Tag

, , , ,

Saya sedang memeriksa tugas makalah mahasiswa sebagai bagian dari tugas mereka. Sayang sekali hasilnya tidak begitu baik. Misalnya masalah yang sering muncul adalah tidak mengerti bagaimana menggunakan referensi; tidak tahu cara mengutip dan menuliskan referensi. Padahal ini adalah bagian yang paling penting dalam dunia akademik.

Untuk mengetahui cara mengutip makalah dan menuliskannya dalam daftar referensi dapat dilakukan dengan membaca banyak makalah. Untuk mahasiswa pasca sarjana (S2, S3) tidak ada alasan untuk tidak membaca makalah. Kalau kita membaca banyak makalah, terbayanglah bagaimana pakem-pakem untuk menggunakan makalah. Kemudian kita baca aturan yang digunakan untuk kuliah / konferensi / jurnal yang bersangkutan. Ini semua ada aturannya. Tidang ngasal. Kalau tidak pernah baca makalah, ya bagaimana mau tahu? Setidaknya bacalah 100 makalah, gitu.

Mengutip juga harus dipelajari. Pengetahuan ini tidak dapat timbul dengan serta merta. Harus banyak berlatih. Salah mengutip dapat dianggap sebagai plagiat. Yang ini fatal akibatnya. Sayangnya hal ini sering dianggap remeh.

Mengutip itu tidak sama dengan menerjemahkan. Ada mahasiswa yang nekad mencoba menerjemahkan makalah. Memangnya tidak ketahuan? he he he. Ini sama dengan anak SD Indonesia yang mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa Perancis, misalnya. Ya bakalan ketahuanlah kalau menerjemahkan. he he he. Kalau hanya sekedar menerjemahkan sudah ada Google.

Di dunia akademik, Anda dinilai dari tulisannya. Tidak dapat menulis sama dengan tidak lulus. Titik.

Bagi mahasiswa saya yang sedang saya periksa tugasnya, silahkan perbaiki dahulu sebelum saya nilai.