Bagaimana Memperlakukan Mahasiswa

Dalam sebuah mailing list yang saya ikuti dibahas tentang sebuah kasus, mahasiswa titip absen. Istilah yang agak salah sebetulnya, tapi Anda tahu yang saya maksudkan. Mahasiswa tidak hadir, tetapi meminta kawannya untuk menandatangani daftar hadir untuk dirinya. Bagaimana kita seharusnya menyikapi fenomena “titip absen” ini?

Ada yang beranggapan bahwa ini merupakan cikal bakal kebiasaan menipu dan etos kerja yang buruk. Jangan-jangan nantinya kalau sudah lulus dan kerja, dia tidak hadir tapi tetap pura-pura hadir. Makan gaji buta? Sama seperti banyak orang di berbagai instansi (pemerintahan? legislatif?) yang tidak hadir di kantor tapi daftar hadir komplit. Mula-mula memang hanya “sekedar” titip absensi kuliah. Nantinya apa lagi?

Pembicaraan kemudian melebar ke pertanyaan, “apakah memang mahasiswa harus kita perlakukan seperti anak kecil?”. Kita periksa kehadiran di kuliahnya. Di ruang kuliahpun kita minta mereka duduk tertib. Kita periksa catatan kuliahnya? Kuliahnyapun kita suapi. Materi harus diberikan secara lengkap. Ujianpun harus dari bahan-bahan yang pernah diberikan. Kalau tidak demikian, tingkat kegagalan kuliah dapat menjadi tinggi. (So what?)

Bukankah seharusnya mahasiswa diajarkan untuk menjadi dewasa? Lengkap dengan pengalaman gagal sehingga mereka tahu betapa sakitnya gagal sehingga tidak mengulangi lagi di kemudian hari. Ini mestinya menjadi bagian dari pembentukan karakter mereka.

Nah, apakah para mahasiswa memahami hal ini ya? Ataukah mereka tidak peduli? Dan memang sesungguhnya mereka masih anak-anak sehingga perlu diperlakukan seperti anak-anak?

Sebetulnya para mahasiswa saat ini memiliki masalah besar yang hanya dapat dimengerti oleh mereka sendiri, yaitu masalah atensi (fokus). Saat ini terlalu banyak distractions, seperti SMS dan media sosial ini. Baru mau belajar sudah ada SMS (atau chat, BBM, WA, dll.). Ini sebetulnya tidak harus dijawab sekarang, tetapi entah kenapa seolah-olah ada kesulitan untuk melawan ini. Akibatnya anak muda terlihat seperti sulit fokus. Orang tua beranggapan bahwa semua ini adalah distractions dan harus dibuang / dihindari. Padahal, siapa tahu generasi yang sekarang memiliki cara yang khas untuk mengatasi masalah fokus ini. Tetapi siapa tahu memang ini masalah yang membutuhkan bantuan generasi lama untuk menghadapinya. (Jangan salah, orang tua pun dulunya ketika masih muda mengalami masalah yang sama. hi hi hi)

Iklan

14 pemikiran pada “Bagaimana Memperlakukan Mahasiswa

  1. Ketika jaman saya dulu, distractions muncul dalam bentuk unit kegiatan kemahasiswaan (himpunan, unit olahraga, kesenian) dan kegiatan2 ekstrakurikuler lainnya (amatir radio, dll.). Sama masalahnya. Beda bentuk saja.

  2. tergantung tujuan kehadiran mahasiswa di kelas. ada kuliah yang mengharuskan partisipasi mahasiswa dan dapat nilai tambahan kalau terlibat dalam diskusi. tapi ada juga dosen yang berpendapat, tidur di kelas dengan tidak hadir sama saja jadi yang dilihat hasil ujiannya karena tiap mahasiswa punya cara belajar yang berbeda-beda

  3. kalau jaman sekarang godaan-godaan semacam itu sangatlah komprehensif. Menurut saya, perlu adanya komunitas / perkumpulan untuk menangani hal ini. Diantara sadar dan tidak (Mahasiswa sekarang). Selain itu dosen disini juga berperan aktif, bagaimana menciptakan kuliah yang kondusif.

  4. Titip absen sepertinya hanya imbas dari aturan doesn yang menjadikan tingkat kehadiran sebagai parameter penilaian/kelulusan. Jadi menurut saya kalau mau menghilangkan budaya titip absen, hilangkan dulu tingkat kehadiran dari parameter nilai/kelulusan.

  5. Dulu, saya termasuk dosen yang malas memeriksa kehadiran mahasiswa. Kalau mahasiswa tak hadir, mereka yang rugi karena sudah bayar uang kuliah. Selain itu, aku sudah memberi mereka catatan, soal latihan, kunci jawaban, dll, beserta referensi dari buku pegangan. Jadi mahasiswa bisa belajar sendiri di rumah, tidak perlu datang kuliah.

    Akan tetapi karena universitas membuat aturan mahasiswa wajib hadir sekian persen, aku terpaksa taat aturan dan memeriksa kehadiran mahasiswa. Kemudian memberi insentif tambahan nilai untuk setiap kehadiran.

    Ketika kuliah di Jerman, aku tidak wajib datang kuliah. Yang wajib hadir hanyalah praktikum di Lab dan datang ujian.

  6. Pak BR,

    Berhubung saya belum lama meninggalkan bangku kuliah, mungkin saya bisa memberi pengalaman pribadi soal fenomena
    ‘titib absen’.

    Saya rasa sebagian mahasiswa juga sepakat dengan komentar Pak Tedy Tirtawidjaja. Sebenarnya tidak ada mahasiswa yang butuh titip absen bila tingkat kehadiran bukan bagian dari penilaian.
    Apabila pihak universitas benar-benar ingin memperlakukan mahasiswa sebagai orang dewasa, seharusnya kewajiban hadir ini ditiadakan – apapun alasannya.

    Dari pengalaman pribadi, saya menemukan ada beberapa kelas yang layak diikuti karena kulihanya informatif dan membantu meningkatkan pemahaman akan materi kuliah. Namun ada juga beberapa kelas yang menurut saya kuliahnya tidak disampaikan dengan baik. Sebagai contoh, pernah ada satu mata kuliah yang saya ikuti di mana dosen hanya mentah-mentah membaca slide kuliah (bahkan tidak diterjemahkan, diucapkan dalam Bahasa Inggris), tanpa memberi penjelasan tambahan atau membahas soal-soal terkait. Sepanjang semester seperti itu saja. Kemudian tiba-tiba saat UTS dan UAS materi soal yang diujikan juga tidak mengacu dari slide yang dibahas sama sekali.

    Jadi, bisa dibayangkan kenapa ada mahasiswa yang memilih belajar mandiri daripada menghabiskan waktu di kelas. Saya rasa parameter kehadiran tidak dibutuhkan, kecuali kalau ada alasan khusus kenapa itu diperlukan. Seperti pemikiran Pak iscab.saptocondro, kalau mahasiswa tak hadir, sebenarnya mereka sudah rugi karena sudah bayar uang kuliah.

  7. Setuju dengan bagian ini: “Sebetulnya para mahasiswa saat ini memiliki masalah besar yang hanya dapat dimengerti oleh mereka sendiri, yaitu masalah atensi (fokus). Saat ini terlalu banyak distractions, seperti SMS dan media sosial ini. Baru mau belajar sudah ada SMS (atau chat, BBM, WA, dll.).”

  8. sebetulnya maksud dari absen itu sendiri adalah salah faktor pembentuk karakter yaitu disiplin. sadarlah para mahasiswa bidang apapun yang akan diraih atau tercapai membutuhkan disiplin sesuai aturan bidangnya masing-masing

  9. Visi dan Misi kampus sekarang tidak sesuai dengan pelaksanaan, banyak kampus atau universitas yang hanya sekedar memperbanyak mahasiswa, tp tidak fokus di kurikulum dan metode pengajaran. jadi mahasiswanya beler semua dahh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s