Pengemis Kok Diiri

Akhir-akhir ini ada banyak pembahasan tentang pengemis, khususnya di Bandung. Memang baru-baru ini ada kejadian yang lucu. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, berdiskusi dengan para pengemis dan para pengemis ini minta digaji sekian juta untuk tidak mengemis di jalan. Aneh sekali memang.

Kemudian mulailah orang melakukan investigasi, berapa sebetulnya penghasilan seorang pengemis. Maka terkejutlah orang-orang ini ketika mengetahui pendapatan pengemis yang bisa berjuta-juta. Maka orang-orang mulai beteriak-teriak untuk tidak memberi uang kepada pengemis.

“Gila. Pendapatan mereka dua hari bisa sejuta rupiah. Jangan kasih mereka uang!”

Begitulah yang saya dengar. Saya coba tantang pernyataan ini dengan berkata “kenapa tidak boleh memberi mereka uang?” Jawabannya seringkali adalah karena mereka akan tetap malas. Saya tantang lagi, “lantas kenapa? kan mereka gak jahat?” Mulailah bingung. hi hi hi.

Mereka yang berteriak-teriak ini memang dari dulu sudah tidak memberi uang kepada pengemis, tetapi kesannya seperti mereka dulu memberi sekarang mau berhenti memberi. Padahal dari dulu juga mereka tidak memberi uang kepada pengemis.

Selalu yang dipermasalahkan adalah soal uang. Mereka, para pengemis yang malas ini, mendapatkan lebih banyak uang daripada kita-kita yang bekerja keras. Seolah-olah iri. Lah, kok pengemis diiri? Alasannya adalah mereka pemalas dan hanya mau mendapatkan uang dengan cara bermalas-malasan. Atas dasar inilah maka kita dilarang untuk memberi uang kepada pengemis. Padahal, ada pekerjaan lain yang mirip juga. Lihatlah “tidak perlu saya sebutkan instansinya’ yang kerjanya hanya duduk-duduk – bahkan tertidur – di ruang rapat dan kemudian digaji belasan bahkan puluhan juta rupiah. Apa pekerjaan mereka juga seharusnya dilarang? Mungkin bagus juga ya kalau mereka dibubarkan? hi hi hi.

Jangan salah. Saya juga tidak setuju dengan “pekerjaan” pengemis. Namun ketidaksetujuan saya bukan karena mereka mendapatkan lebih banyak uang tetapi ada kekhawatiran soal keselamatan dan kesehatan. Pasalnya, pengemis dapat dijadikan sebagai kedok untuk melakukan kejahatan seperti penodongan. Demikian pula para pengemis ini, yang banyak masih muda-muda, akan bermasalah dengan kesehatan mereka karena mengirup asap kendaraan, kehujanan, keanginan, debu, dan diserempet kendaraan. Ada banyak masalah di sini, tetapi … tidak perlu pengemis ini diiri. Memangnya Anda mau jadi pengemis?

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

15 responses to “Pengemis Kok Diiri

  • Mainan Edukasi

    Kalau menurut saya, Agan2 yang ingin berderma lebih bijak menyalurkan infak sodaqoh, zakat melalui badan pengelola yang amanah dan sudah terbukti. insya Alloh semoga berkah, dengan demikian sudah ikut berusaha mengurangi laju pertambahan orang untuk turun ke jalan meminta-minta (semakin besar pendapatan peminta2 dijalan dan semakin luas informasinya akan memikat yang lain utk turun kejalan meminta2 pula). marilah kita sayangi mereka yang bener2 fakir dan miskin jangan sampai turun ke jalan, dengan bersedekah dan zakat kita jangan sampai mereka minta hak mereka yang ada pada harta kita.

  • Budi Rahardjo

    bagaimana kalau agan2 yang memberi pengemis itu sudah berderma via infaq, sodaqoh, dll.?
    bagaimana kalau agan2 yang tidak memberi pengemis itu berdalih memberi infaq, sodaqoh, dll. tetapi pada kenyataannya *tidak* juga?

  • Gusti 'ajo' Ramli

    keikhlasan kita betul-betul teruji dengan mengetahui berapa penghasilan pengemis….

  • Purayogo

    Bukan iri sama pengemis nya sih, Pak.. Dari dulu juga saya lebih memilih sedekah ke masjid, dan itu dilakukan, bukan hanya sekedar wacana. Saya khawatir, kalau pengemis ini dibiarkan, kita sama saja membiarkan saudara kita (mungkin pengemis itu muslim) untuk meminta-minta. Padahal Rasulullah saw sendiri mengisyaratkan bahwa orang yang bekerja membelah kayu bakar lebih baik daripada orang yang meminta-minta. Memang sy gak bisa memberi mereka pekerjaan.

    Mengenai pertanyaan Bapak “kenapa tidak boleh memberi mereka uang?” Jawabannya seringkali adalah karena mereka akan tetap malas. Saya tantang lagi, “lantas kenapa? kan mereka gak jahat?” Ya memang mereka gak jahat, tapi dengan hidup di lingkungan yang keras spt itu, mereka bisa jadi terpengaruh buruk. Dan kita gak mau kan para pengemis jadi punya mindset hidup dari belas kasihan terus?

    Kalau pengemis ini dibiarkan, berarti kita membiarkan saudara kita dong (yang muslim) utk meminta-minta? Salah satu dari banyak jalannya kan dengan tidak memberi mereka. Tapi, dengan catatan bahwa mereka kita anggap bisa bekerja dengan tidak meminta krn fisiknya masih sehat bugar. Nah, kalo misal ada pengemis yg tua renta, atau punya keterbatasan fisik, ya beda lagi treatment nya. Ini menurut saya loh Pak..

    IMHO

  • devino

    Buat saya mau kasih pengemis atau tidak, hal tersebut adalah pilihan. Dengan adanya informasi yang terbuka saat ini kita bisa menilai pengemis-pengemis tersebut dan apa akibatnya apabila kita terus memberinya. Apabila penghasilan pengemis tinggi maka makin banyak populasi pengemis karena mereka akan mengajak saudara-saudara mereka dari daerah. Jadilah kota menjadi penuh dengan pengemis, apakah kita menginginkan hal tersebut? saya rasa tidak.

    saya pernah memberi pengemis uang, dan pengemisnya malah tersenyum kecut karena dirasa terlalu sedikit😦

  • akhtyofarm

    sebenarnya kalau mau ngasih sedekah gak usah mikir2, semakin dipikir2 maka semakin tergeruslah keikhlasannya, apalagi sampai dibahas 2 SKS. sedekah itu kan seperti BAB, lega setelah dikeluarkan dan tidak ada pembahasan serius setelahnya..🙂

  • cisdemul

    saya setuju sekali pengemis nggak perlu diiri, setuju juga kalo mau memberi ya ikhlas saja nggak usah mikir macem2, capek deh… kalo kita memberi pengemis yang katanya kaya-kaya, khan malah hebat to, kita memberi kepada orang-orang yang lebih mampu, hehehe… apapun yang kita berikan semuanya khan milik Alloh, kita ini cuma agen/distributor-Nya.
    saya mikir gini, dalam dunia pengemis ini apakah hukumnya “siapa yang bermalas-malasan akan mendapat penghasilan yang buanyak?”, jadinya merubah paradigma siapa yang bekerja keras, dia yang akan mendapat penghasilan buanyak… ataukah pengemis memang bekerja keras?

  • Andi

    Menurut saya, at the first place memberi orang di jalan (pengemis/tukang cuci kaca mobil, pengamen) adalah perbuatan salah!. Dari sisi akhirat tidak dianggap shodaqoh (ada banyak penjelasan soal ini, googling saja), dari sisi dunia bukan perbuatan sosial (ada banyak peraturan/perda yang melarang, sekali lagi googling saja). Apalagi sekarang terbukti bahwa para pengemis itu bukan golongan yang layak di tolong, berarti dua kali kita bego, melakukan perbuatan salah dan ditipu. Ibarat mendukung orang yang keliatan baik, ternyata orang tersebut koruptor. merasa ketipu gak?🙂.

    Eh tapi ngomong2, ditulisan Pak Budi kan tidak jelas, apakah Pak Budi ini termasuk donator tetap pengemis di jalan atau bukan? Sebetulnya belakangan orang marah bukan karena iri pada pengemis (tidak masuk logika mengatakan orang iri pada pengemis), kita marah karena kita merasa selama ini telah ditipu, kita menjadi korban penipuan. Yang dimaksud kita adalah sebagai satu masyarakat, yaitu ada yang sering memberi pengemis (seperti pak budi), ataupun sebagian besar kita yang memilih tidak memberi pengemis di jalan. Sama seperti ketika kita mendengar berita penumpang metromini disiram air keras, kita semua marah, baik penumpang metromini maupun orang yang tidak pernah naik metromini. Itulah masyarat, mempunyai keterikatan pada nilai-nilai kebaikan.

  • Zaharudin

    menanggapi komentar saja🙂
    ini bukan soal sederhana loh, selevel walikota saja belum tentu bisa menyelesaikan ini.
    mungkin tidak semua pengemis diurus/terjangkau oleh tangan negara atau instansi atau yayasan, so kalo semua orang memlilih sedekah via lembaga sedekah saja, kasihan sekali pengemis yg betul2 menderita. tidak semua pengemis itu penipu loh.. mari berhusnudzan. memberi pengemis yg jelas2 pura2 saja pahala kita diperhitungkan loh, tak semua hal bisa kita tanya mbah google, si mbah google bukan kiyai loh hati2..😉
    kalo ngaku ga iri, kenapa mindset berubah: jadi lebih sinis sama pengemis?
    kalo memang ikhlas, tak usahlah merasa ditipu. bukan begitu kang akhtyofarm?

  • Emanuel Setio Dewo

    Ayo tetap memberi… (kepada siapa pun yg membutuhkannya)

  • Mutia Ohorella

    Mereka ada yang jahat pak….mengawasi dari jauh anak2nya yang umur 5 dan 6 tahun kedinginan di jalan,Kaki2 kecilnya harus turun naik tangga angkot yang licin.

    Saya lebih prihatin kpd pedagang asongan,kerupuk, buah2n dlm plastik, ber-panas2 di lampu merah berusaha dengan tenaga dan kesabaran. Banyak anak2 mereka yg semangat belajar namun kurang dana.

    Infak hendaknya dikelola agar ada pemerataan pembagian, Tp masalahnya Badan infaq yang diharap bisa mengatur penyaluran blm bisa meyakinkan banyak orang. Sayapun pernah berbenturan dengan aturan main mereka.
    Saya penampung dana dari kelompok pengajian,pernah minta Bazis menyalurkannya ke wilayah yang kami tunjuk krn kami tau persis mrk susah,tapi pihak Bazis tidak menyetujui…Mereka punya program sendiri.
    Akhirnya banyak pecahan pengurus Bazis tidak resmi yang malah jadi tak terarah.

    ‘Kalau bisa bersatu dalam berinfak dan terorganisir dg baik,, ,insya Allah bikin hati berani untuk mengatakan TIDAK pada pengemis.

    Wallhu a’lam…

  • Muhammad Bakri

    Masalah pengemis terjadi karena negara tidak peduli dengan orang miskin. Saya sendiri tidak pernah sepakat dengan kegiatan mengemis. Bukan berarti kita harus memusuhi mereka. Pengemis itu sindikat seperti yang terjadi di sekitar rumah saya. Ada yang mencoba mengeksploitasi empati orang lain untuk meraup keuntungan. Aktivitas mengemis itu hanya akibat. Agama saja mengajarkan kalau gak mau ngasi pengemis, jangan menghardiknya. Mengemis itu dilarang oleh agama. Permasalahannya emang mereka yang mengemis mengerti agama? Pendidikan formal saja mereka gak bisa akses. So premisnya itu karena negara kita gak peduli, akibat dari kita yang apatis pada urusan lingkungan dan kemasyarakatan.

  • Barcode Makes IT Simple

    Setuju Mas…..Tangan diatas lebih baik drpd tangan dibawah,memberi jauh lebih baik dari meminta,Bekerja keras termasuk ibadah dan diperintahkan dalam Agama,Bahkan Agama pun mengajarkan orang harus hidup mandiri tidak bergantung pada org lain bahkan di muliakan orang yg bisa memandirikan orang lain.Bagaimanapun harta yg kita berikan kpd siapapun akan bernilai baik pada diri kita walaupun bisa sebaliknya semisal kepada pengemis yg hanya krn mereka malas bekerja,masih muda dan jadi kedok belaka,Saatnya seluruh masyrakat dan pemerintah bagaimana mengelola pengemis2 ini dijadikan warga yg mandiri lewat lembaga2/wadah ketrampilan dan bimbingan mental agar mereka Malu mengemis sementara sanggup untuk bekerja.

  • yon

    makasih pak rahard karena sudah memberi sudut pandang lain,
    keamanan (kemungkinan penyamaran) dan keselamatan mereka memang jarang kita pertimbangkan. kita malah seru membahas angka-angka.

    PR kita adalah bagaimana cara membuat mereka sadar bahwa mengemis bukanlah hal yang baik. sehingga mereka akan dengan sendirinya meninggalkan kegiatan mengemis itu.

    hmmm,,, mari berpikir bersama,,,

  • agung rifna ajie

    Menurut survei dr buku henslin d amerika, anggapan bhwa pengemis malas sbenarnya tdk tepat, hanya 20 persen yg mampu kerja, sisanya anak2 yatim dan tdk mampu, perempuan dgn byk tanggungan, lansia atau jompo, artinya jangan anggap semua pengemis malas, sebagian bsr sebenarnya tidak mampu utk bekerja karena suatu kondisi.. d indonesha pun sm, pemerintah sya rasa harus fokus pd perbaikan sarana utk mereka bukan malah condong pada asumsi tdk jelas datanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: