Kalau Tidak Tahu, Tanya

Kenapa ya kok banyak orang yang tidak mau bertanya ketika mereka tidak tahu? Apa karena malu? Takut salah? Atau apa ya?

Sering kali terjadi situasi di mana tugas atau kerjaan tidak berlangsung karena yang mengerjakannya tidak tahu dan tidak mau bertanya. Setelah direview, ternyata ada masalah – tidak mengerti tentang sesuatu. Repotnya, kita sudah kehilangan waktu karena yang bersangkutan (mahasiswa, pekerja) tidak mau bertanya. Padahal kalau dia bertanya, pekerjaan dapat selesai. Sekarang menjadi molor lagi.

Saya memberi tugas kepada mahasiswa. “Ada pertanyaan?” Tidak ada yang bertanya. Seminggu kemudian baru mahasiswa bertanya. Nah. Harus dibagaimanakan ini?

Iklan

15 pemikiran pada “Kalau Tidak Tahu, Tanya

  1. Repot juga sih, Pak. Tetapi bukankah lebih bagus seminggu kemudian mereka bertanya daripada nanti mereka mengerjakan tetapi pada akhirnya apa yang mereka kerjakan itu keliru/salah?

  2. Hii, dulu saya ketika masih mahasiswa dan pertama kali kerja juga mengalami hal yang sama pak, (saya juga bilang ke dosen atau atasan saya, gak ada pak, dengan langkah optimis saya bilang bgtu). Tapi, ternyata apa yang saya rasa tahu tidak sama dengan apa yang dosen/atasan saya tahu (mungkin saya baru tahu aja, tapi mereka berharap saya paham sampai ke tahap saya mendapatkan insight dari penjelasan/ arahan mereka). Alhasil saya mengerjakan apa yang saya tahu pak dan salah, tapi saat itu saya minta maaf dan menjelaskan kalau saya cuma tahunya seperti ini pak, dan minta perpanjangan waktu ? (Dimarahin si pak, tapi ya mau gimana lagi, mengaku salah lebih baik, kadang ilmu dosen aku itu terlalu tinggi atau aku yang terlalu cepat/impulsif bilang ngerti),harusnya aku bilang, saya coba dlu pak, saya akan datang lagi jika ada pertanyaan nanti, (bgtu pak, ๐Ÿ˜€ saya sering dipihak mereka soalnya)

  3. Ada kalanya karena malu.

    Ada kalanya karena memang tidak tahu apa-apa. Makanya tidak tahu apa yang mau ditanya. Setelah mencoba dikerjakan, baru deh ketahuan yang tidak tahu.

  4. Selamat sore Pak.

    Kalau menurut saya, semua itu berkaitan erat dengan didikan orang tua di lingkungan kelaurga yang kurang demokrasi, saat anak” kita biasanya manggut, enggih, tidak diberikan kebebasan berpendapat. Jadi sejak anak” mental kita terbentuk dengan rasa minder, takut dan kurang percaya diri

  5. Kalo menurut saya ada 2 kemungkinan, pertama dia malu, karena jika anaknya sudah pemalu otomatis dia jarang sekali bicara pada orang, sekalipun bicara ya secukupnya, kedua karena gak ada yang mau ditanyakan.

  6. Tidak bertanya itu karena tidak/belum tahu apa yang ingin ditanyakan.
    Ini terjadi kalau seseorang tidak memiliki “prior knowledge” yang cukup. Kalau dalam konteks perkuliahan, mahasiswa datang tanpa persiapan. Jadinya mereka tidak bertanya.

  7. karena kebanyakan mahasiswa itu menganut cara SKS… sistem kebut semalam….. pada saat baru akan dikumpulkan … nah baru dikerjakan. sementara di awal-awal penugasan lempeng2 aja hehe… makanya banyak yg bertanya stlh bbrp hari atau bbrp minggu kemudian, karena ya baru dikerjakan itu

  8. Terkadang memang pertanyaan timbul ketika mulai mengerjakan tugas atau ketika praktek, sih Pak. Ketika baru diterangkan, kadang mahasiswa belum punya gambaran yang clear, jadi kalaupun mau tanya bingung, mau tanya yang sebelah mana… #pengalamanpribadi… :mrgreen:

  9. Kadang, pertanyaan malah mendapat “masalah” baru, diberi tugas membuat paper pertanyaan tersebut plus jawabannya.. daripada menambah masalah, mending diam.. haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s