Tag

, ,

Perbedaan itu rahmat. Eh, tapi pada kenyataan tidak begitu. Nampaknya banyak orang yang tidak mudah menerima perbedaan, baik itu yang disebabkan oleh agama, kepercayaan, suku, ras, aliran politik, kelompok, pendapat, dan seterusnya. Mereka beranggapan bahwa orang lain yang berbeda itu mengancam dirinya. Maka, belum apa-apa mereka sudah pasang kuda-kuda. Defensif. Bahkan ada yang langsung offensif. Mungkin mereka penganut aliran “the best defence is offence“.

Media sosial mempermudah peruncingan perbedaan ini. Amati saja. Begitu seseorang dari kubu lain muncul – entah dalam pemberitaan, gambar, atau tulisan orang lain – langsung muncul komentar negatif. Sumpah serapah. Bahkan ada yang sengaja memulai dengan menampilkan potret jelek dari kubu lain. Proaktif dalam memupuk kebencian.

Misal, begitu ada berita tentang Jokowi, maka mereka yang anti-Jokowi mulai memberi komentar negatif. Demikian pula ketika ada berita tentang PKS, maka yang anti PKS (dan juga mungkin anti Islam) menuangkan serapah. Ketika ada yang memberi ucapan selamat natal kepada yang merayakannya, maka muncul serangan-serangan. Dan masih banyak lainnya. Perhatikan saja. (Maukah kita memperhatikan lingkungan kita dan  belajar?)

Mengapa kita tidak belajar untuk menerima perbedaan itu? Bahwa mereka yang berbeda itu bukan ancaman. Bahwa kita adalah kita dan mereka adalah mereka. Bukan musuh. Bahwa kita berbeda itu memang benar-benar rahmat. Indahnya warna warni. Semestinya internet dan media sosial dapat membuka wawasan kita dan lebih mudah menerima perbedaan itu. Harusnya.