Tag

, ,

Topik yang sedang (sangat) hangat kali ini adalah kritikan tentang Bandung dan sampah. Orang Bandung suka buang sampah sembarangan dan tidak merasa terusik dengan keberadaan sampah itu. Saking kesalnya yang mengritik, sampai orang Bandung disebut sama seperti babi. Maka marahlah beberapa orang Bandung.

Saya sih hanya senyum-senyum sambil bersiul-siul. Du du du du du … Sudah lama ini menjadi sebuah topik yang mengesalkan bagi saya juga. (Hanya saya mungkin lebih sabar dan tidak menyamakan orang dengan babi. hi hi hi.) Dulu pun saya sempat menuliskan hal ini. Sekarang perlu diangkat lagi.

Ya, memang harus diakui bahwa Bandung punya masalah dengan sampah. Dan itu juga merupakan salah satu fokus dari walikota kita kali ini, pak Ridwan Kamil. Sudah ada upaya-upaya yang dilakukan oleh pemkot. Salah satunya – yang saya sukai – adalah adanya *banyak* tempat sampah (desain baru) di jalan-jalan. (Foto ada tapi saya belum sempat upload.) Namun upaya-upaya ini harus dibarengi dengan tindakan dari masyarakatnya sendiri. Kalau suka buang sampah sembarangan, ya keberhasilan dari program pemkot itu juga kurang maksimal atau bahkan gagal.

(Saya sudah pernah cerita ini, tetapi saya ulangi lagi ya.) Suatu saat saya bertanya kepada anak-anak SD yang sedang bermain di pinggir jalan sambil makan jajanan, “kalau buang sampah di mana?” Jawabannya adalah “di selokan”. Waduh. Itulah yang diajarkan kepada mereka. Itu juga yang dilihat dan dicontohkan kepada mereka.

Sudah waktunya kita berubah. Sudah saatnya kita tidak membuang sampah sembarangan. Sudah saatnya kita mau dan berani menegur orang yang membuang sampah sembarangan.