Tag

,

Dalam sebuah tes (PISA) baru-baru ini didapati anak-anak Indonesia berada di ranking paling bawah. Ada yang tidak setuju dengan hasil ini dengan berbagai alasan. Saya agak sepakat dengan hasil tes ini jika melihat kondisi yang ada di Indonesia.

Lingkungan di Indonesia membuat anak-anak Indonesia menjadi seperti katak dalam tempurung. Mereka tidak tahu apa yang ada di luar sana. Pengetahuan, selain yang diajarkan di sekolah, sangat terbatas. Mereka hanya fokus kepada sekolah dan ujian yang akan dihadapi. Itu saja. Itupun hanya fokus kepada ujiannya. Mana mereka tahu sejarah dunia (world history).

Dalam sebuah episode Indonesian Idol yang kebetulan tertonton (saya belum pernah nonton sebelumnya), Ahmad Dhani sebagai salah satu juri meminta kepada beberapa kontestan untuk menyebutkan 10 nama penyanyi wanita dari luar negeri. Hasilnya banyak yang tidak bisa! HAH!!! Aneh juga mereka tidak bisa. Harusnya mereka bisa. Jika seseorang ingin menjadi penyanyi / musisi, semestinya dia mempelajari seluk beluk dunia itu. Sebagai contoh, akan aneh bagi seorang penggemar sepak bola kalau tidak dapat menyebutkan 10 nama pemain sepak bola. Lantas yang ada di kepala mereka apa ya?

Saya memiliki pendekatan yang sama. Ketika saya mengajari atau membimbing mahasiswa saya ke dalam satu topik, saya minta mereka mencari tahu siapa tokoh-tokoh (saya sebut dengan istilah “gate keeper”) dalam bidang itu. Istilah kerennya sih studi literatur, tetapi salah satu intinya adalah mengetahui siapa yang mbahurekso di bidang itu.

Jangankan untuk mendapatkan multi dimensi, wawasan satu dimensi saja mungkin anak-anak ini masih kurang. Mungkin sistem pendidikan dan lingkungan kita juga yang membuat demikian.  Anak-anak ini kita jadikan manusia 1/2 dimensi. Relakah kita?