberi nilai A, sisanya menyesuaikan. Yang ini juga tidak mudah karena tidak ada panduan yang baku. Saya sih inginnya semua mendapat nilai maksimal (A), tetapi lagi-lagi kadang-kadang hal ini tidak memungkinkan.

Nah sekarang saya sedang dalam proses menilai. Hadoh. Derita dosen tiada akhir.

Iklan

11 pemikiran pada “Susahnya Menilai

  1. Rasanya memang dalam satu kelas ada yg layak dapat A dan adalayak juga dapat D, bahkan E (kalo emang keterlaluan) , kalo A semua atau D semua juga agak aneh ya pak. Sebagian mahasiswa yg rajin dan mau baca akan mendambakan A. Bagi mahasiswa mendapatkan nilai penting mengukur daya serap pemahaman dana juga utk antisipasi perkuliahan berikutnya. salam pak Budi.

  2. Mirip dg kasus yg saya alami. Walau saya bukan dosen, saya juga harus menilai performa anak buah. Ini hal yg kritis karena hasil penilaian itu selain diharapkan dapat memotivasi lebih baik juga berhubungan dg besarnya tambahan pendapatan yg akan diperioleh sbg hasil penilaian tsb.

    Hal yg berat yg harus saya lakukan tahun demi tahun….

    Salam,

  3. Sebuah sisi positif dari dosen adalah ilmu yang bermanfaat.
    yang sampai saat ini masih menjadi keinginan saya.

    saya masih ingat dosen saya dulu bahkan sampai membuka kesempatan bagi yang ingin komplain terhadap nilai bisa langsung menghadap.
    sisi lain lagi berarti dosen juga butuh sikap ksatria. hehe

    Salam

  4. Kadang nilai “jelek” juga malah bernilai positif buat mahasiswa pak.

    Saya pernah tidak lulus satu mata kuliah tertentu, padahal mata kuliah yang diajarkan alhamdulillah sebagian besar bisa diserap. Dan nilai ujian juga tidak mengecewakan.

    Begitu saya menghadap dosen ybs, ternyata penyebabnya adalah ada satu tugas yang tidak saya kumpulkan. Alasan saya : saya mengira tugas yang diberikan itu tidak wajib dikumpulkan. Sebagian besar teman-teman juga berpikiran begitu.
    Akhirnya memang banyak yang tidak lulus (lebih dari 80%).

    Di satu sisi saya kecewa. Tapi akhirnya saya ngga menyesal, karena akhirnya saya mengulang mata kuliah tersebut, saya menjadi lebih paham. Dan saya mendapat pekerjaan di mana ilmu tersebut bisa saya aplikasikan secara maksimal. Ditambah lagi, saya bisa berbagi ilmu tersebut dengan orang lain. (luar biasa amal jariyah dosen tsb. ๐Ÿ™‚ )

    Biasanya kelihatan kok, pak.. mana mahasiswa yang ngejar nilai, mana mahasiswa yang ngejar ilmu. ๐Ÿ˜€

  5. Sewaktu masih menjadi dosen, aku tidak memberi nilai akhir. Aku serahkan semuanya pada komputer. Tinggal masukkan nilai tugas, ujian, persentase kehadiran, tahun angkatan, dll lalu biarlah algoritma yang memberi nilai pada mahasiswa.

    Algoritma yang kurancang untuk memberi A terbanyak dan E tersedikit dengan tetap mempertahankan keadilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s