Tag

, ,

Begitu orang mengendarai motor atau mobil di jalan, maka muncul sifat aslinya. Kebanyakan muncul sifat egoisnya.

Dua hari yang lalu saya sedang parkir dan ada kendaran yang mau keluar dari tempat parkir. Dia harus memotong lalu lintas (jalan kecil) yang cukup padat. Susah. Pasti macet kalau tidak ada yang turun tangan. Saya putuskan untuk turun tangan menjadi tukang parkir. Dan ternyata ada satu tukang parkir yang ikut membantu.

Dua arah jalan kami stop dan kami minta kendaraan yang mau keluar ini mundur secara perlahan. Eh, di salah satu jalan yang sedang distop tukang parkir, ada kendaraan yang tidak mau sabar. Tidak mau memberikan kesempatan ke kendaran yang keluar. Dia buka jendelanya sambil klakson-klakson. Kelihatan seorang perempuan muda. Mahasiswi kayaknya. Sambil teriak dia bilang

“Eeee gua mau duluan lewat”.

Saya geleng-geleng kepala. Saya bilang, “sabar mbak”. Eh, dia malah tambah sewot. “Apaaa? Situ yang sabar”.

Geleng-geleng kepala saya makin kuat. Sedih juga. Masih muda sudah seperti itu. Bagaimana nanti kalau dia sudah semakin tua ya? Probably, she is senile. Kalau orang lain mungkin ditimpali itu si mbak. Saya sih males. Saya sih sudah sabar. Lah wong saya mau ikut bantu jadi tukang parkir. hi hi hi. Akhirnya kendaraan itu bisa keluar dari parkiran.

Sabar. Giliran (take turns). Berbagi. Itu kata-kata yang sudah tidak dikenal lagi dalam kamus kehidupan manusia Indonesia.

Ada perasaan sedih juga melihat bangsa Indonesia yang tidak semakin membaik tetapi semakin memburuk. Yang membuat saya sedih adalah generasi muda tidak semakin baik. Generasi saya sudah hopeless lah. Nah kalau generasi yang lebih muda malah lebih parah, gimana jadinya Indonesia? *sigh*

Karakter egois yang muncul di jalan nampaknya cerminan karakter bangsa kita saan ini.