Aku Dan Saya

Pemilihan kata untuk menyatakan diri ini sungguh memusingkan. Sekarang ini kata “saya” lebih sering saya gunakan di blog ini. (Tuh kan, saya.) Entah kenapa saya merasa kata “saya” ini lebih netral meskipun berkesan agak formal.

Ketika menggunakan kata “aku”, ada kesan personalisasi, romantisme, dan kedekatan yang berlebihan. Bahkan untuk tulisan yang agak berbau fiksi sekalipun saya kadang enggan menggunakan kata “aku”. Padahal semestinya aku itu lebih cocok daripada saya.

Saya orang biasa

dan

Aku orang biasa

terasa berbeda, bukan? Lebih enak yang terakhir.

Saya sebetulnya ingin tahu pendapat pembaca ketika saya menggunakan kata “aku”. Bolehkah aku menjadi aku?

Iklan

17 pemikiran pada “Aku Dan Saya

  1. tidak masalah bila anda menggunakan kata “aku” sebagai pengganti “saya”, yang terpenting kita harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk menjaga kearifan bahasa nasional kita 🙂

  2. Saya lebih suka menggunakan kata ‘saya’ dari pada aku. Terasa lebih sopan, walaupun secara tata bahasa saya belum menemukan penjelasan yang memadai.

    Akan tetapi ‘aku’ lebih berkonotasi egoisme bila kita menggunakannya pada saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau orang yang baru kita kenal.

    Saya tidak tahu apakah ini menyangkut kebiasaan saja atau memang demikianlah kita harus menerapkan keduanya.

  3. Saya malah nambah nanya Pak,
    Benarkah penggunaan kata “kami” dan “kita” sekarang sudah sering tertukar?

    Contoh:
    Pejabat berkata: “Nanti, kita bicarakan dulu sama atasan.”

    Padahal saya tidak diajak bicara bersama atasannya.

  4. Memang ‘aku’ itu cocoknya digunakan untuk menyatakan apa yang kita rasakan karena artinya lebih personal.

  5. Bergantung konteks, tentunya. Dalam blog saya sering ber-saya. Dalam percakapan lisan ya lihat dulu berbicara dengan siapa dalam forum macam apa.

    Yang saya heren, makin ke sini makin sering mendapati orang ber-aku, padahal dia tak akrab dengan saya, kenanl pun barusan. Misalnya salesman, petugas penghubung, dan masih banyak lagi — mereka memanggil saya “pak”, bukan “Mas” atau “oom”, tapi menyebut diri aku.

    Lebih heran lagi, ada seorang gadis yang sangat egaliter. Umurnya sekitar 25, setiap orang, termasuk yang sebaya ayahnya, dia sapa “kamu”. 😀
    Mungkin itu sdh lebih sopan ketimbang “elu” 😀

  6. ngga jadi follow lah, sampean jarang nulis lagi.

    Kalau nulis lagi, kirim reply mas ya… saya tinggalkan jejak disini.. ntar saya follow. hahaha.

    lanjut mas. maaf nambah coretan berserakan disini.

  7. kata saya memiliki kesan leboh formal misalnya kalau bicara dengan dosen atau orang yang lebih tua. dan karena alasan itu kadang menciptakan jarak. kata aku lebih puitis, seperti potongan puisi dari chairil anwar, “aku adalah binatang jalang dari kumpulannya terbuang”. kata aku menciptakan penekanan

  8. saya menggunakan “saya” saat ingin membuat “jarak”, :), jadi tergantung mood saya waktu itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s