Budaya Komentar

Melihat tampilan di media sosial seperti Facebook, saya melihat sebuah pola; kebanyakan orang menampilkan tulisan dari media lain (seperti Detik, Kompasiana, YouTube, dan lain-lan) dan kemudian memberi komentar. Ternyata kebisaan kebanyakan orang Indonesia adalah membuat komentar. Ini cukup memprihatinkan. (Ya, terpaksa saya menggunakan kata itu juga.) Komentar biasanya berukuran pendek, satu kalimat atau bahkan hanya beberapa kata saja.

Ini menunjukkan kurangnya kemampuan kita – orang Indonesia – untuk menulis dalam ukuran yang lebih panjang. Atau kalau mau kita generalisir, kemampuan analisis kita ternyata masih minim. Eh, jangan-jangan kita memang tidak mampu menulis. Maka dari itu kita harus banyak belajar dan berlatih untuk melakukan analisis dan menulis. Jika tidak, maka kita memang hanya jagoan komentar saja. Sayangnya di sekolah-sekolah, yang diajarkan adalah kemampuan menjawab pertanyaan, bukan melakukan analisis, sintesa, dan menulis. Bahkan untuk sekedar mengkhayal dan menuliskannyapun kita tidak mampu. Hadoh!

Iklan

17 pemikiran pada “Budaya Komentar

  1. Panjang2 ga ada yang baca, soalnya dibatasin sama FB.
    Orang cenderung malas untuk klik (See More) di FB.
    Atau memang sudah terbiasa main twitter yang cuma dibatasi 140 huruf πŸ˜€

  2. Termasuk di sepakbola, seorang komentator di indonesia selalu lebih jago daripada pemain di lapangan, hihihi

  3. Kebiasaan mengasah pikiran bangsa ini, termasuk di kalangan mahasiswa plus lulusannya…. memang masih minim. Sangat minim. Yang suka mengasah, tak banyak pula yang mau membagikannya dalam tulisan.

  4. Klo aku malah jarang berkomentar di media sosial seperti fb, yah biasanya cuma di blog soalnya lebih banyak isi yang bisa dibaca untuk dikomentari!

  5. *baiklah, belajar berkomentar yg ada analisis-nya πŸ˜€
    komentar di media sosial biasanya pendek dan memang orang males nulis panjang2, bs jadi alasannya adalah:
    1. buka aplikasinya dr handphone, tdk leluasa nulis banyak
    2. memang fitur komen menjadikan komen tdk usah terlalu byk (cth: kolom komen facebook lgsg ke-submit ketika di-enter)
    3. orang yg nge-post tidak selalu membutuhkan komen berupa analisis (cth: curhat-an)
    4. media sosial punya “tren” untuk membuat fitur komen yang mirip. mungkin tujuannya supaya user sudah familiar dengan fitur itu, sehingga mudah menggunakan

    Apabila melihat lebih jauh, tidak semua media sosial mempunyai karakteristik seperti alasan yang sy sebut di atas. Misalnya, ada beberapa media sosial yang sampai2 mempunyai semacam etika menulis tanggapan. Contohnya: stackoverflow atau banyak sosial media yang berupa forum.

    Berarti mungkin yang mempengaruhi tindakan user tidak hanya sifat dasar yang dimiliki user tsb, tapi juga bagaimana sebuah aplikasi mengarahkan tindakan user. Berarti juga, ada kemungkinan kita bisa mendidik user punya budaya analisis dengan menciptakan aplikasi yang sesuai.

    hehe, uda jadi analisis belum ya~ (masih belajar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s