Tag

, ,

Mengajar itu tidak mudah. Yang paling susah dalam mengajar adalah komitmen pada waktunya. Begitu kita bilang sanggup mengajar, maka ada porsi waktu yang kita alokasikan untuk mengajar itu. Bagi saya ini sebuah hal yang besar karena dengan mengajar ini saya tidak dapat memenuhi permintaan dari banyak pihak untuk memberikan presentasi, rapat, konsultasi, dan seterusnya. Banyak orang yang tidak mengerti hal ini dan mungkin menganggap saya tidak mau karena tidak mau saja (atau malah dianggap sombong?), misal jika diminta untuk menjadi pembicara di kampus yang jauh dari kota Bandung, padahal saya tidak bisa karena ini akan mengganggu jadwal mengajar saya.

Kadang memang saya terpaksa gagal mengajar jika ada yang sangat penting sehingga saya harus hadir di tempat lain. Nah, sangat penting itu definisinya memang sangat luas, tetapi ini tetap dapat menjadi pegangan. Jika hanya untuk ketemu seorang pejabat –  biar menteri atau direktur perusahaan besar sekalipun – kalau saya tidak melihat yang didiskusikan sangat mendesak (urgent), maka biasanya saya menolak. Sementara itu saya tahu banyak orang yang justru ingin cari muka kepada bos-bos ini sehingga meninggalkan tugas mengajarnya.

Sayangnya banyak pihak yang tidak menghargai ini. Mahasiswa meremehkan kuliah, padahal kalau diukur dengan uang harusnya mereka bayar mahal untuk duduk di kelas saya. he he he. Jika saya memenuhi undangan pihak lain, kan ada honor dari sana. Lost opportunity. he he he. Pihak lain yang ingin mengundang saya menganggap apa susahnya sih hilang satu hari. (Ya kalau yang ngundangnya hanya satu, kalau banyak kan jadi banyak hari yang hilang juga. Dan saya buaanyaaak dapat undangan; meeting, keynote speaker, speaker, ngajar, konsultasi.)  Pihak institusi pendidikan juga tidak menghargai komitmen mengajar ini. hi hi hi.

Saya suka mengajar. That’s all that matters.