Mencari Bentuk OSPEK Yang Lebih Modern dan Manusiawi

Setiap tahun kita mendapat berita kecelakaan – dan bahkan kematian – yang ditimbulkan dari acara orientasi studi yang dijalankan oleh mahasiswa (OSPEK). Sudah waktunya kita semua duduk untuk mencari bentuk orientasi studi yang lebih modern dan manusiawi. Mosok kita tidak bisa menemukan bentuk yang non-perpeloncoan? Kurang cerdas kita kalau begitu, Ayo kita cari.

Pertama perlu kita ketahui dulu mengapa perlu ada orientasi studi ini? Apa yang ingin dicapai? Mengapa bentuk perpeloncoan, yang melibatkan kekerasan fisik dan mental, yang selalu menjadi pilihan? Apakah tidak ada bentuk lain? Ada catatan tambahan bahwa ospek ini biasanya terkait dengan himpunan mahasiswa (baik spesifik kepada sebuah prodi / departemen / fakultas, unit kegiatan, atau campus-wide / satu sekolah), bukan dikendalikan oleh institusi. Maka perlu ditanyakan kepada himpunan yang bersangkutan, mengapa perlu ada? Kalau tidak dapat menjawab, ya memang seharusnya tidak ada.

Kita mulai dari situ dulu. Sebagian besar pelaksana ospek tidak mengetahui apa alasannya. Ini hanya sebagai acara lucu-lucuan dan balas dendam saja. Mahasiswa yang modern, cerdas, maju, dan kreatif mestinya mau mencoba memahami alasannya dulu. Membebek itu ya seperti namanya, menjadi bebek. Bukan menjadi manusia.

Setelah alasan kita ketahui, misal untuk meneruskan beberapa nilai-nilai organisasi kepada mahasiswa baru, maka kita dapat mendesain metodologi yang lebih modern dan manusiawi. Misalnya, langsung saja kita program dengen telepati. he he he. Beres kan? Selebihnya, kita makan-makan. Kita nanti bisa brainstorming untuk mencari idenya. Apalagi sekarang dengan adanya teknologi informasi, banyak hal yang dapat dipermudah. Hadir pagi hari, misalnya, boleh dilakukan dengan check in (online). Kenapa tidak?🙂

Nah, sebetulnya apa alasan adanya ospek ya?

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

21 responses to “Mencari Bentuk OSPEK Yang Lebih Modern dan Manusiawi

  • PelancongMalas

    katanya biar akrab selepas ospek, karena dengan pelonco merasa sangat berkesan, juga untuk menanamkan nilai-nilai perjuangan dan survival (katanya) sehingga diharapkan mahasiswa kelak mampu mandiri dan tegar di kampus yang sangat “keras” -demikian

  • mr jahe

    Sebenarnya gampang sih. Tinggal ‘contek’ saja metode Ospek di negara-negara yang pendidikannya bagus. Itu kalau memang ada.

  • Budi Rahardjo

    Oke untuk kenalan dll. Nanti kita carikan bentuk implementasinya, misalnya dengan acara makan2🙂. Nilai perjuangan? Saya belum tahu maksudnya. Survival, maksudnya? Ok. Nanti bisa dicarikan implementasinya, misalnya permainan tag. he he he

  • Budi Rahardjo

    Untuk nyontek dari luar negeri, kadang kita tidak bisa. Ada “kebiasaan” Indonesia yang terlihat ndeso bagi orang Barat, tetapi biasa bagi orang Indonesia. Mungkin lebih tepatnya lihat dan adaptasi ya? Sip. Ada contoh?

  • mr jahe

    Belum pernah menginjakkan kaki ke luar negeri jadi tidak bisa kasih contoh. Hiks.

    Tapi daripada sibuk cari contoh, saya lebih condong menghapus Ospek. Apa sih yang bisa didapat dari 7 hari kegiatan Ospek. Mental, fisik dan kecerdasan bakal meningkat? Nyawa melayang iya. Apalagi para pengospek tidak ada ‘sertifikat’ untuk mengospek. Mahasiswa senior yang males bikin tugas/asal-asalan terus mendidik mahasiswa junior untuk disiplin. Lucu.

    Kalau saran saya andai keukeuh Ospek tetap ada, si pengospek harus punya semacam sertifikat untuk melakukan Ospek. Kalau orang orang idiot mendidik mahasiswa baru, siap-siap terima telepon yang mengabarkan ‘anak anda masuk rumah sakit’.

  • Budi Rahardjo

    Kita (orang tua) tidak bisa mengatakan TIDAK tanpa mencarikan jalan keluar, ya cocok dengan anak muda. Apakah kita tidak pernah muda? Tidak pernah jadi mahasiswa? Atau lupa? Tidak cukup dengan mengatakan TIDAK BOLEH saja.

    Harus kita beri pencerahan bahwa sekarang perpeloncoan itu udah gak jamannya lagi. Tapi bagaimana memberi penjelasan ini yang dapat dimengerti oleh anak muda tanpa berkesan menggurui. Kemudian alternatifnya apa?

  • mr jahe

    Setuju omongan tentang orang tua tapi kalau kasih pemahaman dan alternatif.. saya angkat tangan deh. Beda jaman sih.

  • iscab.saptocondro

    Mahasiswa seharusnya menerima OSPEK yang riang gembira, bukan yang mematikan.
    OSPEK yang kejam biarlah dirasakan di dunia kerja saja.

  • yuti

    di kampus saya, orientasi artinya musik hingar bingar dan bavaria. tujuannya agar mahasiswa akrab dalam kondisi relaks dan setelah merasa nyaman bisa dengan tenang kuliah dan punya banyak teman. kesan saya, orientasi di Indonesia menyimpan pesan patriotisme sedangkan di belanda lebih ke arah bagaimana seseorang merasa nyaman. mungkin orientasi harus mengarah agar mahasiswa menjadi lebih jujur pada dirinya sendiri?

  • pakyusup

    mau di bantu jalan
    togel yang akan keluar
    hari senin telpon 082=313=336=747
    KI SOLEH sudah
    4kali putaran saya menang
    kemarin menang lagi 4d
    7081 syukur dapat 285jt
    ini semua bantuan KI SOLEH
    silahkan anda buktikan sendir
    yang punya room terima kasih
    tumpangannya semoga sukses selalu

  • dora

    Ospek dengan kekerasan fisik, sejarahnya dari jaman orde baru. Mahasiswa jaman dulu disiapkan untuk berdemo, dan melawan militer jika masuk kampus.

    Tetapi sekarang jaman berubah, seharusnya ospek bisa lebih jelas tujuannya,

  • Ripiu

    Jaman sudah berubah, kebutuhan juga berubah, tapi ospeknya masih pakai cara lama karena balas dendamnya belum kesampaian😀

  • Pambudi

    orientasi kali pak ya lebih enak disebutnya,. kalo ospek konotasinya ‘ganas’ banget. Kalau menurut saya alasannya ada untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi pak dari awalnya SMA misal masuk ke Perguruan tinggi. Harusnya orientasi membantu maba mengenalkan lingkungan barunya : teman2, adik kelas, kakak kelas, maupun lingkungan akademis yang lainnya.

  • haris

    menurut saya tradisi yg udah bertahun2 itu juga butuh bertahun2 utk dirubah..🙂

    mampir kesini ya teman harismerantau.blogspot.com

  • ded

    Orientasi tidak perlu, apapun alasannya…

  • Poljan

    Dalam rangka MOS atau Ospek sebetulnya sudah tidak jaman lagi adanya Senioritas dan perploncoan… ini bisa dilihat di salah satu Kampus di bandung yang melakukan MOS atau Ospeknya seperti di Luar Negeri yang biasa di kenal istilahnya FRESHWEEK. bisa dilihat di sini on.fb.me/1nMz6E1

  • Agus Setiawan

    saya setuju, kenapa kita tidak bisa mencari ospek yang lebih manusiawi

  • Rendra trywinata

    ospek seharusnya mendidik, bukan kekerasan dan ajang untuk balas dendam

  • Aldi Rahman Untoro

    semoga ospek menjadi lebih baik dan tidak ada kekerasan

  • Topic Roch

    terimah kasihhh.. semoga mengiinspirasi saya yg akan meng-ospek adik2 mahasiswa baru. dan semoga lebih manusiawai

  • darmanto

    ini bukan mencari memilih opspek yang baik tapi malah diskusi soal ospek perlu ato tidak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: