Menolak Untuk Menjadi Bebek

Satu hal yang akhir-akhir ini banyak membuat saya jengkel adalah kebiasaan orang meneruskan (forward) berita-berita dari internet baik di milis maupun di media sosial. Biasanya hal ini ini dilakukan tanpa pikir panjang. Pokoknya forward. Mengenai beritanya benar atau tidak, baru atau basi, tidak peduli. Forward dulu, urusan belakangan.

Hal ini semakin diperparah dengan kemudahaan aplikasi / situs untuk melakukan forward. Tinggal tekan tombol atau linkshare“, maka tulisan langsung diteruskan. (Kadang malah dalam sebuah milis ada dua orang yang meneruskan berita yang sama.)

Akibat dari ini saya menjadi bosan karena di milis, di media sosial, situs web, topik yang dibahas juga sama semua. Itu lagi itu lagi. Kalau sekarang yang sedang ngetren misalnya “pengusiran orang cakep di Timur Tengah”, “dosen abal-abal”, apa lagi? Bosen. Mbok ya buat topik baru gitu.

Satu hal yang tidak terpikirkan oleh banyak orang adalah kebiasaan ini membuat kita tidak kreatif. Kita hanya bisa meneruskan, membebek, ngikut, alias tidak kreatif.

Saya menolak untuk menjadi bebek. he he he.

Iklan

11 pemikiran pada “Menolak Untuk Menjadi Bebek

  1. Kalau di dunia twitter, (mungkin) ini disebabkan akun yang di follow sama pak Budi, berada ‘dilingkaran’ yang sama. Coba deh di unfollow akun-akun yang biasanya membahas hal yang sama. Tidak masalah yang di unfollow itu akun teman atau keluarga. Toh di twitter hanya mengenal ‘following’ dan ‘follower’. Beda dengan Facebook.

    Malahan saya tidak mem-follow akun2 keluarga saya. Teman pun ada yang tidak saya follow padahal bisa dibilang dekat. Toh kalau ada berita, bisa ngobrol langsung dengan mereka.

    Kebanyakan yang saya follow orang yang tidak saya kenal. Ada orang amrik, jepang, korea. Ada jurnalis, pemilik media, seleb, programmer. Pokoke beraneka ragam deh.

    Intinya sih bukan bebek ngebebek tapi pinter-pinter aja ngefollow akun twitter.

  2. yang bikin lebih jengkel ada berita hoax diulang berkali-kali tanpa diperiksa dulu kebenarannya. jadi teringat lagu madonna, frozen, you only see what your eyes want to see … alih-alih jadi sarana untuk memperoleh beragam informasi, kecenderungan seseorang pada suatu berita membuat internet tetap homogen karena menutup diri terhadap verifikasi 😦

  3. Posting Pak Budi berhubungan dengan paper Merlyna Lim, 2013, “Many Clicks but Little Sticks: Social Media Activism in Indonesia”, Journal of Contemporary Asia, DOI:10.1080/00472336.2013.769386.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s