Tag

, , ,

Bagaimana mungkin saya memilih partai (dan caleg) dalam pemilihan umum caleg minggu depan ini?

  1. Untuk memilih nomor urutan caleg ini ditentukan oleh partai. Mau menentukan diri sendiri saja di dalam partainya sendiri saja sudah tidak bisa. Apakah yang seperti ini sanggup mengurusi negara? (Itulah sebabnya saya juga tidak menuruti anjuran untuk memilih caleg bukan urutan teratas.)
  2. Semua partai memiliki masalah internal yang luar biasa banyaknya. Untuk membenahi partainya sendiri saja sudah tidak bisa, apalagi mau mengurusi negara. Partai ini merongrong calegnya. Jeratan partai ini sulit dilawan.
  3. Caleg yang terlihat baik, setelah menduduki kursi belum tentu tetap menjadi baik. Kursi (jabatan) mengubah orang. Sebagian besar orang yang saya lihat berubah begitu menduduki jabatan / kursi. Tujuan mereka menjadi bagaimana mempertahankan kursi tersebut (dengan berbagai alasan dan pembenaran). Mereka lupa dari mana mereka berasal. Mereka lupa kepada kita-kita rakya biasa. Saya melihat ini di berbagai tempat. Di perguruan tinggi, baru jadi ketuaj jurusan sudah berubah. Padahal belum jadi dekan, jadi wakil rektor, jadi rektor. Apa lagi kalau nanti naik jenjang. Di perusahaan, baru jadi manager sudah petantang petenteng (belum jadi direktur, direktur utama). Di pemerintahan juga begitu, baru jadi direktur sudah berubah tidak kenal. Belum jadi dirjen, menteri. Dan seterusnya. Maka dari itu kita perlu apresiasi orang-orang yang tidak berubah sifatnya, kesederhanaannya setelah dia menjabat.

Ini semua membutuhkan leadership yang tidak saya lihat dari para caleg. Partai akan berkuasa atas mereka. Maka dari itu, saya memilih untuk golput saja di pemilihan caleg ini.