Mencari Jalan Pintas

Entah karena saya yang bodoh atau mempercayai teori yang bodoh, saya percaya ada beberapa hal yang tidak dapat dilalui dengan jalan pintas. Ada banyak orang yang ingin menjadi jagoan di satu bidang tetapi tidak mau memberikan waktu – dan tentunya atensi – untuk menekuni bidang tersebut. Mereka mencari jalan pintas.

Meskipun saya melihat ini dominan di Indonesia, tapi saya yakin ini bukan monopoli orang Indonesia. Lihat saja ada banyak buku “how-to” yang durasi waktunya sangat singkat. “How to program this and that in 21 days or less”. Bagaimana bisa? Menjadi jagoan skateboard dalam waktu 3 hari.

Di bidang pendidikan, saya mencoba mengajari mahasiswa saya untuk belajar menulis. Kebanyakan tidak percaya. Mereka yakin bahwa menulis tugas akhir, atau thesis, atau disertasi, dapat dilakukan dalam waktu sekejap. Bagaimana mungkin? Apabila mereka tidak melatih menulis, bagaimana mereka dapat membuat tulisan yang baik? Ah, saya tahu. Mereka hanya ingin lulus saja. Tulisan secukupnya saja. Asal bisa melalui syarat administratif kelulusan saja.

Okelah. Mungkin mereka ada benarnya. Namun kemudian ide yang sama diterapkan di semua hal yang mereka lalui. Asal saja. Tapi mereka ingin mendapatkan hasil – baik itu berupa finasial atau ketenaran, fame and fortune – yang bukan asal-asalan. Bagaimana mungkin?

Saya, bodohnya, masih percaya bahwa untuk menguasai sesuatu secara mahir dibutuhkan 10.000 jam atau 10 tahun – atau ekivalennya. Nah …Β  Eh, tapi saya tidak sendirian. http://norvig.com/21-days.html

Iklan

20 pemikiran pada “Mencari Jalan Pintas

  1. 10 tahun itu kelamaan pak. 1-2 tahun asal tahu kaedahnya insyaAllah bisa. Apalagi kalau yg di pelajari adalah hal2 lahiriah, yg kelihatan mata dan bisa diukur. Yang lama ialah kalau yg dipelajari itu sifatnya ruhaniah/perasaan.. itu memang puluhan tahun

  2. setuju, Pak.. saya selalu percaya semua yang dilalui dengan proses yang lebih panjang itu pasti hasilnya lebih “nampol” daripada yang cuma lewat jalan pintas.

    ngomong2 dulu saya kerjain TA-nya juga ngebut sih πŸ˜› tapi terinspirasi dari pak Budi, udah latihan dulu nulis di blog dari tingkat 1 (meski isi blog-nya ga mutu)

  3. Saya percaya kalau “learning the ropes” itu butuh tahunan, minimal 3 tahun atau 10 000 jam.

    Tapi kalau sudah pada level tertentu, sebenarnya tidak perlu segitunya.

    Contoh saya sebagai Strategic technology director, sudah kenyang sebagai developer/engineer bertahun-tahun, sekarang hanya butuh buku-buku “in 21 days” untuk mengerti inti dari suatu teknologi atau metodologi. Tidak perlu tahu terlalu dalam, yang penting bisa memanage, mempresentasikan dan menjual proyek-proyek teknologi.

    Saya berhutang pada pembuat buku-buku HowTo tersebut, sehingga mengerti banyak teknologi software dan komputer terbaru, juga kaitannya dengan keuangan, Law, bisnis dan investasi tanpa perlu Doktor dalam bidang ilmu komputer dan/atau MBA, MM, MH dan sebagainya..

    Dan berkat buku-buku Howto tersebut, saya bisa nyambung ngobrol sama siapapun, apapun latar belakangnya, mulai software developer hingga investment banker.

    Apalah seorang PhD atau prof computer science yang menekuni Pushdown Automata bertahun-tahun dari buku-buku text dan journal-journal terkemuka bisa memiliki wawasan generalist yang sama dan bisa menangani project technology multimillion dollar ? I seriously DOUBT IT.

  4. Menurut saya sih semuanya tergantung dengan situasi dan kebutuhan masing-masing. Misalnya saja keahlian yang diinginkan hanya sekedar untuk lulus dalam thesis atau skripsi tentu dapat dipelajari dengan singkat. Tentu berbeda dengan orang yang ingin benar-benar ahli dalam bidang tulis menulis, tentunya ada waktu dan proses yang harus dilewati. Salam kenal dan terima kasih.

  5. Saya setuju dengan pendapat mas @oris,
    kemampuan menulis memang penting, tetapi jika terus fokus kesitu, trus masalah mengasah skill di engineeringnya jadi kekurangan waktu. Lebih tepatnya sih, waktu yang dibutuhkan jadi expert di field kita itu jadi butuh lama kalau terlalu multi-skill dan mungkin keburu disalip sama yang lebih berstrategi πŸ˜€

  6. Pada akhirnya yang percaya ada jalan pintas itu akan murtad. Saya contohnya πŸ˜€
    Untungnya, karena nanggung dan sayang ditinggalkan jadi terus belajar untuk bisa menguasainya. Saya alami ini di dua keterampilan, programming dan menulis fiksi.

  7. Saya merasa senang setiap kali membaca tulisan yang merujuk ke Peter Norvig ini.
    Perlu diingat bahwa angka 10 tahun itu hasil penelitian dari setidaknya 4 penelitian berbeda (Bloom (1985), Bryan & Harter (1899), Hayes (1989), Simmon & Chase (1973).
    Sedang penelitian Malcolm Gladwell menjelaskan bahwa latihan 10.000 jam menghasilkan Elite Performer, latihan 8.000 jam menghasilkan Good Performer, sedang latihan 4.000 jam menghasilkan Teacher.
    Kalau latihan full-time (40 jam sepekan), artinya 10.000 jam = 4.1 tahun, 8.000 jam = 3.3 tahun, 4.000 jam = 1.7 tahun.
    Kalau latihan part-time (kurang dari 40 jam sepekan), ya tinggal kalikan secara proporsional.

  8. Penelitian Malcolm Gladwell menjelaskan latihan 4.000 jam menghasilkan kelas Teacher. Berarti latihan baru kurang dari 4.000 jam bukan tidak menghasilkan apa-apa, hanya belum layak menjadi Teacher. Analoginya. 2.000 jam mungkin baru Intermediate Performer, 1.000 jam baru Basic Performer.

  9. Di sisi lain, yang dikatakan Adhi juga ada benarnya.
    Ketika orang sudah menguasai satu cabang, maka dia tidak perlu 1.000 jam untuk jadi Basic Performer di cabang lain, karena ada sekian jam latihan yang dia tidak perlu ulang.
    Misal dia sudah mahir di C++, untuk jadi Basic Performer di Java mungkin cukup 500 jam atau kurang, karena seperti algoritma & design pattern misalnya, dia bisa reuse dari C++.

    Apalagi kalau tidak bermaksud jadi Performer (misal buat manajer atau Strategic technology director seperti Adhi), targetnya hanya sekedar “Understand”, mungkin 100 – 200 jam juga cukup. Di sini buku “in 21 days” jadi menemukan tempatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s