Tag

,

Setiap tahun kita mendapat berita kecelakaan – dan bahkan kematian – yang ditimbulkan dari acara orientasi studi yang dijalankan oleh mahasiswa (OSPEK). Sudah waktunya kita semua duduk untuk mencari bentuk orientasi studi yang lebih modern dan manusiawi. Mosok kita tidak bisa menemukan bentuk yang non-perpeloncoan? Kurang cerdas kita kalau begitu, Ayo kita cari.

Pertama perlu kita ketahui dulu mengapa perlu ada orientasi studi ini? Apa yang ingin dicapai? Mengapa bentuk perpeloncoan, yang melibatkan kekerasan fisik dan mental, yang selalu menjadi pilihan? Apakah tidak ada bentuk lain? Ada catatan tambahan bahwa ospek ini biasanya terkait dengan himpunan mahasiswa (baik spesifik kepada sebuah prodi / departemen / fakultas, unit kegiatan, atau campus-wide / satu sekolah), bukan dikendalikan oleh institusi. Maka perlu ditanyakan kepada himpunan yang bersangkutan, mengapa perlu ada? Kalau tidak dapat menjawab, ya memang seharusnya tidak ada.

Kita mulai dari situ dulu. Sebagian besar pelaksana ospek tidak mengetahui apa alasannya. Ini hanya sebagai acara lucu-lucuan dan balas dendam saja. Mahasiswa yang modern, cerdas, maju, dan kreatif mestinya mau mencoba memahami alasannya dulu. Membebek itu ya seperti namanya, menjadi bebek. Bukan menjadi manusia.

Setelah alasan kita ketahui, misal untuk meneruskan beberapa nilai-nilai organisasi kepada mahasiswa baru, maka kita dapat mendesain metodologi yang lebih modern dan manusiawi. Misalnya, langsung saja kita program dengen telepati. he he he. Beres kan? Selebihnya, kita makan-makan. Kita nanti bisa brainstorming untuk mencari idenya. Apalagi sekarang dengan adanya teknologi informasi, banyak hal yang dapat dipermudah. Hadir pagi hari, misalnya, boleh dilakukan dengan check in (online). Kenapa tidak?🙂

Nah, sebetulnya apa alasan adanya ospek ya?