Tag

, ,

Kemarin saya ke bandara Hussein (Bandung) pagi hari sekali karena penerbangan saya dijadwalkan pukul 5:40. Menurut aturan, katanya, kita harus hadir 2 jam sebelum take off. Jadi seharusnya saya berada di bandara pukul 3:40. Maka saya pun berangkat pagi hari.

Sampai di bandara mungkin sekitar pukul 3:50. Eh, ternyata bandara masih tutup. Ampun deh. Sudah ada belasan orang yang menanti. Nampaknya mereka sama seperti saya tidak tahu bahwa pintu bandara dibuka pukul 4 pagi. Sekitar pukul 4-an (saya lupa mungkin lewat 5 atau 10 menit) pintu dibuka dan kami mulai check in ke counter penerbangan.

Setelah itu saya harus lewat imigrasi. Ternyata imigrasi masih tutup. Tanya-tanya, katanya imigrasi baru buka pukul 5. Wah, lantas saya sholat subuh di mana? Saya cari-cari tidak ada musholla. Tempat sholat adanya di dalam, setelah kita check in. Itu pun ukurannya kecil sekali. Akhirnya saya putuskan untuk keluar lagi karena saya tahu di luar ada musholla.

Ukuran musholla di luar pun sangat mini. Lebarnya hanya cukup untuk 3 sajadah. Ke belakang hanya cukup untuk 3 baris. Padahal baris yang paling belakang untuk perempuan. Jadi otomatis sekali sholat hanya bisa 6 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Ini untuk sekelas bandara lho.

Aneh sekali ya, untuk kota Bandung yang notabene penduduknya banyak Muslim-nya kenapa tempat sholat tidak pernah mendapat perhatian yang cukup ya? Selalu dianggap sebagai tempat yang terpinggirkan. Seakan dia diadakan hanya untuk ada-ada-an saja. Kebayang oleh saya kalau pas maghrib pas lebaran. Mau pada sholat di mana ya? Pengelola tempat sangat tidak peduli. Inilah Endonesha?