Sulitnya Mendapatkan Pelanggan

Salah satu masalah dalam mengembangkan sebuah produk baru adalah mendapatkan pelanggan. Kita boleh saja memiliki produk yang bagus – atau setidaknya setara dengan kompetitor – tetapi tetap saja sulit untuk mendapatkan pelanggan.

Sebagai contoh, saat ini ada beberapa rekan yang sedang mengembangkan Zohib.com; situs sosial yang mirip dengan facebook dan twitter. Salah satu keuntungan dari zohib adalah lokasinya yang di Indonesia sehingga semestinya lebih lancar aksesnya (dan di belakang layar, penggunaan bandwidth semestinya menjadi lebih murah).

Setelah cukup stabil sistem ini beroperasi, saya belum melihat banyak penggunanya. Memang belum ada upaya promosi yang besar-besaran, tetapi seharusnya tetap ada pertambahan pelanggan. Saat ini nampaknya agak lambat. Memang sangat susah untuk memindahkan pelanggan dari satu tempat ke tempat lain, yang sudah terlanjur pakai facebook dan twitter misalnya.

Di sisi lain, lebih enak ada sistem yang kecil-kecilan saja. Jadi kayak punya situs pribadi. hi hi hi.

Iklan

10 pemikiran pada “Sulitnya Mendapatkan Pelanggan

  1. Ibarat di sebelah rumah ada warung kelontong baru buka, tetapi beli-beli tetep aja di alfamart.

    Nelpon temen “eh sebelah gw ada warung baru buka, nongkron di sini yuk”, temennya njawab “di sini aja di 7 eleven”

    Pertanyaannya adalah why?

  2. strategi marketing dan kenyamanan user juga harusnya diperhatikan pak.. saya juga prnah coba2 buat social media seperti facebok tapi konsepnya lebih mirip G+ di gabungin ma twitter sih tapi cuman bertahan setahun pass domain habis juga karena kurangnya peminat.. mungkin kita butuh sesuatu yang lebih mudah di akses dan di gunakan pak 😀

  3. Menurut saya, agar sukses membuat dan menjual produk, strategi marketing harus direncanakan dari awal dan melekat dengan perencanaan produk.

    Kalau Gagal Merencanakan Penjualan berarti Merencanakan Kegagalan Penjualan.

    Perencanaan harus mencakup segitiga marketing yang mencakup: [1] Positioning (market segmentation, market targetting), [2] Differentiation, dan [3] Brand.
    Strategi branding harus mencakup [1] brand identity yang berawal dari positioning yang tepat, [2] brand integrity yang berakar dari differentiation yang kuat, dan [3] brand image yang didukung oleh keduanya.
    Kalau sudah dapat segitiga ini, maka elemen marketing yang lain (selling, service, proses, marketing mix) akan mendukungnya.

    Nah, rasanya kebanyakan pengembang situs sosial Indonesia gagal dalam merencanakan segitiga di atas.
    Padahal migrasi pengguna situs sosial yang lama ke yang baru hanya terjadi jika situs baru tersebut punya positioning dan differentiation yang kuat dibandingkan dengan situs yang sudah ada (Facebook & Twitter), lalu didukung oleh branding dan elemen marketing lainnya.
    Kisah sukses bagaimana Facebook dan Twitter bisa menggantikan pendahulunya membuktikan hal ini.

  4. @Syafrudin: secara teori anda benar, tetapi prakteknya tidak seperti teori.

    Coba tengok google+ udah berapa banyak biaya yang digelontorkan, udah berapa banyak strategi marketing diterapkan, masih aja google+ seperti kuburan.

    Facebook dan twitter awalnya malah tidak pake teori marketing yang pusing-pusing.

  5. Sebagai newbie, saya pilih strategi coba semuanya (do it first), dan dari yg gratis2 dulu.

    Lalu sambil terus update blog, fb, dll,
    amati mana yg perkembangannya bagus. Itu yg kemudian dioptimalkan. Selanjutnya sisakan max 3, supaya nggak pusing handlenya.

    Jika berkenan kunjungi blog dan fb saya :
    eloratour.wordpress.com
    https://www.facebook.com/elora.tour

    Trimakasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s