Inovasi Dari Indonesia?

Diskusi (atau mungkin lebih tepatnya debat kusir) yang sedang ramai kali ini adalah masalah politik. Bosen ah. Lebih baik kita diskusi topik lain saja. Saya mau mengangkat topik inovasi. Mumpung lusa saya akan berbicara tentang hal ini.

Pertanyaan saya adalah “apa ada inovasi yang muncul dari Indonesia?”.

Sebagai contoh, saya melihat beberapa “inovasi” yang terkait dengan start up di Indonesia lebih ke arah menjiplak yang sudah ada. Misalnya ada yang membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Groupon, dan seterusnya. Saya belum melihat sesuatu yang betul-betul baru. Inovasi. Ada contoh?

Yang kedua, mengapa inovasi pada jaman sekarang banyak datang dari Amerika? Padahal orang-orang yang cerdas banyak di Asia. Apakah ini terkait dengan cara pendidikan di Asia? Atau faktor lain? Lingkungan? Alam? Budaya? Agama? Atau apa ya?

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

13 responses to “Inovasi Dari Indonesia?

  • Thoriq Salafi (@thoriqsalafi)

    mungkin salah satunya karena di asia ini gagal itu suatu hal yang tidak boleh di lakukan, padahal kegagalan itu sangat bermanfaat bagi innovator. disini kegagalan itu dinilai negatif jadi orang tidak suka membuat sesuatu yang baru, sehingga orang hanya ikut life plan yang mainstream : kuliah-> kerja -> berkeluarga. kalo di US itu mungkin sebaliknya

  • Sajarwo Anggai

    Pak Budi, kebiasaan orang indo kan suka menjiplak pak, hehehe :):) tetapi mungkin juga memang teknologi itu belum ada di Indonesia sehingga mereka ingin membuat hal semacam itu, sayangnya mereka meniru produknya 100%, klo semacam google ditiru sih boleh juga ahahaha…

    saya sedang melanjutkan penelitian saya dari ITB di Russia, saya pengen tahu aja setelah diterapkan nanti apakah itu akan berbeda di mata orang Indonesia atau sama saja :))

  • yoesdinar

    ikut komen ya Pak, coba berpendapat😀
    mungkin di amerika sana lebih banyak orang “gila”, atau bahkan orang yang “gila”, kreatif dan revolusioner terakomodasi oleh sistem di Amerika sendiri.

    Kalo di indonesia, saya ada senior bilang, dan dari pengalaman kerja saya setelah bekerja yang sedikit, bahwa iklim indonesia yang tidak mendukung. Semisal ada seorang inovator asli Indonesia, entah mengapa malah sesama bangsa kita yang menahan laju inovasi inovator tersebut. Seolah-olah apabila dirinya tidak dilibatkan, dia tidak bisa ikut terkenal, dan dia tidak suka seperti itu.
    Apalagi dengan adanya banyak cekokan-cekokan doktrin bangsa asing kepada para pembuat kebijakan. Semisal ketika disuruh membuat mobil atau kereta asli dalam negeri, orang pembuat kebijakan yang notabene bangsa sendiri malah resisten dan menahan inovasi tersebut dengan isu sertifikasi dan lain-lain. ya wong anak baru lahir, disuruh harus jadi superman, tapi yang paling sedih dia juga tidak diberi asupan gizi dan bantuan dari “ibu” nya.

    adanya orang yang berinovasi di bidang teknologi juga malah kok jadi alat politik(kalo benar dijadikan alat ya Pak), seperti mobil listrik dan lain-lain. Bahan bakar dari air? yang seperti ini malah digembar-gembor bukti tak adanya upaya memverifikasi dari institusi akademik, pengennya langsung aja ngeroket mungkin si orang yang ngenalinnya.

    Entah di US bagaimana ya pak, hanya saja saya lihat orang yang out of the box sepertinya malah disuruh untuk lebih berinovasi, orang yang masih follower, ya tetap follower. Sistem disana juga sepertinya tidak dibuat untuk menghambat kreativitas perseorangan. Beda dengan disini yang sudah masuk ke dalam sistem, seorang yang beda dipaksa dikerdilkan dengan doktrin kalimat seperti “itu kan kondisi idealnya, prakteknya ga gitu”, seolah-olah kita selama ini belajar itu salah belajarnya (yang padahal mungkin pelajaran yang dia pelajari dulu itu terlalu tinggi levelnya buat di aplikasikan di sistem itu). Sehingga ujung-ujungnya orang ya terpaksa ikut dengan sistem yang telah dibilang “sudah established”, padahal belom pernah sistemnya diuji baik dan buruknya, cuman sistem warisan saja. Sistem lama semakin resisten dengan perubahan saja ujungnya, dan semakin kaku dalam bergerak.
    Dan tempat bagi inovator adalah tidak ada.

  • masbrowww

    sepertinya niatan berinovasi saja yang gak ada

  • Hemat Dwi Nuryanto

    Ingin diskusi tentang inovasi dr indonesia dg pak Budi nih.
    Kapan ada waktu pak ? Saya di depan kampus ITB …

  • titikcerah

    Pak bahas tentang openSSL dong pak. Kemarin kan sedang ada kebocoran sistem keamanan itu yang menghebohkan banyak web apps di luar sana. Saya tunggu-tunggu dari kemarin ingin banget denger aspek teknisnya dari dosen favorit saya.

    Komentar disini dililhat pak budi ga ya. Hehe

  • Heri Purnomo

    yg dihargai di Indonesia lebih banyak hal2 yg sensaional, seperti nyanyi, kontes bakat/talenta dan hal-hal yg sifatnya sekedar hiburan.

  • Emanuel Setio Dewo

    Mungkin karena di sini terlalu banyak batasan (baca: aturan, dogma, dll) yang sedikit banyak mengungkung proses kreativitas untuk out of the box

  • nana

    ini berawal dari pendidikan di sekolah pak. Sekolah di Eropa dan Amerika lebih menanamkan kepada cara berpikir, berinovasi, berkolaborasi. Di Asia, kebanyakan adalah berkompetisi (adu ranking) dan melulu pada berkonsentrasi pada eksakta (jurusan sosial dipandang sebelah mata). Makanya langganan juara olimpiade sains dari Asia, sementara inovasi dan peraih Nobel kebanyakan dari Eropa dan Amerika.

    Dari semua “ke-absurb-an” sekolah di Indonesia bagi saya yang paling membonsai anak adalah belajar baca tulis hitung di usia TK. Di Swedia saja anak-anak baru belajar membaca di usia 5-7 tahun terkadang 8 tahun dan tidak dipaksa, tapi bisa melahirkan inovasi hebat semacam Skype dan Spotify.

  • eckohehe

    Kalau dari hasil pengamatan saya yang kurang dari hasil inovasi dari orang-orang Asia adalah “packaging”. Sebagai contoh: tayangan televisi yang dihasilkan oleh National Geographic tentang memancing, kalau tidak salah namanya “monster fish” yang bercerita tentang memancing dan berburu ikan-ikan langka. Mereka dapat mengemasnya menjadi cerita yang menarik dan membuat penonton tertarik walaupun yang diceritakan mungkin sama dengan tayangan tv lokal yang mengangkat konten yang sama. Begitu pula dengan hasil inovasi, seperti yang Bapak katakan, orang asia memang cerdas tapi kurang pandai mengemasnya menjadi sesuatu yang menarik jika dibandingkan dengan orang-orang Barat. Sebagai contoh lainnya adalah produk Ap*le dan Sam*ung, dari segi teknologi dan inovasi sebenarnya produk asia tidak kalah, tetapi manakah yang lebih eksklusif dan menarik?🙂

  • @tukangcolong

    saya rasa ke sistem pendidikan kita, dalam hal ini sistem tentang UN. Bahkan untuk mengisis jawabannya pun harus in of the box (melingkari lingkaran di LJK) =))

  • dora

    Ini semua cuma tentang faktor kebutuhan semata.

    Kalau inovasi gak ada yang butuh, ya sama aja. Mau bikin mobil tanpa sopir, tapi jalan masih semrawut ya gak jalan mobilnya.

    Amerika butuh mobil dan elektronik yang murah; Jepang mencontek dari amerika dan eropa, jadilah merk honda, yamaha, sharp, toshiba.

    Pasar butuh lebih mobil dan elektronik yang lebih murah; Korea mencontek dari Jepang, jadilah merk hyundai, samsung. LG

    Pasar butuh mobil dan elektronik yang sangat murah; Cina mencontek dari semua pihak; jadilah motor jialing, dan semua merk murah lainnya.

    Dan gak ada salahnya mencontek; Samsung aja berkali2 digugat mencontek Apple.

    What’s wrong dengan menjiplak? Tinggal pasar aja yang menentukan hidup matinya jiplakan kok.

    Mau inovasi yang benar2 baru? Bertapa aja..nunggu wangsit di bawah pohon.

  • pangeranrambee

    Ah bingung, Pak. Mendingan pake yang udah ada daripada pake yang dari dalam negeri tapi jiplakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: