Kopi vs. Perut

Kemarin saya menghadapi sebuah dilema. Entah kenapa saya ngantuk luar biasa. Padahal ada makalah yang harus saya baca (review). Nampaknya saya butuh kopi untuk membuka mata, tapi saya khawatir perut iritasi. Akhirnya saya putuskan untuk minta dibuatkan kopi ke pak Parmis. Perlu untuk menghilangkan kantuk yang luar biasa.

IMG_1149 kopi 1000

Setelah satu cangkir. Masih ngantuk juga. Yaaah. Dan tentunya bacaan juga tidak berlanjut. Ini paper juga tidak kooperatif. Banyak yang harus dipikirkan dulu sebelum mengerti. Wah, apa mau nambah satu cangkir kopi lagi ya? Saya agak khawatir kalau kebanyakan kopi nantinya perut sakit. Ada sedikit maag. Saya putuskan tidak dulu. Masih belum produktif juga. Ah, pulang saja.

Sebelum pulang saya mampir dulu ke Kartika Sari untuk beli makanan. Hmm.. beli kopi juga ah. Nekad. Satu cangkir coffee latte masuk ke perut.

Sampai di rumah memang ngantuknya hilang tapi perut jadi sakit. Bahkan sampai malam perut menjadi super sakit. Akhirnya terpaksa nyari kunyit untuk menetralkan sakit perut ini. Lumayan juga. Hanya sayangnya makalah juga tidak dibaca. Yaaahhh …

Skor akhir, kopi (1) dan perut (0).

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

7 responses to “Kopi vs. Perut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: