Karya Sastra

Sedang ada beberapa diskusi (keributan?) soal karya sastra. Katanya saat ini tidak ada lagi karya sastra yang bagus. Apa kriteria sebuah karya dapat disebut sebuah karya sastra (yang bagus tentunya)? Berkualitas? Siapa yang menentukan ini?

Ada yang mengatakan bahwa penulis-penulis sekarang kurang mampu menghasilkan karya yang setara dengan penulis-penulis jaman dahulu. Apakah ini benar? Saya sering menanyakan kepada mahasiswa siapa pengarang kesukaan Anda saat ini. Jawabannya seringkali adalah tidak tahu, ataupun kalau ada sangat bervariasi. Artinya memang tidak ada satu penulis yang sangat menonjol. Bagaimana menurut Anda?

Saya ingin membuat sebuah karya sastra yang bagus. Master piece. Tapi kalau hanya nulis di blog saja nampaknya hal ini hanya jadi impian atau halusinasi saja ya? Ah, setidaknya saya sudah memulai.

Iklan

7 pemikiran pada “Karya Sastra

  1. Kata “mereka”, karya sastra yang bagus itu pake kata-kata dan kalimat tingkat dewa yang susah dicerna.

    Saya barusan baca buku terjemahan yang katanya memenangkan penghargaan Pulitzer..(?). Hasilnya…. saya ngga ngerti apa isi buku itu 😀

    Akhirnya saya beli buku sejenis (isinya sama), tapi penulisnya beda, bahasanya lebih manusiawi.

    Jadi… terserah mau disebut karya sastra ato nggak, yang penting pesan dari penulis bisa sampai ke pembacanya. 😀 😀

  2. Harry Roesli (alm) pernah berkata, “Tidak ada musik yang bagus maupun yang jelek. Yang ada itu musik yang enak didengarkan dan yang tidak.”

    Begitu pula, karya sastra. Tidak ada yang bagus dan jelek. Yang ada itu, yang enak dibaca dan yang tidak.

  3. sastra itu pilihan atau hasil penilaian orang? entah kenapa saya selalu merasa tidak nyaman membaca buku karya pemenang nobel sastra. mungkin karena saya tidak disiplin dalam membaca. membaca Pramoedya membuat saya depresi karena membuat saya bisa membayangkan puluhan tahun silam. akhirnya melarikan diri ke novel ringan yang tamat dibaca dalam 3 jam, dan sehari kemudian lupa karena tidak berkesan

  4. Sebagai contoh, apa Harry Potter itu dapat dianggap karya sastra? Kalau di Indonesia, apakah karya-karya Pramoedya dapat dianggap sebagai karya sastra? Bagaimana dengan (kalau dulu istilahnya adalah) “roman picisan”?

    Lagu juga demikian. Ada lagu yang populer seperti “kopi dangdut”, tetapi apakah lagu seperti itu dapat dikatakan lagu yang bagus. Apakah definisi dari bagus adalah populer?

    Lantas kita harus bagaimana?

  5. Saya dukung Bapak untuk membuat karya sastra dalam bentuk buku.
    Tapi nulis di blog juga sangat penting, khususnya buat saya. he..he..

    Inti dari sebuah karya tulis itu: pesan penulis, bukan?
    Kalau benar, bapak sudah menghadirkan blog ini sebagai penyampai pesan tersebut.

    Berarti penyampaian pesan Master Piece Bapak harus lebih mantap dari blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s