Tag

, , ,

Salah satu kehebatan cerita di buku adalah kita bisa mengkhayal. Jika diceritakan tentang seorang yang tinggi dan besar, maka apa yang ada di kepala saya dan Anda akan berbeda. Demikian juga deskripsi tentang lingkungan yang ada juga dapat berbeda jauh. Berbeda dengan film, yang mana apa yang ditampilkan di sana merupakan visualisasi dari pembuat filmnya.

Perbedaan visualiasi ini mungkin justru yang membuat seseorang menyukai (atau membenci) sebuah cerita. Mungkin apa yang diceritakan itu nyambung dengan perjalanan hidupnya, yang ketika itu sedang bergembira ria (atau berduka). Perbedaan visualisasi ini terkait dengan latar belakang sang pembaca (atau penonton untuk film, teater, opera). Orang yang berasal dari lingkungan terdidik di luar negeri mungkin akan mudah menangkap cerita yang futuristik, terbang ke luar angkasa. Sementara yang lingkungannya seperti kita mungkin lebih mudah menerima cerita mistik. hi hi hi.

Ada yang menarik perhatian saya dalam cara orang Barat dan Indonesia bercerita. Dalam cerita-cerita di Barat, seringkali tidak semuanya diceritakan secara harfiah. Pembaca diharapkan mengisi sendiri dengan interpretasinya. (Ini sudah pernah saya ceritakan sebelumnya.) Misalnya seseorang yang menunggu lamaaa sekali. Maka yang ditampilkan adalah seseorang yang kusut penampilannya. Duduk. Berdiri. Ada beberapa kaleng minuman di dekat situ. Mungkin juga ada bungkus makanan. Atau kalau dia merokok, ditampilkan asbak dengan banyak puntung rokok. Sementara cara orang Indonesia bercerita beda lagi; ditampilkan orang itu dan dia berkata “aku sudah menunggu lama di sini”. hi hi hi.

Bagi saya cara yang terakhir itu sangat menyebalkan. Membunuh khayalan. Patronizing. Memangnya saya tidak dapat menarik interpretasi sendiri? Grrr. Tapi mungkin saya salah. Mungkin kultur di Indonesia memang demikian. Semuanya harus dituntun atau disuapi. Bahkan mengkhayalpun harus disuapi? Ya Tuhan … (OMG)