Asal Mengutip

Lucu juga membaca tulisan mahasiswa yang asal mengutip. Sebetulnya buku lucu, mungkin lebih tepatnya meringis. hi hi hi. Ada mahasiswa yang asal mengutip dalam tulisan di makalahnya. Dia tidak tahu bahwa kutipannya salah. Sebetulnya apakah dia memang benar-benar membaca tulisan yang dia kutip tersebut? Atau, dia mengutip tanpa membaca naskah aslinya dan sekedar mengandalkan pendapat orang.

Ada juga orang takut salah dalam memahami kutipan, maka dia tulis semua yang dia kutip. Setiap katanya. Lengkap dengan titik komanya. Sayangnya yang ini justru menunjukkan bahwa dia tidak mampu untuk memahami tulisan tersebut. Alih-alih takut salah, malah dianggap tidak mampu.

Jadi bagaimana cara yang baik dalam mengutip? Pertama, baca dulu tulisannya. Kemudian coba pahami maksudnya. Baca lagi. Pahami lagi. Coba tuliskan pemahaman kita dengan bahasa kita. Kalau perlu, diskusikan dengan teman-teman secara informal. (Inilah mengapa perlu mencari teman seperjalanan dalam penelitian.)  Jadi mengutip itu tidak sekedar copy-and-paste saja.

Mengutip itu merupakan hal yang umum. Tidak mungkin kita melakukan penelitian semuanya berasal dari diri kita sendiri. Pasti ada hasil-hasil peneliti lain yang kita rujuk. Sebagai rasa hormat, maka etikanya adalah kita berikan penghargaan kepada mereka-mereka yang kita kutip. Maka, kemampuan mengutip itu sangat esensial.

10 Comments

  1. saya lagi kena bann untuk membuat kutipan langsung dari pembimbing karena biasanya jadi ngga nyambung dengan gaya bahasa saya dan biasanya itu mengindikasikan saya belum paham apa yang dimaksud penulis aslinya

  2. Sebetulnya mengutip (langsung) itu mengambil sebagian tulisan asli dari suatu artikel kemudian menaruh tanda kutip di awal dan di akhir.
    Kalau mengambil (makna) tulisan dari suatu artikel kemudian menggunakan (gaya) bahasa sendiri dalam tulisan kita, itu namanya memarafrasekan. Ini diambil dari kata parafrase. Sebetulnya parafrase dapat juga disebut kutipan tak langsung.

    Baik membuat kutipan langsung maupun tak langsung (parafrase), jangan lupa menyebut sumbernya. Parafrase cenderung lebih enak dibaca, karena penulis bisa menuangkan alur logikanya dan gaya bahasanya sendiri. Asumsi: penulisnya logis dan cukup mengerti sumber yang dikutip.

  3. Benar juga sih pak, saya juga suka ngutip.. Malah untuk artikel tertentu saya malah copy paste, kayanya ini jauh lebih aman dari memahami trus menuangkan dalam bahasa kita sendir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s