Perlukah Memahami (World) Pop Culture?

Ketika berdiskusi tentang sebuah topik (terkait dengan teknologi), saya menceritakan tentang latar belakangnya. Ada yang berlatar belakang karya George Orwell, 1984. Ada juga yang terkait dengan lawakan dari Monty Python. Ketika saya bercerita seperti itu, pendengarnya terlihat bengong. Nampaknya mereka tidak tahu referensi-referensi yang saya gunakan tersebut. Saya kemudian menjadi bertanya-tanya.

Nampaknya ada banyak hal yang sangat terkait dengan pop culture dari Barat sana, yang tidak kita pelajari (ketahui) di Indonesia ini. Memang sistem pendidikan di Indonesia hanya menekankan masalah ke-Indonesia-an saja dan inipun saya lihat sudah berkurang. Pendidikan kita hanya menekankan kepada aspek teknis materi saja, misalnya kali-bagi tambah-kurang. Porsi untuk liberal arts, sejarah, dan non eksakta kecil sekali. Akibatnya kita menjadi seperti katak dalam tempurung.

Di luar negeri ada tugas membaca yang melibatkan karya-karya yang dianggap penting dan membentuk kultur. Di kita, jangankan membaca karya-karya seperti itu, membaca saja mungkin tidak diwajibkan. Akibatnya kita hanya mengetahui apa-apa yang ada seputar kita saja.

Adanya internet, yang menghilangkan batas-batas fisik dunia, tadinya saya kira akan membuat kultur dunia menjadi satu.  Tadinya saya kira manusia di Indonesia dapat memantau apa yang terjadi di belahan dunia lainnya, tetapi ternyata manusia di Indonesia lebih tertarik untuk mengamati apa yang terjadi di Indonesia *saja*. Masuk akal untuk memahami Indonesia, tetapi kalau “saja” itu yang tidak saya duga sebelumnya. Kultur ternyata tetap lokal.

Mungkin ini ada kaitannya dengan media massa Indonesia yang mengambil arah seperti ini? Media massa memang (tetap) mendominasi kehidupan kita dan membentuk kultur kita. Ini merupakan topik bahasan terpisah – dan merupakan alasan mengapa blog saya memilih untuk tidak mengikuti “mainstream“.

Pertanyaannya, apakah perlu kita pahami – atau sekedar tahu saja – pop culture? Jika iya, maka bagaimana belajarnya ya?

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

8 responses to “Perlukah Memahami (World) Pop Culture?

  • estananto

    Keterlaluan kalau ada yang tidak mengerti karya Orwell 1984 itu😦
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

  • semarismaya

    kuncinya ya seperti yang dikatakan oleh Bapak Suherman dalam buku beliau yang berjudul “Bacalah!”: banyak membaca, Pak.😀

  • Zaharudin

    Saya setuju kalo media massa memang cukup berperan dalam hal ini. Juga ihwal pendidikan, saya pikir masih banyak para pemberi pendidikan yang belum menyadari hal seperti ini, akibatnya banyak sekolah/kampus yang mendesain dan mencetak pelajarnya menjadi intelektual yg kaku

  • Emanuel Setio Dewo

    Mengetahui banyak hal, terutama yg populer memang penting. Namun seringkali kapasitas kita tidak mampu. Kapasitas kita bisa dibaca sebagai tingkat pemahaman, waktu yg kurang, banyaknya masalah lain yg dihadapi individu, dll.

    Tentu saja hal ini jadi mengerucut ke: minat.

  • yuti

    saya pernah diskusi dengan teman saya yang dari negara kolonial Inggris, di negara dia bacaan klasik seperti shakespeare dkk merupakan bacaan wajib. kemudian setelah saya cerita kalau bacaan klasik saya ketika SMP menggunakan literatur Indonesia, dia komentar, wah kamu maju sekali karena tidak merujuk ke luar. tapi mungkin salah asuhan atau siti nurbaya bukan bacaan wajib lagi (saya juga dulu kayanya tidak tamat membacanya).

    pertanyaannya mungkin pop culture seperti apa yang perlu? kalau zaman saya yang disebut pop culture ya backstreet boys, NKOTB, take that😀

  • Putu Leonk

    Budaya kita aja jarang dimengerti pak, apalagi budaya orang, kesadaran membaca kita terlalu rendah, sehingga kita kurang pop culture dari negara lainnya….

  • zainalarif

    Penting, belajar budaya lain, termasuk pop culture. Sebetulnya sudah ada medianya melalui pelajaran sejarah itu. Tinggal tambahin saja materi sejarah dr luar juga. Yang jarang ditemukan adalah guru sejarah yang baik. Guru yang menekankan pentingnya apa yang bisa kita pelajari dr sejarah yg terjadi. Bukan hanya timeline, tanggal kejadian, peristiwanya saja. Biar kita tidak mengulangi kesalahan, bahkan berinovasi dr latar belakang sejarah tadi. IMHO..

  • Mutia Ohorella

    Apa karna disini para pelajar terlalu banyak materi yang harus dikuasai ?Pelajar SMA bisa sampai 20 mata pelajaran,belum lagi Sekolah Aliyah,umum dan agama harus dikuasai.Bagus sih….tapi lama-lama kegiatan membaca jadi suatu “keharusan”,tidak enjoy lagi…
    Seandainya mata pelajaran sudah fokus sesuai minat bakat, mereka jg diberi tugas dengan referensi bacaan dari luar sesuai dengan ilmu yg tengah dia pelajari (seperti yang Bapak lakukan) ,pasti tergugah bahkan ketagihan….”Mau karna Suka”…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: