Manusia Indonesia dan Simbol-simbol

Baru-baru ini, Wakil Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mempertanyakan mengapa ada kolom (field) dalam kartu tanda penduduk. Dia menyatakan lebih suka field tersebut dihilangkan. Kontan banyak tanggapan pro dan kontra di media – termasuk di media sosial. Berbagai argumentasi pro dan kontra dilontarkan oleh masing-masing pihak. Kebanyakan masuk akal, tetapi ada juga yang bikin kita mesem-mesem saja. Saya ingin melihat dari sudut pandang lain.

Mundur sejenak. Manusia Indonesia senang mengikatkan diri dengan simbol-simbol, baik itu simbol keturunan, keberhasilan (pendidikan), dan juga agama. Sebagai contoh, banyak orang yang masih bangga dengan keturunannya. Gelar kebangsawanan, seperti Raden, masih tetap menjadi sebuah hal yang penting. Memang hal ini  terjadi tidak hanya di Indonesia, di Inggris pun demikian.

Keterkaitan dengan simbol keberhasilan pendidikan misalnya muncul dalam penggunaan gelar-gelar lulusan perguruan tinggi dalam undangan-undangan yang tidak terkait dengan pendidikan. Undangan pernikahan, misalnya, perlu menyertakan gelarnya. Ada yang merasa risi, namun penyertaan gelar pendidikan ini merupakan hal yang lazim. Oh ya, gelar pendidikan saya pun ada di KTP saya. Entah bagaimana ceritanya itu bisa terjadi. Padahal saya termasuk yang risi mempertontonkan gelar, kecuali jika kita saya harus memberikan surat rekomendasi untuk mahasiswa saya – gelar saya pasang.

Hal yang sama juga dengan keagamaan. Banyak orang yang sehabis pulang dari mengerjakan ibadah haji, menyematkan gelar “Haji” (H.) atau “Hajjah” (Hj) di depan namanya. Bahkan untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan keagamaan, dia akan menambahkan “H” tersebut. Dia akan marah jika orang tidak memanggilnya dengan sebutan pak Haji. Apalagi kalau dilarang menggunakannya.

Apakah hal-hal di atas tersebut buruk? Dilihat dari kacamata siapa dulu. Yang pasti mereka beda kalau dilihat dari kacamata orang berkultur Barat, misalnya. Beda bukan berarti buruk, bukan? Kita sepakati berhenti di kata “beda” saja.

Dengan memahami aspek sosial(?) seperti itu, maka kita dapat memahami kemarahan orang ketika kolom agama diusulkan untuk dihilangkan dari KTP. Penambahan atau penghilangan data agama dalam KTP tentu saja tidak menambah atau mengurangi keimanan seseorang. Namun kalau dilihat dari kacamata kultur, ini mungkin sama dengan tidak memperbolehkan orang menggunakan sebutan Haji sebagai bagian dari namanya. Akan banyak yang keberatan. Simbol agama di KTP itu ternyata penting bagi banyak orang Indonesia.

Jika demikian adanya, nampaknya lebih baik data agama tersebut dibiarkan ada dalam KTP. Perlu atau tidak ada data tersebut tidak penting. Simbol itu penting. Setidaknya, untuk kita orang Indonesia.

Hal ini juga menunjukkan bahwa orang Indonesia tidak mengenal masalah privasi. Di luar negeri, privasi merupakan hal yang sangat penting. Di Indonesia, tidak. Itulah sebabnya orang Indonesia tidak memiliki masalah dengan media sosial. Sekali lagi, ini bukan baik dan buruk, beda saja.

Oh ya, kita juga tidak perlu marah kepada orang yang berpendapat sebaliknya. Santai saja.

[Note: I wrote this in a hurry. Didn’t have time to pick better, beautiful, smashing words. Need to get the idea across quickly]

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

16 responses to “Manusia Indonesia dan Simbol-simbol

  • arifrahmat

    Setuju, Pak. Saya pernah membantu Pemerintah Propinsi Papua dalam rekrutmen CPNS. Panitia rekrutmen malah memiliki kolom unik, isinya adalah informasi apakah seseorang adalah pendatang atau bukan, selain fam/marga.

    Mengenai pencantuman agama di KTP, mungkin KTP dapat digunakan sebagai filter dalam penjualan barang-barang bercukai seperti rokok, miras, dsb.

  • masbrowww

    Benar juga pak, suatu kebiasaan tak perlu dihilangkan hanya diperbaiki

  • robiah

    lebih baik bicarakan yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat, bersama lebih bermanfaat kalu berbicara vripasi orang pasti gk ada hentinya , semua orang kan meiliki hak masnig2

  • Ripiu

    Bikin repot aja yah. masalah begini malah diperdebatkan sampai tuntas, tapi untuk masalah kemaslahatan rakyat malah mengambang semua😦

  • Anton

    Perlukah Kolom Agama di KTP Dihapus?

    A : “Bro, tahu belum? Ada wacana kolom agama di KTP mau dihilangkan lho.”

    B : “Emang kenapa? Katanya negara berketuhanan, kok malah hilangkan agama?”

    A: “Katanya sih, kolom agama itu bisa mengakibatkan diskriminasi. Lagian agama juga urusan pribadi. Nggak usahlah dicantumkan di KTP.”

    B : “Nah, ntar ada juga orang yang ngaku mendapat perlakuan diskriminasi gara-gara jenis kelamin ditulis. Berarti kolom jenis kelamin juga harus dihapus dong. Laki-laki dan perempuan kan setara. ”

    C : “Eh, jangan lupa. Bisa juga lho perlakuan diskriminasi terjadi karena usia. Jadi hapus juga kolom tanggal lahir.”

    D : “Eit, ingat juga. Bangsa Indonesia ini juga sering fanatisme daerahnya muncul, terlebih kalau ada laga sepak bola. Jadi mestinya, kolom tempat lahir dan alamat juga dihapus.”

    B : “Ada juga lho, perlakuan diskriminasi itu gara-gara nama. Misal nih, ada orang dengan nama khas agama tertentu misalnya Abdullah, tapi tinggal di daerah yang mayoritas agamanya lain. Bisa tuh ntar dapat perlakuan diskriminasi. Jadi kolom nama juga wajib dihapus.”

    B: “Kalau status pernikahan gimana? Perlu gak dicantumkan?”

    A : “Itu harus dihapus. Nikah atau tidak nikah itu kan urusan pribadi masing-masing. Saya mau nikah kek, mau pacaran kek, itu kan urusan pribadi saya. Jadi kalau ada perempuan hamil
    besar mau melahirkan di rumah sakit, nggak
    usah ditanya KTP-nya, nggak usah ditanya
    sudah nikah belum, nggak usah ditanya mana suaminya. Langsung saja ditolong oleh dokter

    D: “Sebenarnya kolom pekerjaan juga berpotensi diskriminasi. Coba bayangkan kalo KTP ditulis pekerjaan petani/buruh, kalo orang tersebut datang ke kantor pemerintahan, kira-kira pelayanannya apakah sama ramahnya jika kolom pekerjaan ditulis TNI? nggak kan? buruh biasanya dilecehkan. Jadi kolom pekerjaan juga harus dihapuskan.

    C : “Kalau golongan darah gimana? berpotensi diskriminasi gak?

    A: “Bisa juga. Namanya orang sensitif, apa-apa bisa jadi bahan diskriminasi”.

    E : “Lah terus isi KTP apa dong?”

    Nama : Dihapus
    Tempat tanggal lahir : dihapus
    Alamat tinggal : dihapus
    Agama : dihapus
    Status perkawinan : dihapus
    Golongan darah : dihapus

    berarti KTP isinya kertas kosong doang

    A,B,C,D : (melongo)

  • fenny k

    setuju pak,hal-hal yang seharusnya lebih fokus untuk diutamakan terutama masalah kemiskinan justru malah memperdebatkan mengenai hal seperti itu yang intinya pada akhirnya hanya menimbulkan masalah baru😦

  • Debby

    kalo mnurut aQ, yang oerlu diubah bukan KTPnya tapi pikiran pemilik KTP-nya ya…

  • mr jahe

    Kalau saya sih termasuk yang tidak masalah dengan penghapusan kolom ‘agama’. Tidak ada gunanya. Apalagi membaca argumen diatas semakin membuktikan memang tidak ada gunanya kolom tersebut. Agama hanya buat ‘gaya-gayaan’.

    Kolom ‘pekerjaan’ kayaknya tidak ada gunanya juga. Wong status pekerjaan di kolom KTP saya berbohong. Ha ha ha.

  • Dadang Hidayat

    Ada atau tidaknya kolom agama dalam KTP menurut saya fine fine aja, karena semua itu tidak akan mengubah idenstitas kita beragama apa karena identitas sesungguhnya adalah ada di hati kita, entah itu kristen atau islam.. Salam sukses

  • Titik Asa

    Ah iya, baca ini saya baru teringat lagi konsep tentang simbol…

    Salam,

  • snydez

    nanti istilah islam ktp, tinggal kenangan🙂

  • Budi Rahardjo

    Kenapa malah gak ada field “golongan darah”, misalnya. Bukannya itu penting juga?

  • rifkisyabani

    Kita ini negara ber-bhineka tunggal ika.
    berbeda-beda tetapi satu. Jadi harusnya tidak usah alergi dengan adanya perbedaan. Orang yang menganggap bahwa setiap perbedaan akan menimbulkan diskriminasi adalah orang-orang yang sempit pemahamannya dan tidak bisa menghargai sebuah perbedaan sebagai bentuk keharmonian dan keberagaman.

    Biar saja kolom agama, jenis kelamin atau apa pun tercantum. Kan itu bagian dari identitas seseorang.

    Persoalan akan menjadi sekedar simbol atau apa pun itu perkara lain.

    Kalau mau revolusioner, ya sudah KTP-nya diubah dalam bentuk bar code aja sekalian. Dan ini harus didukung pada setiap instansi dan tempat harus ada alat scanner yang bisa memindai detail barcode tersebut sehingga kemudian bisa mengakses data identitas seseorang secara lengkap dan detail.

  • Mang Ali

    Saya curiga ini cuma cari celah bikin proyek KTP baru🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: