Complacency: Terlena Oleh Kepuasan

Saya melihat banyak orang di sekitar saya yang terlena oleh kepuasan. (Saya masih bingung mencari terjemahan yang paling pas dari kata “complacency“.) Banyak orang yang merasa telah pandai dan kemudian berhenti atau tidak mau belajar. Padahal belajar itu waktunya adalah seumur hidup. Yang juga membuat sedih adalah yang terlena ini juga bukan hanya orang yang sudah berumur, tetapi juga anak-anak muda.

Semakin saya mengetahui sesuatu semakin saya sadar ada banyak lagi yang tidak saya ketahui. Semakin banyak hal yang harus dipelajari lagi. Aku ingin terus belajar. Terus. Terus …

Iklan

6 pemikiran pada “Complacency: Terlena Oleh Kepuasan

  1. Salam Pak Budi.
    Kalau sudah di zona nyaman rasanya memang enak untuk berleyeh-leyeh dan bersantai. Ketika sudah berada di puncak bukit, rasanya memang malas betul untuk turun lagi dan mulai mendaki gunung yang lebih tinggi.
    Yah, sayang sekali. Mungkin karena itulah tak banyak orang yang sampai di puncak gunung Everest atau posisi puncak lainnya.

    Terima kasih buat tulisan yang mencerahkan.
    Salam,

    R.Mailindra
    http://mailindra.cerbung.com

  2. setuju pak. tapi makin tua katanya makin malas belajar karena otak kita udah mulai pikun. blm lagi kalo kita udah merried (usia 25-35) pasti sibuk sama pekerjaan dan urus anak. Tapi terlena yg berbahaya adalah terlena kekayaan. Orang tua kaya anaknya tinggal menikmati tanpa kerja keras. Alhasil muncul anak2 muda yg manja dan mudah di kibulin sama orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s