Tag

, , ,

Sebuah pertanyaan yang agak aneh bagi saya; “untuk apa internet cepat?”. Bagi saya itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tetapi mungkin jawaban pertanyaan ini tidak terlalu mudah dilihat bagi banyak orang. Baiklah, saya coba jawab.

Ada banyak aplikasi yang membutuhkan layanan internet cepat. Saya ambil satu contoh saja ya, bidang pendidikan.

Di negara-negara maju, pemanfaatan teknologi informasi untuk pendidikan sudah menjadi hal yang umum. Bahkan saat ini online learning dalam skala yang masif sedang menjadi tren. Perguruan tinggi seperti MIT membuat kuliah-kuliahnya online. Atau Khan Academy yang sangat ekstensif menggunakan YouTube. Start up di bidang ini juga mulai bermunculan, Coursera, misalnya. Di Indonesia juga sudah ada beberapa yang memulai.

Salah satu kebutuhan dari online learning adalah adanya jaringan internet yang stabil (reliable) dan cepat. Sebagai contoh, banyak materi yang membutuhkan layanan video. Bagaimana kita dapat menonton video yang ukurannya ratusan Megabytes jika internet kita lambat dan putus-putus? Sebagai contoh, saya suka menonton presentasi yang ada di TED.com. Luar biasa bagus-bagus. Hanya saja saya tidak dapat menonton secara streaming karena internet di tempat saya agak lambat. Yang saya lakukan adalah mengunduh (download) videonya dulu dan kemudian ditonton setelah semuanya berhasil saya peroleh. Bergantung kepada kecepatan internet saat itu, kadang saya harus nunggu cukup lama. Orang lain (siswa lain) di negara yang sudah maju sudah berhasil mendengarkan presentasi 10 kali, di sini mungkin baru selesai download. Belum lagi kalau ada situs yang tidak memperkenankan videonya diunduh, mampuslah kita.

Okelah, mungkin saya masih mengkhayal untuk bisa sampai menggunakan video untuk belajar, meskipun di negara maju ini bukan lagi khayalan. Untuk menyediakan layanan download berkas kuliah dengan jumlah siswa yang besar pun sudah menjadi masalah. Perlu diingat skala siswa Indonesia yang jauh sangat besar jumlahnya. Belum lagi jangkauannya yang sangat luas.

Kondisi internet saya memang tidak begitu cepat. Ini di kota besar di Indonesia, bung! Bayangkan kondisinya di kota yang kecil atau daerah-daerah yang terpelosok. Maka itu dia ada istilah “digital divide“. Yang kaya, yang memiliki akses digital dengan cepat akan semakin maju, sementara yang fakir bandwidth akan semakin tertinggal. Mungkin kalau dianalogikan, siswa di Indonesia hanya bisa baca 3 halaman buku sementara itu siswa di luar negeri bisa baca 300 buku. Mau dibandingkan hasilnya?

Misalnya, anak Anda dapat tugas dari sekolah untuk membuat tulisan tentang punahnya dinosaurus; lengkap dengan gambar kalau perlu. Maka anak yang punya akses internet cepat dapat mengerjakan itu dalam waktu kurang dari satu jam. Cari ceritanya di internet, cari gambarnya, tonton videonya, kemudian mulai mengarang ceritanya. Sementara itu anak yang hanya punya akses GPRS … tiga hari tiga malam begadang tidak selesai download. Kira-kira yang dapat nilai bagus siapa ya? Salah anaknya? Salah internet yang lambat!

Salah satu layanan yang juga sekarang mulai lazim digunakan adalah Dropbox. Dropbox digunakan oleh mahasiswa untuk backup tugas-tugasnya. Ada satu mahasiswa yang nyaris stress karena notebook yang dia gunakan untuk mengerjakan tugas akhir tercuri. Dia belum melakukan backup, sementara teman-temannya menggunakan Dropbox untuk backup tulisan tugas akhirnya. Kami menggunakan Dropbox untuk  mengerjakan makalah bersama-sama. Silahkan cek di kampus-kampus, Dropbox sekarang menempati posisi yang tinggi juga. Dapat dibayangkan apabila layanan internet super lambat. Kampus yang bersangkutan akan punya masalah kredibilitas.

Ini baru bidang pendidikan. Bidang lain, hampir sama. Internet itu merupakan infrastruktur. Sama seperti jalan. Kita tidak boleh hanya puas dengan jalan yang berbatu – bahkan mungkin lumpur – yang hanya dapat dilewati motor atau sepeda saja. Dibutuhkan jalan untuk angkutan umum, bis sekolah, truk untuk mengangkut barang dagangan, dan seterusnya. Jalan harus lebar dan mulus. Internet juga harus demikian.

[sementara itu saya sedang pusing update OS dan aplikasi dari perangkat-perangkat saya karena gak selesai-selesai; gara-gara internetnya lambat! ini masalah nyata saya, sebagai fakir bandwidth. dan untuk download ISO OS – masing-masing sekian GigaBytes ukurannya – sementara harus tunda dulu sampai ke tempat yang internetnya lebih cepat (atau ada mirrornya). Yang repot itu kalau upgrade desktop, ya gak bisa dibawa pergi komputernya. Ini dia screenshot “apt-get upgrade” di komputer desktop saya yang menggunakan Linux Mint.]

apt-get-upgrade-crop