Editor Teks Terbaik

Apa editor teks terbaik?

Pertanyaan di atas mengundang perdebatan yang tak kunjung selesai. Ini seperti perdebatan agama apa yang terbaik? Setiap orang punya pilihannya sendiri-sendiri dan lengkap dengan alasannya.

Saya sendiri memilih editor “vi”. Ini editor yang kurang manusiawi. hi hi hi. Maksudnya, orang normal mungkin tidak akan memilih editor vi sebagai pilihan. Sayapun memilih ini karena sudah terlanjur menggunakan editor ini sejak pertama kali saya menggunakan sistem operasi UNIX. Perlu diingat saat itu tidak banyak editor yang dapat digunakan. Maka vi adalah pilihan yang paling natural.

Sekarang saya tetap menggunakan vi meskipun banyak editor yang katanya lebih “user friendly”. Bagi saya, vi lebih user friendly. hi hi hi. Saya dapat menggunakanya lebih efektif dibandingkan editor lain.

Iklan

20 pemikiran pada “Editor Teks Terbaik

  1. hmm menurut saya vi/vim/gvim lebih cocok untuk american keyboard.

    Untuk keyboard lain, seperti keyboard prancis, terasa aneh menggunakan vim.

    Ini mungkin hanya pendapat saya karena migrasi dari american keyboard ke french keyboard.

    Jadi, kebanyakan orang prancis lebih memilih emacs dibandingkan vim. 😀

  2. +1 buat vi/vim/gvim

    Console bisa, GUI bisa, dan multiplatform pula. Bahkan saat di WIndows pun saya sering pake vim/gvim. emacs terlalu “berat” utk saya. menurut saya emacs itu bukan lagi editor, tapi sudah “meta operating system” :mrgreen:

  3. Pak, kenapa masih pakai vi? vim aja, Pa. Highlighting bahasa pemrograman. btw, saya pun senang vim. Walau coding pakai netbeans, tapi pakai plugin vim. Enak, anti keseleo tangan

  4. Untuk di Linux, saya pakai vi, paling natural di dunia Unix, sedang teman – teman pakai nano, kagok mereka disuruh pakai vi.
    Untuk di Windows, saya pakai Programmers Notepad karena open source dan banyak features (highlighting, folding, block selection, plugin …) buat saya lebih bagus dibanding yang commercial / shareware.

  5. Untuk bergerak2 dan serba cepat ngapa2in di dalam satu file, tetep paling enak pake vi/vim. Tapi untuk “project” dengan banyak files belum nemu yg perfect. Sempet pake TextMate, tapi bener2 berasa lambat karena gak bisa bergerak cepat a la vi. Akhirnya skrg pake Sublime Text 2 dengan Vintage mode, masih belom perfect, but getting close. Lebih simple dan cepat to get up and running (bonus: visually more appealing) dibanding ngoprek vim/macvim (yg mungkin bisa eventually dapet semua yg saya bisa dapetin dari Sublime Text 2, and more).

  6. Entah kenapa gak lama setelah saya post komentar di atas, saya iseng ngoprek vim lagi, akhirnya skrg jadi balik nyantol pake vim (well, MacVim sih). Tapi effort yg dibutuhkan utk mengkonfigurasinya sampe mendekati level comfortable saya itu lumayan lama, bisa hampir seharian. Itu pun masih nggak perfect (e.g. tidak ada garis panduan vertical utk indentation level, tabs vs buffers yg bikin susah break habit, dsb.). Jadi at the end of the day, masih belom nemu yg perfect juga, tapi skrg udah lumayan happy, I think I will keep using vim as my main (coding) editor for a while.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s