Bekerja Seadanya Saja

Salah satu kebiasaan buruk yang saya amati adalah bekerja seadanya. Bekerja sekedar memenuhi kewajiban administratif. Kalau disuruh buat laporan, ya buat laporan asal ada laporan. Dia tidak ingin membuat laporan yang excellent. Tidak ingin membuat laporannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Mungkin kebiasaan ini dibina sejak jadi mahasiswa, yaitu dibiasakan mengerjakan tugas seadanya. Asal kumpul tugas. Ketika mahasiswa diajari bahwa yang kerja ekstra dan kerja asal-asalan nilainya sama saja. Ngapain juga kerja ekstra? Ini kemudian terbawa juga setelah bekerja.

Padahal orang akan menilai beda; orang yang asal-asalan dan orang yang serius dan mencintai pekerjaannya. Jelas berbeda!

15 Comments

  1. Sebagai seseorang yang memberikan tugas, misalnya dosen atau atasan, kadang kita kecewa dengan orang-orang yang diberi tugas ketika mereka hanya bekerja seadanya.
    Akan tetapi kita memiliki otoritas untuk menilai dan memberikan “reward” atau “punishment”. Kita tinggal menggunakan otoritas ini saja. Sederhana!

  2. mirip dengan konsep pahala dan dosa … kalau kita percaya ada sistem yang adil maka kita akan melakukan semua sebaik-baiknya, tapi kalau ngga, maka semuanya akan dilakukan secukupnya dan prosedural

  3. Setuju banget sama mas imam tentang comentar yang “penilaian terhadap mahasiswa yang mengerjakan tugas harus dibedakan, yang mana kerja keras dan mana yang asal-asalan”

    oh ya udh pada tau blm? indonesia skrg sudah punya web search engine. bantu sebarin yuk biar dia bisa jadi search engine nomor 1 di kampung nya ini..http://www.indokata.com/ <– ini link nya.. yukkkkkk

  4. mas budi.. kalo di tempat ane kerja sebagai pns.. semakin bagus kerjaan, siap2 aja kerjaan dia makin banyak. nah masalahnya reward buat pegawai yang bener bener bagus tuh ga ada.. ga ada bedanya sama yang asal beres entah itu bener atau tidak.. *JADI KALO DAH GITU GIMANA DONG MAS BUD?? :d

  5. [dudul] kalau memang ukuran kebahagian adalah reward (finansial) maka yang terjadi adalah berlomba-lomba untuk malas. kalau ukurannya adalah kebahagiaan diri sendiri karena mengerjakan kerjaan bagus dan orang senang, reward finansial yang sama dengan yang malas pun tidak masalah. (saya melalui situasi yang sama. bahkan di cerita saya, saya tidak dibayar. but I am happy with myself)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s