Membuat Cerita Yang Menarik

Baru saja saya menonton sebuah seri (misteri, detektif, sains) di TV. Ceritanya menarik sekali. Saya menjadi iri. Bagaimana caranya agar saya dapat membuat cerita yang sama menariknya ya? Atau, mungkin sepersekiannya saja sudah cukup.

Saya coba bandingkan dengan cerita sinetron kita. Wah. Jauh sekali bandingannya, bagai bumi dan langit. (Eh, mungkin perumpamaan ini tidak tepat ya. Kalau diumpamakan bumi dan langit, maka mana yang bagus dan mana yang buruk? Apakah langit lebih bagus dari bumi? hi hi hi.)

Satu hal yang saya tandai adalah cerita-cerita kita itu sering berkesan “patronizing”. (Saya masih kesulitan mencari kata yang tepat.) Maksud saya adalah ceritanya sering berkesan menyuapi penonton. Mari kita ambil contoh.

Ceritanya ada satu tokoh yang menunggu sangat lama di depan pintu ruang operasi. Kalau di film “Barat”, yang ditampilkan adalah image sang tokoh yang berdiri tegar. Badan agak bergoyang sedikit. Nampaknya sudah pegal dia berdiri terus. Di tangannya ada kopi. Di dekatnya ada meja dan terlihat ada dua gelas kertas bekas kopi. Tidak ada kata-kata. Pemirsa diminta untuk membuat interpretasi sendiri, yang akhirnya menyimpulkan bahwa sang tokoh ini sudah lama berdiri menunggu (menantikan hasil operasi).

Kalau dalam sinetron Indonesia, cerita di atas ditampilkan sebagai berikut.

[Tokoh berdiri. Disorot mukanya.]
Tokoh berkata, “aku sudah di sini sejak dari pagi”.

he he he. Begitulah. Pemirsa dianggap sebagai orang bodoh dan harus diberitahu bahwa sang tokoh sudah berdiri cukup lama. Ini yang saya maksudkan dengan “patronizing“. Akibatnya ceritanya menjadi tidak menarik. Justru menariknya sebuah cerita adalah ketika sang pemirsa (atau pembaca buku dalam kasus baca buku) dapat membuat rekaan sendiri. Menyimpulkan sendiri.

Kembali kepada topik utama, bagaimana membuat cerita yang menarik ya? Cerita saya kok seringnya datar-datar saja. Kurang sentuhan perasaan atau kejutan. hi hi hi

Iklan

14 pemikiran pada “Membuat Cerita Yang Menarik

  1. kalau cari di books.google.com, ada buku-buku “creative writing”… mau coba menulis fiksi? jangan lupa buka wikipedia soal “story plot” ya… good luck!

  2. bener banget om. Tapi masalah nya sinetron di Indonesia memang gitu sih…. aneh. yang disorot muka nya melulu. Hahaha…background nya gak bagus kali ya om…hahahahahah.

    Pembentukan cerita yang misterius dan tidak ad unsur menyampaian secara langsung memang lebih membuat cerita lebih menarik.. 😀

    salam hangat om…

  3. sudah menjadi tema umum kalau sinetron indo itu pembodohan mas..
    Tapi saya malah heran ko ada ya ibu-ibu rela nangis,marah,sedih,atau ketawa ketawa saat nonton sinetron indo…

  4. hehe, tapi saya belum bosen2 nonton film Para Pencari Tuhan,,, setiap dialognya berisi walau seringkali terasa dibuat2… hehe, lumayan buat hiburan juga 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s