Permintaan Terlalu Banyak

Bagaimana menjelaskan ke klien bahwa apa yang mereka minta itu terlalu banyak? Implikasi dari banyaknya yang mereka minta itu adalah harga menjadi lebih mahal. Yang mana kemudian ini menjadi di luar jangkauan dari kemampuan finansial mereka.

Bidang kami adalah security. Seringkali tim kami diminta untuk memberikan layanan yang terkait dengan keamanan perusahaan atau instansi klien. Ada beberapa klien yang meminta layanan dengan lingkup pekerjaan yang sangat luas. Kami harus menjelaskan kepada mereka bahwa yang mereka inginkan itu terlalu besar. Seringkali mereka tetap ngotot. Begitu kami berikan harganya, mereka mundur teratur. Ya ampun. Kan sudah diberitahu. Kalau maunya banyak ya harganya mahal. Lebih baik dilakukan secukupnya saja dulu.

Salah satu cara yang sebetulnya efektif untuk membuka mata klien (atau calon klien) adalah dengan memberikan pelatihan (training). Biasanya pelatihan dapat membuka wawasan kepada klien tentang apa-apa yang harus dikerjakan dan tingkat kesulitan yang terkait dengan melakukan pekerjaan itu. Setelah pelatihan barulah mereka dapat menghargai apa yang kami tawarkan. Nah, untuk mengajak klien untuk mengikuti pelatihan ini ternyata menjadi permasalahan tersendiri.

Memecahkan satu masalah, muncul masalah baru. Oh well. Namanya juga hidup,  bukan?

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

6 responses to “Permintaan Terlalu Banyak

  • mumox

    dengan memberikan brosur atau profil singkat produk tidak lebih efektif pak??

  • ikhwanalim

    gmana klo ditanya, “budget-mu berapa?” hehe😀

  • kharisma muchammad

    kalo kata dosen saya sebelum mendengarkan apa yang diminta klien seharusnya kita bisa memisahkan apa yang diinginkan dan apa yang dibutuhkan klien. biasanya ada keinginan yang tidak berdasar atau dasarnya lemah. kalo bisa seperti ini biaya bisa ditekan pak.

  • vontho

    pelatihannya mahal juga kan, Pak?🙂

  • Indonesia In News

    solusinya harus diliat2 dulu apakah clientnya ini terlihat seperti tipe orang yang banyak permintaan atau tidak,, dari situ kita bisa membuat skema yang rinci jika kira2 permintaan client tersebut banyak maka sudah harus disiapkan oleh kita terlebih dahulu CMIIW

  • Adhi

    Saya juga mengalami kesulitan yang sama dalam menghadapi client Indonesia. Kebetulan bidang saya adalah automation dan robotics.

    Client lokal itu maunya banyak, tapi budgetnya kecil. Setelah diberitahu budgetnya, mereka mundur atau nawar.

    Ketika project berjalan pun, mereka masih sering menambahkan requirements seenak perut mereka. Bahkan ketika Validation dan training selesai, terkadang mereka masih sering minta kita datang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sering kali tidak berhubungan dengan sistem yang kita buat.

    Masalah lain lagi, infrastruktur pabrik di Indonesia buruk dan substandard, kemampuan operator pabrik buruk.

    So memang menghadapi client Indonesia = SUCKS.

    Ketegasan dan kontrak scope kerja yang jelas dan constraint teknis dan non teknis yang detail dengan didukung bagian legal harus diterapkan untuk menghadapi client Indonesia.

    Training dan sebagainya sangat tidak efektif menurut saya untuk client Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: