Tag

, , , ,

Baru-baru ini banyak orang terperangah ketika Facebook membeli WhatsApp dengan nilai yang fantastis. Yang menarik adalah WhatsApp adalah layanan yang belum menghasilkan revenue besar. Penghasilannya dari mana? Bagaimana menilai perusahaan (layanan) seperti WhatsApp ini? Mulailah muncul spekulasi dan teori. Saya akan menawarkan pemahaman saya.

Salah satu upaya perusahaan untuk mendapatkan pelanggan (customer) adalah melakukan marketing. Ada biaya untuk melakukan itu. Ada “cost of acquiring customer“. Berapa besarnya ini? Ini masih menjadi perdebatan. Katakanlah biayanya adalah US$20 (atau ada yang mengatakan boleh jadi US$50), maka nilai sebuah layanan adalah jumlah pelanggan dikalikan dengan biaya tersebut. Jadi katakanlah saya punya sebuah layanan dengan 100 juta pelanggan, maka sebetulnya perusahaan saya memiliki nilai US$ 2 milyar. Ini kalau dilihat dari kacamata mendapatkan pelanggan.

Cara menilai seperti ini tentunya masih belum dapat diterima oleh semua pihak. Jumlah pelanggan tidak selalu berkorelasi dengan sales, revenue. Tentu saja. Dia baru dapat dikatakan sebagai potensi. Namun ini sudah menjadi sebuah value. Bahkan ada yang mengatakan bahwa “user is the new currency”. Nah.

Ada cara pandang lain mengenai valuasi dari perusahaan IT, tetapi itu untuk topik tulisan lain kali ya.