Siklus Terbuka Kuliah

Salah satu masalah terbesar dari perkuliahan – menurut saya tentunya – adalah tidak adanya siklus tertutup (closed loop). Kebanyakan pengajar (guru, dosen) mempersiapkan bagian awalnya. Kuliah dimulai dengan baik. Bahkan sampai tengah-tengah perkuliahanpun masih baik. Asumsinya begitulah. Untuk sementara kita lupakan dosen yang mangkir. Nah, begitu sampai di akhir, mulailah muncul masalah.

Pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji atau diukur pemahamannya dengan ujian. Setelah ujian diperiksa, nilai diberikan. Setelah itu? Ya selesai. Ada mahasiswa yang lulus dan ada mahasiswa yang harus mengulang. Mungkin juga ada yang diberi kesempatan mengulang pada kesempatan yang sama, remedial.

Yang menjadi masalah di sini adalah tidak ada diskusi setelah akhir kuliah. Padahal mestinya ada fase mendiskusikan hasilnya. Melakukan evaluasi atas semuanya, dari sisi mahasiswa maupun dosen. Apakah materi sudah cukup baik atau relevan? Bagaimana cara menyampaikan materi tersebut? Dan seterusnya. Mahasiswa sudah tidak tertarik untuk mendiskusikan hasilnya karena sudah akan menghadapi kuliah baru. Demikian pula dosennya juga tidak tertarik untuk melakukan pembahasan karena toh kuliah sudah selesai. Repot-repot amat harus kerja tambahan.

Nah … tahun depannya kita menghadapi masalah yang sama.

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

8 responses to “Siklus Terbuka Kuliah

  • bali property

    ide yg menarik utk diterapkan. INSPIRATIF!

  • sitirobiah2013

    keren gan bisa di pelajari tuhh

  • yuti

    dulu ada default survey untuk evaluasi mata kuliah. kehadiran dosen, penyampaian dkk

  • Afief fathur

    Terima kasih infonya

    kunjungi juga ya info seru

  • chandra

    setuju, terlebih tak jarang soal yang diujikan secara tertulis tidak representatif dengan silabus, belum dosen yang longgar tak mengindahkan mahasiswa yang melakukan tindakan pencontekan

  • randy

    Saya rasa sudah umum di dunia training, bahwa di akhir training dilakukan evaluasi melalui kusioner yang disiapkan oleh vendor training dan diisi oleh peserta training. Hal yang sama saya pikir bisa diterapkan di kampus. Untuk proses belajar yang lebih baik dan feed back bagi dosen.

  • Adhi

    Pas saya kuliah dulu, salah satu dosen saya memberikan kuesioner di tengah masa kuliah, sekitar minggu ke 5 (dari 12 minggu per semester) yang isinya macem2 mulai dari materi, silabus, cara penyampaian kuliah, tugas, sampai kritik ke dosennya sendiri. Seminggu kemudian hasilnya udah direkap sama dosen dan disampaikan di kelas utk dibahas. jadi saat ada kritik membangun (dosen nya pun tidak marah saat dikritik bahkan dikritik bicaranya terlalu cepat dengan aksen yang agak susah dipahami). dosen dan mahasiswa masih punya waktu untuk perbaikan mengingat itu masih pertengahan masa kuliah.
    Sangat kagum dengan hal tersebut karena di kuliah2 lain sebelumnya belom pernah nemuin dan si dosen ini menurut saya salah satu dosen terbaik selama sekolah+kuliah baik tertibnya,silabusnya,maupun jelasnya saat mengajar.meski begitu masih terbuka untuk feedback…

  • Glutera

    Kalau pak Rahard ada di setiap kampus, pasti gak ada yg macem2 deh mahasiswa nya.. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: