Keterpurukan Media Indonesia

Ini sebetulnya di luar jangkauan saya. Di luar kelas saya. Out of my league. Tetapi saya menjadi malu sendiri melihat kualitas pemberitaan di media kita. Yang saya maksud dengan media di sini adalah media massa seperti surat kabar dan televisi.

Ada banyak kasus di sini. Media yang tidak melakukan verifikasi terhadap kebenaran berita sehingga akhirnya menjadi bulan-bulanan. (Contoh: PM Singapura unfried SBY di Facebook. Padahal sumbernya dari situs guyonan.) Media yang “dibeli” oleh pemiliknya untuk memberitakan kegiatan pemiliknya dalam rangka pemilu. Yang ini tidak perlu saya sebutkan contohnya, bukan? Masih ada (banyak?) yang lainnya, tetapi sudahlah. Berharap mereka berubah sama dengan menunggu … (apa ya? godot?). Kalau kata orang sono, “if pigs could fly” atau “when hell freezes over”. wk wk wk.

Yang menyedihkannya adalah media yang dianggap pembaharu, yang menggunakan situs internet, sekarang juga sudah terjun bebas. Judul berita dibuat bombastis dan tidak nyambung sehingga orang mengunjungi situs tersebut. Mereka memilih untuk menaikkan kunjungan semu ke situsnya. Belum lagi teknik mereka memotong berita sehingga menjadi dua atau tiga halaman. Lagi-lagi untuk meningkatkan jumlah kunjungan, sehingga nantinya bisa diceritakan kepada pemasang iklan bahwa kunjungan ke tempat mereka itu sekian banyak. Padahal semu.

Pembacapun banyak yang salah. Baca berita hanya baca judulnya kemudian komentar, atau meneruskan (forward / share). Akibatnya berita yang salah pun makin menyebar. Waks.

Situs blog seperti punya saya ini – yang katanya berfungsi sebagai citizen journalism – juga belum mampu menggantikan kekuasaan media konvensional. Kenapa? Karena, lagi-lagi demi untuk meningkatkan popularitas, banyak yang menulis dengan mengambil sumber berita dari media konvensional. hi hi hi. Defeat the purpose. Padahal jumlah yang ngeblog dengan tulisan yang original juga tidak banyak. Semakin nihil pengaruhnya. hi hi hi. Kalau lebih kecil dari nihil apa ya? Negatif ya?

Kemarin saya diwawancara (untuk sebuah radio via telepon). Salah satu yang saya keluhkan adalah kurangnya content yang positif untuk dibaca. Apalagi untuk anak-anak ya? Masih sangat kering. Itulah sebabnya kita punya tanggungjawab untuk berkreasi dalam menulis. Kita tidak hanya mengeluh, ngomel-ngomel, tetapi juga memberikan solusi.

Mari …

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

22 responses to “Keterpurukan Media Indonesia

  • Ujang Sundana

    Sedih juga baca posting ini…
    Sudah ah mending saya ngeblog saja seperti Pak Budi ini.
    Tulisan di blog saya pasti orisinil. Wong hanya sekedar celotehan saja…

  • Ibrahim Lubis, M.Pd.I

    Akhir-akhir ini saya bertanya-tanya dengan sajian media di Indonesia, apakah memang benar-benar disajikan secara realita dan fakta, soalnya banyak sajian yang selalu meninggalkan persoalan tersendiri dengan berbagai tujuan tertentu (subjektif)

  • Nani Zafa

    Mari…

    Agar lebih banyak lagi yang memuat berita baik

    Nani Zafa Rumah Lulur

  • nani zafa

    mariii…

    agar lebih banyak lagi yang memuat berita baik.
    terima kasih inspirasinya

  • roisz

    terlalu banyak berita berupa gosip, provokatif, dan acara yang kurang mendidik.

  • jati

    Oh… berita yg di potong2 rupanya buat naikkan trafic. Pantes kok diulang2 dan mbosenin

  • Aiko

    Iya aku suka ngerasa sering dapet berita keliru dari media kita. Makanya setelah baca biasanya aku suka caritau kebenarannya lagi, jadi do some research gitu deh biar gak di bodo-bodoin. Apalagi aku belajar komunikasi dan tau banget media jaman sekarang tujuannya apa:/ Semoga masyarakat indonesia semakin kritis dan jeli dengan berita2 yang beredar

  • buzzerbeezz

    Itulah sebabnya kita punya tanggungjawab untuk berkreasi dalam menulis. <- Setuju!

  • @indrathrw

    Ini dirasakan sekali sama saya yang emang bener-bener nyari berita. Kalo yang nyediainnya udah gitu, ya kita cuma bisa ngelus dada. Hehe..

  • Imam sb

    kalau kasus di daerah saya, wartawan siap menampilkan berita apa saja dari narasumber asal cocok harganya. Sebenarnya iklan, tapi dikemas berita. Berita yang murni dibuat oleh koran/wartawan tidak seberapa banyak dalam koran tsb. Kebanyakan “berita” pesanan berbayar seperti.

  • kraukraukdi

    Saya kira masalah “Kredibilitas” media di Indonesia hanya di portal berita online saja. Ternyata sudah menyebar ke media cetak dan TV! terima kasih telah menyadarkan pak Budi!

  • rhein - startup bisnis indonesia

    sedih bacanya ! gak tau kudu teriak ke mana lagi yah :((

  • faisal

    betul yang pak budi katakan, saya perhatikan banyak berita yang di bagi menjadi beberapa halaman padahal bisa 1 halaman saja, belum lagi terlalu membesar2kan berita yang belum benar atau tidak sesuai dengan keadaan masyarakat kita, apalagi di bumbui oleh kata2 “menurut penelitian dari negara barat sana” yang menurut saya penelitian itu untuk di negara mereka tapi belum tentu cocok dengan masyarakat kita, tapi di beritakan seolah2 masyarakat kita harus percaya penelitian itu (melihat dari gaya penulisannya), menurut pak budi bagaimana?

  • Tatang Tox

    Frankly speaking, menurut saya hampir semua media di Indonesia terutama elektronik menyajikan acara yang tidak bermutu. Miris, ketika melihat kenyataan generasi penerus kita dijejali dengan acara-acara sampah seperti itu.

    Sedangkan di media internet, saya setuju sekali sama Pak Budi, mari kita sajikan informasi-informasi positif dan bermanfaat yang lebih banyak, agar hal-haln yang negatif itu lama kelamaan akan tertekan. Lha kalo info positif dan bermanfaat di dunia maya kurang, jangan heran kalo generasi muda akhirnya buka yang “aneh-aneh”.😥

  • fansbite

    Memang sekarang media sudah kelewatan. Banyak pemotongan berita. Sumber yang tidak jelas. Dan penggunaan media dalam upaya pencitraan atau sebaliknya. Terkadang jadi males juga liatnya

  • ht icom v80

    pemakaian media sekarang memang sudah banyak yang tidak pada tempat nya.. tapi yang buat artikel ajip…

  • M. Iman Santoso

    Iya bener banget, media sekarang semakin asal-asalan. lebih parah lagi sering ditunggangi oleh kepentingan politik. seperti kita tahu media-media Indonesia di monopoli oleh sejumlah elit politik besar.

  • shaams

    ya nih sangat mengharukan bangsa,,,

  • Maxgrosir

    Setuju Sekali gan, kita tidak hanya ngomel” karena siapa juga yang akan mendengar dan menndak lanjuti atas omelan kita? mending kita harus berkreaasi sendiri,:D

  • Seputar Bola Terkini

    terima kasih juragan
    jangan berpatok sama orang lain ,mari menciptakan ide-ide baru😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: