DSLR atau Handphone

Ini masih terkait dengan kebimbangan saya mau beli DSLR atau handphone yang memiliki kamera dengan kualitas bagus (seperti Samsung Galaxy S4). Saya mencoba membuat pro dan kontranya.

Keuntungan dari kamera handphone adalah kemana-mana dia kita bawa. Kita tidak perlu membuat persiapan khusus seperti halnya kalau kita mau membawa kamera DSLR. Tinggal kita kantongi, beres. Kata orang, the best camera is the one that you always carry. Handphone merupakan jawaban untuk hal ini.

Kamera handphone juga tidak terlalu intrusive. Misalnya kita berada di acara pernikahan dan ingin mengabadikan momen, maka kita tinggal rogoh kantong, ambil handphone, dan jepret. Kalau menggunakan kamera DSLR dari waktu datang kita sudah terlihat membawa tasnya. Nggak lucu kalau ke acara kawinan nenteng-nenteng kamera seperti itu. Kesannya seperti juru potret profesional saja. Kalau iya sih tidak apa-apa. Nah kebanyakan kita kan amatiran. he he he.

Membawa kamera DSLR juga repot. Kita harus melakukan pengawasan khusus. Tas kamera tidak bisa kita tinggal seenaknya. Kalau handphone, tinggal kita kantongi. Beres.

Kalau dahulu memang kualitas hasil jepretan kamera handphone sangat jauh lebih buruk dibandingkan DSLR, tetapi sekarang kamera seperti yang ada pada Samsung Galaxy S4 sudah hebat sekali.

Yang masih membuat saya condong kepada DSLR adalah kemudahannya untuk belajar manual dan juga pegangannya lebih mantap. Itu saja sih.

Jadi gimana ya?

Iklan

28 pemikiran pada “DSLR atau Handphone

  1. membaca tentang samsung s4 beberapa kali … tampaknya ingin sekali membeli. untungnya produk massal. dulu saya pernah ingin punya arloji. setelah pikir ulang beberapa kali dan kembali ke toko, arlojinya sudah tidak ada

  2. kalo sebatas upload gambar di blog,media social…mending hape, kalo urusan mengejar detail gambar,momen,speed pake DSLR atau mirroless yg lebih tipis

  3. Asik bisa komporin pak bud lagi…

    Saya sih tetap lebih suka memisahkan kedua jenis gadget. Telekomunikasi sendiri. Fotografi sendiri. Sama halnya dengan memisahkan antara asuransi & investasi. Kalau pak bud malas dengan keribetan menggunakan DSLR/mirrorless, mending beli kamera saku yang high-end.

    Saya suka Fuji X20 dan Sony R100. Keduanya memiliki sensor yang lumayan besar. Terus bukaan lensanya juga besar. Cocok tuh buat jepret pas acara pesta pernikahan (khususnya indoor). Tombol-tombolnya mirip lah dengan DSLR.

  4. yg merasa fotographer amatir dan gak ingin jadi profesional ya cukuplah kamera HP.

    πŸ™‚

  5. kurang mantap juga lho pak beli DSLR kalao lensanya bawaan/biasa. Jadi kalo pengin untuk asik2an ya kamera HP aja.

  6. Kalau suka bermain fokus, bukaan rana, dan kecepatan rana, DSLR cocok. Kalau senang motret yang jauh-jauh, seperti bulan, atlit berlari, burung terbang, dll, DSLR masih lebih baik daripada smartphone.
    Kalau cuma senang komposisi, kamera apapun, termasuk smartphone sudah cukup.

  7. hehehe.. dilema kita sama, pak. Saya pernah cerita di sini:
    http://juragansipil.wordpress.com/2012/12/09/foto-4-the-man-behind-the-gun/

    Tapi saya pegang prinsip, “the man behind the gun” aja.
    Selama masih puas memaksimalkan tool yang ada, saya belum mau pindah tangan. πŸ™‚

    Akhirnya saya beli prosumer, dan… jarang dipake πŸ˜€ Masih lebih suka pake smartphone.. bisa foto-foto di angkot, pasar, terminal, dan ruang publik lainnya dengan bebas. πŸ˜€ πŸ˜€

    *untung ngga beli DSLR*

    Skarang saya malah ngincar digital video camera yg bisa atur2 fokus secara manual. πŸ˜€ πŸ˜€ Lebih seru, pak.
    Biar bisa bikin film kayak Holiday-nya Mr.Bean… πŸ˜€ πŸ˜€

  8. Tergantung tujuannya pak, mau ngapain dulu. Kalau kita ambil foto kehidupan sehari-hari, hp yg canggih cukup. kalau mau mendalami fotografi memang perlu coba DSLR atau yg mirrorless (tapi lensa2nya gak kalah mahal utk skrg ini).

    Pengalaman sy terjun ke dunia fotografi, sekali masuk akan ada banyak yg perlu dibeli, istilahnya GAS, gadget acquisition syndrome. pertama kamera DSLR mid-level + kit, abis itu upgrade ke pro + lensa-lensa pro yg bikin kita puasa berbulan-bulan, mulai dari zoom kit garis merah utk canon atau emas utk nikon, ke lensa tele, abis itu lensa wide dan ultrawide, abis itu lensa macro dan fish eye. abis itu aksesoris (ext flash, tripod, peralatan studio, remote shutter release, intervalometer, tas bermerk), biaya2 hunting sana-sini, abis itu cobain berbagai aliran (model, landscape, macro, strobist, astro etc), abis itu tambah lagi aksesorisnya (filter2 spt ND, GND, CPL, efek), abis itu habiskan wkt di lightroom, camera raw, photoshop, abis itu sosial kita tambah group of friends dg komunitas fotografer yg gak kesulitan buang uang besar2an dan para model yg dg manja “mas, fotoin kita donk…”…abis itu kita baru mikir, apa sejauh ini pengorbanan materi dan pikiran yg telah kita curahkan worth it? stlh makan indomie sekitar 3 bulan terakhir dan tabungan 5 tahun belakang yg hampir habis, kita jadi lebih bijak dan filosofis dlm memandang dunia wkwkwk

  9. Tergantung tujuan dan ketebalan dompet pak… kalau hobi motret dan mau belajar, mengapa tidak? Oh iya, setelah saya punya DSLR standar, mau tambahan lagi seperti lensa, jika tak ada lensa tambahan berasa masih kurang pak…

  10. Saran saya, pakai saja Samsung Galaxy Camera, karena dia fokus di kamera, jadi fitur lebih condong ke kamera daripada handphone, bisa masuk kantong juga (kalau buat kondangan). Atau yg lebih kecil ada tuh Galaxy Zoom.

    Galaxy Camera juga ada fitur manualnya kok kalau mau buat belajar pakai manual, cocok buat yang sekedar hobi motret. Kalau DSLR terlalu serius dan bisa menyita waktu, mungkin dengan kesibukan seperti bapak gak bakal sering kepakai.

    Kalau penasaran dengan hasilnya, bisa tengok di blog saya : http://dipotret.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s