Teknis atau non-Teknis ya?

Baru saja saya membaca sebuah blog (lupa URL-nya) tentang keluhan seorang entrepreneur di Singapura. Intinya dia mengeluhkan soal susahnya memiliki talented engineering pool di Singapura. Perusahaan startup yang bernunansa teknologi membutuhkan engineers untuk mengimplementasikan ide-idenya. Namun ternyata susah mencari engineers ini.

Ada banyak alasan terjadinya masalah ini. Engineers yang bagus ditawari pekerjaan di Amerika dengan gaji yang lebih tinggi. Minggatlah mereka. Mengimpor engineers dari luar negeri juga harus memenuhi persyaratan gaji minimal (yang ditentukan oleh negara), yang mana biasanya terlalu mahal untuk kantong startup. Selain itu juga para engineers ini ditawari untuk menempati jabatan managerial, yang gajinya juga ternyata lebih tinggi dari gaji engineer. Lengkaplah penderitaan ini.

Saya hanya ingin menyoroti hal yang terakhir saja. Peta perjalanan karir orang teknis ternyata tidak terlalu cerah dibandingkan orang non-teknis. Cerah ini didefinisikan dengan kacamata finansial. Jarang ditemui engineers yang gajinya lebih tinggi atau sama-lah dengan bos-nya yang non-teknis. (Mungkin di Amerika sana bisa berbeda, tetapi ini kenyataan di Indonesia dan kelihatannya di Asia.)

Sedih juga kalau orang-orang yang otaknya cemerlang kemudian meninggalkan bidang teknis. Tapi alasan apa yang dapat mereka gunakan untuk tetap tinggal di teknis? Demikian pula, apa alasan saya untuk tetap mengajari mahasiswa saya tentang hal-hal yang teknis kalau nantinya juga akan ditinggalkan?

Saya sendiri ingin selalu menghargai orang teknis. Bahkan secara finansial mereka bisa lebih tinggi daripada orang teknis. Begitu …  Saya sendiri akan tetap tinggal di dunia teknis.

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

10 responses to “Teknis atau non-Teknis ya?

  • ikhwanalim

    hhmmm.. bukannya dalam bisnis, perspektifnya adalah mereka yg mampu meningkatkan omzet, maka selayaknya mendapat bayaran lebih dibanding yg lain ya pak?😀

    mungkin kita jadi sependapat klo engineer juga jadi salesman kali ya pak. nama posisinya “sales engineer”🙂

  • sigitp

    Disini, orang teknik bisa menduduki level sama dengan VP.
    Principal Consultant contohnya…sama posisi dan benefitnya dengan VP.

    Hanya saja selain harus khatam di teknikal, business & communication juga harus excellent🙂

    kebetulan saya sekarang Solution Architect, bulan depan mulai role baru sebagai Business Consultant. Artinya kemampuan teknikal masih akan terus diasah, hanya mulai berkecimpung dengan lebih banyak business & communication challenge untuk mendapatkan revenue dari teknologi yang masih di awang awang😀

    Tapi benar Pak Budi, kalau di Indonesia, belum bisa orang teknikal menduduki posisi sama dengan VP, posisi tinggi di Indonesia masih diduduki orang Sales😉

  • Dana Asmara

    Apakah ini berlaku untuk semua bidang industri, Pak?

  • Emanuel Setio Dewo

    Hiks, kenyataannya memang begitu. Seperti halnya peneliti vs birokrat.

  • inezrabz

    di Indonesia memang agak ketinggalan urusan menghargai orang teknis. saya sendiri sebetulnya lulusan teknik (mantan mahasiswi pak Budi juga.. hehe) dan senang dengan hal-hal berbau teknik, tapi karena sepertinya kurang dihargai (dari sisi finansial dan moral) akhirnya sekarang kerjanya jadi nonteknis juga. hehe..

  • AGM

    Saya juga sependapat pak. Jangankan di Indonesia, di Singapore saja sulit untuk mendapatkan engineer yang bagus. Masalahnya ada dua :
    1. Seorang Engineer kalau mau tetap jadi Engineer dan dihargai, dia lebih baik bekerja di Amerika/Eropa/Korea/Jepang atau ambil PhD kemudian bekerja disana.

    2. Kalau Engineer tersebut mau tetap di Indonesia dan ingin dihargai secara karir dan finansial, maka dia harus pindah bidang ke Sales, Finance atau Operation.

    Perusahaan saya bekerja (perusahaan asing) sebenarnya sangat menghargai engineer. Kami memberikan insentif yang tinggi kepada engineer. Tapi kebanyakan engineer kami keluar dan bekerja di Amerika/Eropa. Tentu kami tidak bisa berbuat apa-apa, Disana tentu jauh lebih memuaskan dari sisi gaji dan fasilitas.

  • erika drink

    mending bisnis om. jualan online….hehehe lebih leluasa mengatur waktu kita dan kita sendiri yg mengatur bukan orang lain. Kalo kita udah punya usaha mau ketemu pengusaha lain kita bisa bilang “sibuk tdk bisa ketemuan” tapi kalo kita karyawan mau kita lagi sibuk atau tdk tetap di atur sama perusahaan waktu kita.

  • anonim

    saya jadi ingat komentar seseorang dari area bisnis-manajemen kalau ditanya tentang orang yang mengambil pedidikan teknik. Komentarnya kira-kira begini: “buat apa belajar yg susah-njelimet kalo pada akhirnya gue akan jadi bos lo dengan gaji yang jelas lebih tinggi?”. Pada akhirnya karena kenyataan sekarang memang begitu, saya hanya bisa tersenyum saja.

  • Marhamah

    erm harga orang2 teknis makin merosot ya. Jangan sampai merosot harga diri disebabkan finansial. Dalam hal ini yang boleh dipersalahkan adalah Pemerintah yang sudah terbiasa untuk membagi kerja atau menender kerja-kerja awam kepada pihak yang jauh lebih murah dan tidak kisah soal mutunya. Lihat saja sekeliling kita. Gimana? anda perasan sesuatu?

  • Menjadi Orang Teknis atau Sosial? | A startup kid

    […] geek ini berseteru dengan pekerja sosial (non-geek), mulai dari siapa yang lebih dominan hingga soal jenjang karir dan upah kerja. Atas dasar permasalahan tersebut, melalui tulisan ini aku mencoba berpendapat menanggapi hal […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: