Kesabaran Dalam Menulis

Saya nampaknya termasuk orang yang kurang sabar dalam menulis. Yang saya maksud dengan kesabaran di sini adalah kedalaman ketika kita menjabarkan sebuah obyek. Sebagai contoh, ketika menceritakan sebuah pohon maka saya akan menulis pohon jambu yang berada di depan rumah saya. Titik. Begitu saja. Saya tidak punya cukup kesabaran untuk menceritakan lebih lanjut mengenai pohon tersebut; apakah dia banyak buahnya, sudah berapa lama pohon tersebut tumbuh, atau bahkan saya tidak cukup sabar untuk menjelaskan bahwa jambu yang saya maksud adalah jambu air bukan jambu bol. he he he. Akibatnya tulisan saya menjadi terlalu singkat. Plot saja.

Mungkin saya termasuk yang kurang suka dengan cerita yang terlalu berbunga-bunga. Saya lebih suka mendapatkan inti dari alur ceritanya kemudian mengembangkan sendiri cerita itu dalam kepala saya. Mengkhayal. Itulah sebabnya saya lebih suka cerita yang tidak terlalu menyuapi pembacanya dengan rincian. Berikan pembaca secukupnya dan biarkan mereka mengkhayal. Itu yang terbaik menurut saya.

Namun saya sadar bahwa yang terbaik menurut saya bukan berarti yang terbaik menurut banyak orang. Maka dari itu seharusnya saya belajar untuk lebih sabar dalam menulis. Harus berlatih. (Mencari latihan menulis.)

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

8 responses to “Kesabaran Dalam Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: