Multitasking

Dalam tulisan terdahulu saya mengatakan bahwa generasi sekarang harus menghadapi masalah terkait dengan (kurangnya) atensi. Ada terlalu banyak distractions, seperti SMS / email / internet / media sosial. Generasi muda terlalu banyak melakukan multitasking. Ini menjadi masalah ketika mereka belajar. Para pendidik meminta mereka untuk fokus kepada satu hal dan tidak melakukan multitasking ini.

Saya justru berpendapat sebaliknya. Saya melihat banyak lulusan perguruan tinggi – para pekerja – sekarang yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan multitasking. Mereka hanya dapat mengerjakan satu hal saja. Padahal kemampuan multitasking ini sangat dibutuhkan. Terlebih lagi untuk kita yang tinggal di Indonesia. Di luar negeri, kita bisa hanya fokus kepada satu hal saja. Misalnya, kita bisa menjadi seorang peneliti (researcher) dan fokus kepada itu. Di Indonesia, selain menjadi peneliti kita juga harus mengajar, menjadi anggota ini dan itu, mengerjakan proyek ini dan itu, menjadi ketua RT, dan lain sebagainya. Harus multitasking.

Di lihat dari kacamata pekerjaan juga demikian. Seorang pekerja di industri yang high-tech harus dapat menghasilkan pekerjaan minimal senilai Rp. 100 juta (atau US $10.000) per-tahunnya. Harus lebih dari itu. Pekerja pijit refleksi saja mungkin menghasilkan lebih dari itu ya (kalau dilihat dari ongkos per-jamnya). Seorang peneliti di kampus atau lembaga penelitian harus mendapatkan dana penelitian minimal segitu. Jadi untuk sebuah penelitian dengan tiga (3) orang peneliti, sedikitnya harus mendapatkan dana sebesar Rp. 300 juta. Kenyataannya tidak demikian. Sulit untuk mendapatkan sebuah proyek penelitian sebesar itu. Akibatnya mereka harus melakukan dua (2) penelitian atau lebih. Harus bisa multitasking.

Masalahnya, kapan multitasking ini diajarkan? Apakah kemampuan ini dapat tumbuh demikian saja? Semestinya tidak. Maka seharusnya dia diajarkan. Harus terprogram. Saat ini tidak. Semua dianggap harus bisa saja. Nah.

Sebetulnya kita sudah melakukan multitasking dari dahulu. Hanya saya perpindahan dari satu task ke task berikutnya lebih cepat saja. Sebagai contoh, kalau dahulu mungkin bisa begini.

Kuliah 1 jam. Cek email 30 menit. Kuliah 1 jam lagi. dst. …

Task #1 | … | … | task #2 | … | task #3 | … | … | task #1 | … dst.

Kalau sekarang mungkin seperti ini:

perhatian ke kuliah 5 menit | cek email 5 menit | kembali fokus ke kuliah 5 menit | cek SMS 3 menit | kembali fokus ke kuliah lagi | dst.

Task #1 | #2 | #1 | #3 | #2 | #1

Yang menjadi masalah dengan semakin cepatnya perpindahan antar task tersebut adalah context switching. Dibutuhkan waktu dan usaha untuk melakukan context switching tersebut. Semakin cepat terjadinya context switching ini, semakin cepat membuat otak menjadi lelah. Mungkin. Apalagi bagi yang tidak terlatih. Jadi, memang mungkin perlu ada pelatihan untuk mempelajari multitasking.

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

8 responses to “Multitasking

  • Azhar

    akhirnya kerjaan/kuliah yang harus fokus jadi kurang fokus, ketika tidak periksa notifikasi, harap-harap cemas apakah ada notifikasi atau tidak… alhasil kerjaan/kulliah jadi kurang diperhatikan.. ._. benar tidak Pak?

  • lutfianasari

    selain kemampuan untuk context switching, mungkin dibutuhkan juga kemampuan untuk memprediksi keefektifan dari apa saja yang bisa di-multitask dalam satu waktu.
    kalo menurut prediksi tidak efektif (tidak memenuhi threshold keefektifan ketika task=n), maka jumlah task nya mungkin harus dikurangi bahkan sampai task = 1 (atau sama dengan bukan multitask) sampai threshold terpenuhi.
    kemampuan prediksi, mungkin bisa terlatih kalo menghadapi hal ini berulang kali.

    dibanding mesin yang biasanya bs machine learning, kemampuan manusia (brain learning) harusnya lebih canggih karena yg bikin adalah Tuhan. Cuma kadang manusia harus sadar dulu kalau dia harus siap melakukan prediksi. Kalo nggak sadar, mungkin learningnya jadi susah / lambat.

    ehehe, ngemeng apa saya~

  • contoh surat

    saya setuju Prof
    namun membiasakannya yang jadi susah, karena semakin bertambahnay umur otak jadi cepat lelah…..

  • baju muslim terbaru

    sekarang saya harus bisa multitasking dalam menghadapi kehidupan ni pak rahard. Dulu belajar pengenalan multiprocessor untuk memahami berbagai proses yang harus dikerjakan dalam waktu yang hampir bersamaan

  • adi

    Kuncinya sebenarnya pada ilmu time dan project management.

    Saya mempelajari time dan project management setelah 5 tahun berkarir di Industri. Sayang sekali. Padahal kalau saya mengerti ilmu ini ketika saya kuliah, produktivitas saya akan jauh lebih baik.

    Seharusnya konsep time dan project management, beserta semua tools dan best practice-nya, diajarkan pada semester pertama perkuliahan. apapun major-nya, untuk mempersiapkan mahasiswa di dunia kampus dan dunia nyata nantinya.

  • Aden Atah

    multitasking or multi time-wasting ?

  • Sischa Maulana

    Sebenarnya jika context switching bisa dilakukan pada seluruh manusia maka harusnya kata sukses atau pencapaian menjadi cepat dan sama untuk diraih. Perbedaan antara context switching manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti keadaan untuk menerima switch, emosi yang terlibat pada saat penerimaan, habit yang terbentuk sebelumnya sehingga mengahasilkan learning, motivasi individu, dll. Karena banyaknya faktor inilah yang membuat manusia menjadi unik dari latar belakang, proses dan dengan pencapainya. Hmm, jadi meskipun adanya pelatihan untuk context switching, kita juga harus mengenal kompetensi manusia untuk switch, walaupun ada learning tapi kalo kapasitasnya tidak memenuhi syarat juga susah kayaknya untuk multitasking. Kapasitas itulah yang menjadi tolak ukur lelah atau tidaknya seseorang dalam menerima informasi, (hii.. kalau dari sudut pandang memori manusia si begitu Pak, saya berasa belajar Psikologi Kognitif lagi, nice🙂

  • Hary

    memang betul🙂 .. menurut saya (*ini menurut saya lho) kita memang kadang otak harus *menderita sedikit agar bisa multitasking..

    tapi kenyataannya otak saya bebel😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: