Tag

, ,

Sudah banyak kita temukan berita atau cerita palsu di berbagai media sosial. Berita bohong ini dikenal dengan istilah “hoax”. Sebagai contoh baru-baru ini ada berita tentang seorang pegawai yang mengundurkan diri dari perusahaan dengan membuat beberapa foto lucu-lucu. Kemudian pengunduran dirinya ini ditanggapi oleh bekas atasannya dengan foto-foto yang lucu-lucu juga. Eh, ternyata ini pura-pura. (Baca di sini.) Kalau yang terakit dengan Indonesia adalah berita tentang PM Singapura meng-unfriend SBY di Facebook dan meng-untag foto-fotonya. Ini juga berita bohong.

Ada yang bisa kasih contoh lain?

Masalahnya ada banyak orang yang menerima berita itu sebagai hal yang benar, kemudian meneruskannya (forward, share, retweet) ke teman-temannya. Akibatnya berita bohong ini makin tersebar. Bahkan, yang menyedihkannya, media konvensional seperti surat kabarpun kemudian menyebarkan berita bohong ini tanpa melakukan check & recheck. Padahal di internet ada beberapa situs yang mendata hoax ini.

Awalnya mungkin cerita bohong ini hanya untuk iseng saja. Namun ada juga yang membuat cerita bohong ini untuk menyudutkan atau menjatuhkan pihak lain. Bahkan saya menduga ini sudah menjadi industri. Ngeri sekali. Kerjaan kok membuat orang lain menderita? Bukannya membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih menyenangkan? Aneh saja.

Nah, apakah pembuat berita palsu ini dapat dituntut secara hukum? Menurut saya sih iya, tetapi karena saya bukan pakar hukum saya hanya dapat menduga-duga. Atau kita tuntut secara “hukum rimba” saja ya? he he he.

Sementara itu, kita harus lebih selektif lagi dalam membaca berita. Boleh jadi itu adalah berita bohong. Nah, apakah tulisan ini termasuk yang hoax juga? hi hi hi. Silahkan Anda menjadi jurinya.