Sterilisasi Kampus?

Kemarin saya mendapat kabar bahwa Jokowi akan memberikan kuliah terbuka di kampus ITB hari ini. Maka setelah turun dari pesawat (saya baru kembali dari acara InnovFest 2014 di Singapura – cerita menyusul), saya menuju kampus ITB. Tadinya saya pikir acaranya biasa-biasa saja. Yang datang cukup satu aula (Barat atau Timur) saja lah. Biasanya kan kalau pejabat datang ke kampus ya segitu saja pesertanya. Eh, ternyata begitu sampai kampus heboh banget.

Banyak mahasiswa di luar yang mendemo kedatangan Jokowi ke kampus ITB. Katanya mungkin mendekati 100 orang. Ada spanduk dan ada yang berorasi di depan Aula Timur. Saya bergegas menuju pintu masuk yang sudah dikunci. Ada penjaga yang mengenal saya sebagai dosen dan memperbolehkan saya masuk. Maka saya masuk dan menuju bagian belakang aula yang sudah padat. Jumlahnya? Wuih gak tahu saya. Yang pasti, Aula Timur penuh sesak. Nampaknya yang mau mendengarkan Jokowi lebih banyak.

Pak Jokowi baru maju ke dapan setelah acara dibuka Rektor ITB. Setelah mengucapkan salam, pak Jokowi menjelaskan bahwa kedatangannya ke kampus adalah atas undangan ITB untuk menandatangani kerjasama ITB dengan DKI. Kesempatan ini digunakan pula untuk mengisi kuliah terbuka. Tetapi karena ada pro dan kontra dan agar tidak ada keributan di dalam, maka pak Jokowi memutuskan untuk tidak jadi mengisi kuliah terbuka. Begitu dia menutup. Mungkin kurang dari 5 menit. Wah. Bagi saya, sebetulnya perbedaan pendapat di kampus itu adalah yang biasa. Jokowi bisa saja memberikan kuliah tentang DKI.

Di akhir ada mahasiswa yang memberikan penjelasan (berorasi) bahwa mahasiswa tidak mendukung capres tertentu. Ok no problem. Yang heran adalah mahasiswa menginginkan sterilisasi kampus dari politik.

Hmmm… saya jadi berpikir puluhan tahun ke belakang. Akhir tahun 70-an terjadi kericuhan di kampus ITB (dan kampus-kampus lain di Indonesia), antara mahasiswa dengan militer. Pemerintah mencoba membuat kampus steril dari politik. Mahasiswa tentu saja tidak mau diatur oleh pemerintah. Maka para mahasiswa ini melawan. Kampus bahkan diduduki militer. Pada akhirnya kampus berhasil ditundukkan. Disterilkan.

Sangat terbalik dengan sekarang. Mahasiswa bahkan ingin memandulkan dirinya sendiri.

Saya ingat sebuah pendapat dari seorang Profesor (yang saya lupa sumbernya). Mahasiswa (ITB) tidak perlu terlibat politik praktis, tetapi mahasiswa tidak boleh buta/bodoh politik. Nah. Lantas bagaimana mahasiswa dapat mengerti politik jika tidak belajar di kampus? Hadirkan tokoh-tokoh di kampus. Treat them like a regular person. Biasa-biasa wae lah. Mengapa demikian ketakutannya mahasiswa dengan politik? Demikian lemahnyakah mahasiswa sekarang? Mahasiswa seharusnya dapat membuat dirinya kuat dan tidak terpengaruh dengan (partai) politik, tetapi tidak dengan membuat dirinya steril.

Nampaknya usaha pemerintah mengendalikan mahasiswa berhasil. Mahasiswa sekarang memang sudah menjadi anak baik yang fokus kepada kuliah dan lulus saja. Mahasiswa menjadi tidak relevan dan tidak perlu ditakuti oleh pemerintah lagi. Mahasiswa sudah menjadi kucing, bukan harimau. Kita tunggu saja nanti. Kekurangan pemimpin akan terus berlangsung. Golput akan tetap menjadi dominan.

Rasakno

Link serupa:

 

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

58 responses to “Sterilisasi Kampus?

  • hashbang

    Terlalu besar resikonya jika JKW jadi RI1, mungkin😀

  • Ramadhan

    mungkin mahasiswa-mahasiswa yang demo adalah mahasiswa aktivis yang pemikiran-nya sudah dicuci oleh kader-kader dari ‘pengikut koruptor sapi’

  • Heri Purnomo

    “pencucian otak” di kampus. masuk akal.🙂

  • Fatah

    Salam kenal, saya mahasiswa yang tidak ikut mendemo tapi mengikuti isu2 yg ada.
    1. Perkataan pak Ramadhan sangat merendahkan kami, mahasiswa. Kenyataannya, seluruh pihak depan-belakang-kiri-kanan bersatu dalam demo tadi. Betapa menghinakan ketika aksi tadi hanya dianggap pesanan kelompok tertentu.

    2. Mahasiswa tidak anti politik dan tidak anti jokowi. Kami tidak mengusir jokowi, yang kami inginkan adalah kedatangan jokowi tidak dipolitisir seakan2 itb mendukung capres/pihak tertentu

    3. sbm itb juga mengundang SELURUH capres, termasuk jokowi, untuk datang dan menjabarkan visi misinya. Bisa dibaca di http://www.ayogitabisa.com/berita-gita/gita-jokowi-prabowo-dan-ical-akan-sampaikan-visi-misi-di-sbm-it.html

    Bisa disimpulkan kami tidak anti politik, hanya tidak ingin institusi kita dipolitisi

  • depri

    yg dicuci otaknya sebenarnya para dosen dan pejabat rektorat

  • Derp

    @Fatah –
    1. Yakin depan-belakang-kiri-kanan bersatu?? saya tadi di belakang dan tetap yang di belakang tidak bergerak SEMUA seperti yang anda bilang…. fallacy #1

    2. Tidak anti politik dan anti jokowi tetapi tindakannya diinterpretasikan oleh luar sebagai anti jokowi, disini letak kelemahan mahasiswa ITB pada umumnya, mereka memaksakan doktrin semua harus dilihat dari kacamata KAMI dan SAYA dan harus mengerti maksud kami seluruhnya…. Media tidak peduli itu, mereka hanya perlu sensasi, di dalam kampus mahasiswa bisa mendoktrinasi siapapun mahasiswa lainnya yang tidak sepaham, tetapi sekarang? tidak bisa kan media didoktrinasi demikian? Fail #2

    3. Tidak ingin dipolitisi… oke, jika tadi tidak ribut berita tidak akan jadi seheboh ini, kenapa jadi heboh? karena kalian yang minta, kalian yang minta media spotlight tolonglah merenung jangan hanya berusaha meluruskan ada baiknya terima saja seperti ini karena nantinya akan lebih panas dan repot lagi ketika ada pembelaan sporadis yang tidak terkoordinasi

    Selamat, Wibawa KM-ITB hilang sudah dengan aksi tadi siang.

    Jika pikiran pembaca mahasiswa ITB yang rendah dan saya sebut di #2, maka ia akan berkomentar :
    “Ngomong gitu ga ada gunanya, mending bantu luruskan beritanya”
    Jawaban untuk itu :
    “Sudah terlalu viral dan menyebar luas, tidak mungkin untuk membenarkan SETIAP berita yang ada, yang ada kita dianggap bocah dan hilang wibawa kita”

  • andrydeniwardh

    Saya ITB dan ga ikut Demo, cuman liat liat doang tadi. Tapi saya setuju dengan demo tadi. membuktikan bahwa mahasiswa menggunakan haknya . Kalo masalah cuci otak biar ngurus belajar melulu, mungkin bapak salah. Kalo logikanya gitu kenapa capek capek demo. Menurut saya ini bukan kemunduran KM ITB, tapi emang langkah besar KM ITB yang lebih berani

  • Budi Rahardjo

    Saya tidak mengerti di mana letak “langkah besar”nya dari KM ITB?
    Lihat juga komentara dari @derp di atas, “Selamat, Wibawa KM-ITB hilang sudah dengan aksi tadi siang.” Nah …

  • erwin budiarto

    jika dilihat secara timeline ada semacam perbedaan radikal pergerakan mahasiswa. dulu pra 80an begitu getol mahasiswa thd politik dan perbedaan sehingga rezim orba takut dan tercetuslah NKK/BKK. mesti telah dikebiri dengan NKK/BKK toch mahasiswa pasca 80an masih berpolitik dan berbeda pendapat secara halus dan sebagian underground hingga puncak kekesalan di tahun 1997 mahasiswa sbg motor penggerak penumbangan rezim orde baru.
    tapi…. mengapa sekarang seperti ini ya?

  • Derpson

    kiri kanan depan belakang? saya yang lagi kuliah aja baru tau Jokowi mau dateng, boro2 bersatu mau demo.
    lagipula kenapa harus di demo? emang kalian pikir kalian se mudah itu di doktrin ya, takut amat? kalo emang ga mau ikut campur politik, dan misalnya emang pak Jokowi mem-politisasi kampus, mahasiswa harusnya bisa mikir dong, pilih sendiri.
    Kalo kalian demo keliatannya ketakutan akan ter-politisasi, padahal itu pilihan masing-masing, cukup pintar kah untuk tidak ter politisasi??
    Siapapun yang datang ke kampus terserah mau ngomong apa, pake filter diri sendiri aja. Lah ini malah demo, ngaku ya ga bisa nge filter omongan orang?

  • iscab.saptocondro

    Kawan Fatah, jika konsisten ingin netral politik, seharusnya tidak menyodorkan link atau tautan ke ayogitabisa dot com. Website itu juga termasuk bias politik.

  • Mas Bagong

    Jaman sudah berubah. Dahulu kala pada jaman Orde Baru karena mahasiswa tidak bisa dengan bebas menyampaikan aspirasi mereka, perlawanan muncul. Perlawanan yg berupa demo merupakan sesuatu yg heroik. Waktu terus berjalan dimana akhirnya kita sampai pada era demokrasi dimana siapa saja bisa menyampaikan aspirasinya asal tidak mengganggu ketertiban umum (dan lapor polisi kalau jumlahnya banyak). Apakah mahasiswa sekarang perlu sesuatu yg heroik lagi seperti dulu ? Kejadian kemarin menunjukkan kurangnya pemahanan tentang politik. Atau mungkin yg lebih menyedihkan: pemahaman yg kurang tentang suatu berita/informasi. Mungkinkah itu efek dr pergulatan mrk selama bertahun-tahun menghadapi soal, memilih a,b,c, atau d, dan les…les…dan les. Bukan lagi mereka menjadi politically inept tetapi besar kemungkinan mereka sudah menjadi socially inept. Jadi demo kemarin selain out-of-context karena kampanye pilpres juga belum dimulai dan menunjukkan “keberhasilan” pendidikan menengah selama ini.

  • titikcerah

    Saya tangkap maksud kawan-kawan mahasiswa baik, untuk tidak ingin adanya kampanye satu pihak dalam kampus. Saya lihat juga tanggapan mahasiswa-mahasiswa lama dulu juga benar untuk ‘lebih baik meluruskan media’.

    Kalau begitu solusi yang enak bagaimana bapak2 sekalian. Agar kawan2 mahasiswa sekarang bisa nangkep missing link diantara kita?

  • eksa

    Demo ITB menggelikan… Jokowi itu datang dengan kapasitas sebagai terundang. Mahasiswa sekarang blunder; tidak mengerti berjuang apa karena mereka sudah tidak mampu berpikir sampai ke akar masalah. Mereka terlampau malas berpikir. Segitu saja yang namanya mahasiswa ITB? hehehe. Wajar, kalo demo itu dianggap tidak independen. Sayapun menduga yang sama. Dan sewajarnya, menduga yang sama karena partai tertentu tersebut memang menguasai BEM-BEM kampus sekuler. Mahasiswa ITB, tragis….

  • cahgantcore

    Reblogged this on MSENALUPHDIKA and commented:
    Ini blognya spot on, komen2nya juga cerdas. Monggo dibaca🙂

  • Mila

    Ngutip Harry Sujadi, seorang kawan virtual saya (that I couldn’t agree more):
    “Persoalannya bukannya apakah politikus tidak boleh masuk kampus, persoalannya apakah mahasiswa cukup kritis ketika mendengarkan politikus bicara. Zaman sekarang tidak ada institusi yang bisa di-steril dari pengaruh ideologi apa pun, termasuk institusi pendidikan. Beberapa kali berinteraksi dengan mahasiswa kesan saya mereka kurang diskusi dengan para pemikir sehingga cara berpikir dan pengetahuannya cetek. Mereka merasa hebat ketika bicara (dengan suara keras) mengutip perkataan pemikir (bermacam para pemikir terkenal) sepotong-sepotong dan sering tidak masuk dalam konteks. Mahasiswa sekarang harus lebih sering ketemu dengan para “tokoh” untuk mengasah bagaimana berpikir kritis.” And this is your song, mahasiswa…. http://www.youtube.com/watch?v=k1aLVl5NuR4

  • ki bim

    IMHO, tujuan dari aksi tersebut benar kok. Hanya saja eksekusinya yang kurang ‘elegan’. Dampaknya wibawa KM ITB menurun (karena media sih sepertinya, ga semuanya yg diberitakan benar lho). Tapi mari berkaca pada insiden foto K3M periode lalu dengan salah satu peserta konvensi Partai D (berpotensi besar menjadi capres) yang menjadi perdebatan karena bisa saja foto itu diklaim oleh media sebagai bentuk dukungan KM ITB terhadap si peserta konvensi. Mau kalau terjadi seperti itu? Di media dikabarkan dukungan ITB terhadap Bapak JKW? FYI waktu insiden tahun lalu belum masuk masa kampanye pemilu lho, apalagi deklarasi pencapresan.

    Menanggapi komentar Derpson, masih kuliah dan mengaku ‘mahasiswa’ tapi gatau isu kedatangan Bapak JKW? merasa bangga? Aneh^2

    Pesan yang saya dapat dari kemarin sih,
    Individu bebas mau bersuara dan mendukung siapa saja, partai apa saja. Tapi ITB, secara institusi, harus tetap dijaga kenetralannya.

    Salam.

  • Indra

    “Yang heran adalah mahasiswa menginginkan sterilisasi kampus dari politik.”

    Analogi pemikiran KM ITB sekarang yang sama dengan orang2 yg demo: “kami mau puasa, jadi semua kantin dan restoran harus disterilisasi, karna kami ga mau tergoda makanan”. It’s ok if you don’t like politics. Saya sendiri ga suka politik ko. However, don’t shove your opinion into others’ ass. Keep it to yourself, kid. Don’t be childish. Arrogant and self-righteous is a sickness.

  • petra

    kita liat aja yg di acara ini nanti bakal didemo juga atau enggak😛

    https://t.co/8oHtMydlhg

  • petra

    sorry, ini gambarnya..

    itu pada ketua partai loh😛

  • Mukti Widodo

    Luar biasa tulisannya, Pak🙂
    Oh ya, Pak. Saya pernah diajar Bapak dulu di LPIK, semoga Bapak masih ingat..

    Izinkan saya sedikit menuangkan apa yang ada di kepala kami para mahasiswa..

    Kami bukan tidak melek politik.
    Kami hanya tidak ingin kedatangan jokowi menjadi bahan politisasi media.

    Kalaulah kemarin mahasiswa tidak demo, apakah Bapak bisa menjamin bahwa tidak ada media yang membuat headline berita:
    “Mahasiswa ITB menyambut capres Jokowi”?

    Kalau ingin mengundang capres,
    undanglah semua capres,
    adakan uji panelis dengan konten yang berbobot sehingga dapat menjadi bahan pencerdasan politik bagi mahasiswa.

    Silakan dikoreksi bila ada yang kurang berkenan, Pak🙂

  • abc

    Buat saya ide untuk bikin kampus “netral” itu gak ada salahnya. Tapi netral di sini berarti “tidak condong ke salah satu pihak”. Sayangnya para pelaku demo kemarin menganggap netral sebagai “menjauhkan kampus dari segala hal berbau politik”. Jadi bukannya memperkuat “political immune system”, mereka malah menolak semua hal berbau politik masuk ke kampus.

  • Eagle7602

    Kita lihat apakah masih ada demo saat acara Gamais yang mengundang “calon-calon presiden” 10 Mei 2014 nanti.

  • adhikaidp

    Menurut saya, capres tidak masuk kampus itu soal Etika. Selayaknya ybs, sebagai apapun kepentingannya, gubernur, menteri, dsb walau bukan untuk tujuan kampanye tidak memasuki area kampus. Pasalnya, ybs (jokowi) sudah mendeklarasikan dirinya sbg capres walaupun masih aktif sebagai gubernur dki. Alternatifnya, gub dki menunjuk yg mewakilinya saja.

  • Budi Rahardjo

    Mukti, ada beberapa hal.
    (1) media akan tetap mengatakan apa saja🙂 nah sekarang lihatlah hasilnya. KM / mahasiswa ITB jadi di-bully karena terlihat tidak logis. bahkan bukan oleh media tapi oleh rekan-rekan mahasiswa sendiri! mengapa takut dengan media? apakah dunia ini dikendalikan oleh media? jadi mahasiswa lebih takut dengan pencitraan? wah kasihan mahasiswa. boleh lihat juga ada undangan dari Gamais untuk beberapa tokoh capres yang notabene dari partai Islam ke sabuga ITB. apa ini bukan kontradiksi? citra yang keluar adalah mahasiswa ITB “dibeli” (dibrainwash) oleh partai Islam. nah lho.
    btw, tokoh2 yang sama juga datang ke universitas lain kok.
    (2) jokowi belum capres resmi lho. lihat saja masih ada politik dagang sapi. hi hi hi.
    (3) kenapa kok yang didebat bukan *ide* dari jokowi? kenapa kok ketakutan sekali dengan afiliasi jokowi (yang mana saya sendiri juga alergi kok). jangan-jangan nanti kita tidak bisa debat dengan ilmuwan dari Israel karena dia yahudi. wah. atau kita tidak mau berdiskusi dengan orang karena beda agama, ras, dll. mengapa kita takut dengan ini ya? mahasiswa ITB kehilangan kesempatan untuk menguji apakah Jokowi itu oke (secara pemikiran, bicara, dll.) atau tidak.

  • furqan

    mahasiswa sekarang “didoktrin” kuliah kuliah kuliah dan kerja kerja kerja.. Mahasiswa tidak diarahkan untuk menjadi apa, namun diarahkan bekerja pada siapa..!

  • mussafir

    kalau dilihat sekilas, acara yang diadakan di sabuga memang bisa dibilang hampir sama, tapi ada sedikit perbedaan:
    1. acara tersebut diadakan di sabuga, bukan di kawasan kampus secara langsung.
    2. acara tsb dikenakan biaya, bukan seperti kemaren yang bisa bebas masuk secara gratis bahkan mahasiswa yang mengikuti mata kuliah tertentu harus ngisi absen di lokasi (kecuali saat altim penuh)
    3. acara tsb diadakan bukan pada hari perkuliahan, sementara kemaren tepat di tengah jam perkuliahan.

    mungkin hanya sedikit perbedaannya, tapi jelas berbeda

  • lalala

    wahhhh, muka2nya yg demo ni pada dedengkotnya partainya pecinta pushtun2, yg suka ngefollow toketqueen. Ya nyalahin rektornya lah, yg ngundang aja rektor ITB

  • AlumniCcBaratBawah

    Meluruskan beberapa pernyataan di atas:
    1. ITB mengundang bukan sebagai capres, tapi sebagai Gubernur DKI karena ada MoU. CMIIW.

    2. Jika memang nanti di Media tertulis Mahasiswa ITB Menyambut Capres JKW, ya tinggal bikin klarifikasi saja bahwa Mahasiswa ITB Menyambutnya bukan sebagai Capres tapi sebagai Gubernur. Mahasiswa masa ga tau cara buat konpres buat klarifikasi, masa taunya cuma demo…

    3. Acara Demokrat diadakan di tempat terpisah ?? Betul sekali, tapi semua fasilitas,dan sumber daya manusia termasuk dosen, staf itb dipake juga tong, dan satu lingkungan kita ketika itu dipenuhi dengan ATRIBUT yang bikin mata sakit. Sekali lagi ada yg bilang sabuga terpisah dari ITB besok jangan renang disitu, jangan wisuda disitu, jangan berani nginjakin kaki disitu lu yeee… karena emang capek jalan kaki kesananya boss😛

    Ini yang komen kontra keknya emang dablek dah… baca dulu dengan benar artikel pak BR.. pak BR bukan penulis kemarin sore… aduhh ampun dahhhhhhhhh… (*bahkan dia bukan CUMA penulis wakakaka.. peace pak.. dia adalah pemusik yang jadi dosen maaf kalo kebalik ya pak :P)

    Susah ya memang kalau emang ga tau dampak ke depannya apa… setelah tau dampak RUGI nya besar sekarang ini, barulah mulai ngeles cari pembenaran yang mana tidak merubah apapun.. Reputasi seperti Gelas Retak kata orang sana…

    Sekarang tu KM ditantang dah bikin permintaan maaf, pasti gak mau wong emang dablek dan ud keras kepala alias otaknya ud mentok… meski ud smua dosen, alumni, bahkan sesama mahasiswa ud dirugikan dengan langkah “besar” nya ini dalam memajukan, eh salah, memalukan kampus ITB …

    saya ga setuju dosen dibilang sudah salah didik, karena emang mahasiswanya emang yang kurang daya nalar

    RASAKNO ..idem pak BR🙂

  • mussafir

    saya nulisnya bukan kawasan kampus “secara langsung” ya karna ga semua orang mengartikan sabuga itu itb, walaupun merupakan bagian dari itb itu sendiri. kalau anda cerdas tolong kutip yg benar, apakah saya bilang terpisah???
    dan saya ga cuma buat satu poin aja kan?

    kalau masalah staf dosen dsb, bukannya itu yg ngadain gamais ya? itu yang saya tangkap dari posternya, karna saya juga ga terlalu peduli, jadi ga tau detail acanya. cmiiw.

    sepertinya anda tau saya belum pernah berenang di kolam renang itb ^_^
    yang jelas saya bukan pendukung atau haters capres yang kemaren datang, saya juga ga minat dengan acara yg di sabuga. kmaren saya ga ikut demo dan juga datang ke altim sebagai pendenganr yg baik.

  • Benny

    Mantap Pak penulisan dari sudut pandang Bapak,
    Salam

  • Ikhlasul Amal

    Saya tidak yakin ini “usaha pemerintah mengendalikan”, karena pemerintah sendiri “sedang lemah”, yang lebih berkuasa saat ini adalah partai atau golongan tertentu. Terlihat bukan hanya pada kasus mahasiswa, tetapi juga dari walikota hingga gubernur (Surabaya hingga Banten).

  • dnial

    Pertanyaan simple untuk mahasiswa ITB.

    ARB capres dan ketum Golkar tahun 2013 memberikan kuliah umum, dan sepertinya materinya soal politik dan rencana partai Golkar di ITB dan dia diundang sebagai ketum Golkar karena petinggi2 Golkar juga ikut. Masuk tivi lagi, meski cuma TVOne.

    Pasti banyak sekali mahasiswa ITB yang mendemo saat itu karena kampusnya dipakai kampanye. Kenapa kok bisa ARB menodai kenetralan kampus ITB?

    Hebat bener ARB ini.

    Pertanyaannya, kenapa kok ARB boleh Jokowi tidak? Padahal yang terakhir diundang sebagai Gubernur DKI Jakarta, bukan capres PDI-P.

  • Perencana Wilayah

    Pak Budi, sepertinya bukan “usaha pemerintah mengendalikan mahasiswa berhasil”, karena toh di beberapa universitas lain mahasiswanya bersikap berbeda dengan mahasiswa ITB.. Saya pikir rekrutmen mahasiswa kita yang salah…
    Salam, Wilmar

  • tkgit

    sterilisasi kampus? trus ini apa?
    [IMG]http://cdn.kaskus.com/images/2014/04/18/6682574_20140418040153.jpg[/IMG]

  • kalo aku sih iyeessss

    kalo disuruh pilih, saya mungkin 90% akan memilih JKW buat Presiden RI
    tapi saya sangat setuju dengan SIKAP KM-ITB menolak politisasi KAMPUS

    1. jgn judge org2 yg kmrn aksi tuh ANTI JOKOWI
    2. terus masalah ini http://cdn.kaskus.com/images/2014/04/18/6682574_20140418040153.jpg yaa saya percaya pasti nanti akan ada agenda pembahasan oleh KM-ITB tentang pernyataan sikapnya, ya coba KALIAN yang sedih jokowi cm ngmg 5 menit, NANTI IKUT KAJIANNYA YAA…
    3. jangan mudah di setir oleh media ya kawan🙂 kalo info yang diketahui minim, cari tau dulu… i you know what i mean

    yuk jgn APATIS, jgn cm bisa protes kalo udah gini, yuk terlibat!

  • mr jahe

    Tidak sabar tanggal 10-11 Mei. Apa yang bakal terjadi? Hal yang sama seperti yang dialami Jokowi atau mereka sedang menyiapkan alasan ‘ngeles’ ya.😛

  • dildaar80

    Mahasiswa ngakunya pinter sih…

  • hafidh al afif

    monggo pak rahard

    http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/04/19/269571736/Mahasiswa-Nolak-Giliran-Alumni-ITB-Dukung-Jokowi

    Hari ini sejumlah alumni yang tergabung dalam Komunitas Alumni ITB Pilih Jokowi justru berencana mendeklarasikan dukungan terhadap Jokowi.

    silahkan alumnus yang ga mendukung jokowi mencoba mengklarifikasi

  • newwinterwing

    katanya mahasiswa agen perubahan? harus melek politik dong. mereka harus jadi aktivis politik untuk meneruskan kehidupan negara dan masyarakat

  • Budiono

    Jokowi ditolak, malah Anis Matta diundang. Ini bukti mahasiswa ITB gak cerdas-cerdas banget lah dalam bersikap. Terus terang saya sangat kecewa, dan wibawa ITB runtuh gara-gara sikap mahasiswanya kemarin. Mahasiswa ITB gak mikir jangka panjang.

  • gugiaji

    Komen yg cerdas2. Sy pikir mahasiswa yg menolak kampus ITB dipolitisasi media maupun oleh siapapun punya point bagus (=tdk ingin di-generalisir dukung salah seorg capres). CMIIW.

    Hanya saja menurut sy perlu mempertimbangkan kembali cara penyampaian ide / point tsb. Jangan terburu2 demo, misalnya ikut sebagai narasumber di acara kuliah umum tsb sesudah pembukaan dr rektor ataupun nitip pesen ke pak rektor.

    Jadi maksud mahasiswa tersampaikan dan ide2 dari siapapun bisa terserap. Sy rasa peristiwa kemarin ini bisa diambil hikmahnya

  • Nur Adhi

    Dilema bagi mhs itb pada kejadian kemarin, Mendapatkan pemberitaan:
    “Mahasiswa ITB antusias mengikuti kuliah Jokowi”, “ITB menyambut hangat Jokowi”, atau dr timses “ITB memberi tanggapan positif terhadap Jokowi”, “ITB mendukung Jokowi”
    atau
    “Jokowi didemo oleh Mahasiswa ITB.” “Jokowi diusir mahasiswa
    ITB.”
    Karna itu kenyataan media di Indo sekarang: kejam. Sdh dimonopoli oleh parpol tertentu.
    Dan ini jg masalah komunikasi antara rektorat dgn mhs2 di Kabinet.
    Di satu sisi (rektorat), memasang spanduk tdk spt biasanya (tdk disebutkan temanya). Di satu sisi (mhs), entah sdh brusaha tanya atau engga ke rektorat, berlandaskan kalo kedatangannya inisiatif dr Gubernur DKI (sblmnya diundang oleh itb tp ga pernah menyanggupi) dan rasa penasaran beliau mau ngisi topiknya apa kemudian memutuskan aksi.
    Saya jg menyayangkan kemarin knapa sampai spt itu.
    Menurut saya, kalo saja pa rektor kemarin sedikit peka shg kedatangan beliau (jokowi) hanya tanda tangan MoU mungkin tdk terjadi spt ini. Timing yg tdk pas. Kecuali pihak ITB sdh jelas2 mengumumkan akan mendatangkan seluruh kandidat mgkn mhs tdk akan mencetuskan aksi “pengawasan”.

  • tito

    Setuju Pak. Reaksi kemarin itu sangat berlebihan. Itu bukan sikap mahasiswa yang cerdas, melainkan sikap paranoid insan kurang terdidik.

    Tito SI08

  • bhanua

    kasihan yah mahasiswa ITB.. babak belur diserang..

    saran saya, lain kali kalau mau demo, jgn mengatasnamakan KM-ITB.. berat bebannya.. coba buat saja ”aliansi mahasiswa tolak…. apa gitu”. salah korlap.nya nih… ga tuntas materi manajemen aksinya…🙂

    kasihan kan nama besar ITB yang sudah dibangun susah payah oleh senior2.. apalagi ditambah media2 yang suka mempelintir isu2.. jadi runyam deh persoalan.. wkwkw

    apapun tujuannya, baik buruknya, salah benarnya, suaramu wahai mahasiswa ITB sudah terdengar.. ayo maju terus lawan kemunafkan..

  • Fathah

    wah makin panjang ya.
    1. kiri-kanan-depan-belakang yang saya maksud itu gerakan politik kampus yg ada di itb. jika anda anak itb pasti tau stigma2 “anak depan” atau “anak belakang”. nah kali ini mereka yang dikotomi itu bersatu, bahkan demo sudah atas persetujuan kongres, yang diwakili oleh senator tiap himpunan. jika ada yang ketinggalan berita, maka kemungkinannya senator anda yang gagal menyampaikan ke seluruh massa himpunan atau anda yang entah ke mana.

    2. sudah diakui oleh KM-ITB bahwa itu memang kesalahan mereka dalam hal teknis, silakan baca klarifikasinya. mengenai media, pernyataan anda sendiri sebenarnya mengakui bahwa yang salah adalah media yang mencari sensasi, mengapa dipaksakan menyalahkan mereka yang aksi?

    3. “Tidak ingin dipolitisi… oke, jika tadi tidak ribut berita tidak akan jadi seheboh ini, kenapa jadi heboh? karena kalian yang minta, kalian yang minta media spotlight tolonglah merenung jangan hanya berusaha meluruskan ada baiknya terima saja seperti ini karena nantinya akan lebih panas dan repot lagi ketika ada pembelaan sporadis yang tidak terkoordinasi”

    maaf jika saya salah mengira jika anda di sini ingin mencari kebenaran berita. jika yang anda inginkan adalah berkomentar “seharusnya tidak seperti itu” silahkan sampaikan secara langsung ke pihak-pihak terkait. KM-ITB dan presidennya bisa dihubungi via twitter kok.

    @iscab
    ya, saya memang bias politik karena menggunakan tautan tsb. hal itu saya lakukan karena saya belum sumber lain di dunia maya untuk kabar tsb

  • azisculos

    wahahahahahaha…
    Endonesia ora ono obate

  • Aku Nigrum

    @Fathah, ikut dalam demo? Saya ingin bertanya dan menanggapi komentar Anda. FYI, saya juga telah membaca klarifikasi dari pihak KM-ITB di website resmi km.itb.ac.id/site/klarifikasiaksi17april2014/

    “Kami tidak mengusir jokowi, yang kami inginkan adalah kedatangan jokowi tidak dipolitisir seakan2 itb mendukung capres/pihak tertentu”

    1. Keputusan melakukan aksi hanya berdasarkan asumsi dan kecurigaan? Ketakutan yang berlebihan akan dipolitisasi, yang belum tentu benar? Segenting apakah pengambilan keputusan sehingga asumsi dan ketakutan yang tidak beralasan mengalahkan pikiran logis, dan kepercayaan KM-ITB kepada pihak penyelenggara serta sikap kritis mahasiswa?

    2. Manakah yang lebih elegan tidak kampungan, berdemo karena asumsi dan ketakutan, atau kah jumpa pers dan klarifikasi karena ingin mengungkapkan fakta (jika Jokowi berbicara melenceng masalah pilpres atau pun pemberitaan media yang tidak sesuai)

    3. Banyak dari KM-ITB yang berprofesi sebagai peramal?

    4. Cara berpikir KM-ITB terkait kedatangan Jokowi, sama seperti cara berpikir orang yang menganggap Anda fanatik PKS karena Anda sudah menjadi saksi dari PKS saat perhitungan suara. Sama-sama berdasarkan asumsi.

    5. Apakah bagi Anda politik dan istilah politisasi itu hanya berlaku dan terkait Pilpres? Setahu saya lebih luas dari ini.

    6. Jadi berdasarkan sikap dan pembelaan KM-ITB yang mengadakan aksi, terkait rencana kuliah umum Jokowi dengan alasan “Kampus ini, tidak boleh dipolitisasi”, maka seluruh kegiatan yang tidak berkaitan dengan acara diskusi politik, namun menghadirkan para tokoh politik, (jika ingin konsisten) harus ditolak demi alasan “Kampus ini, tidak boleh dipolitisasi”.

    7. Dengan kata lain, inilah logika berpikir KM-ITB. Tokoh politik yang menjadi pembicara di acara/diskusi non-politik, harus ditolak kehadirannya, karena ditakutkan ITB akan dipolitisir, seakan-akan ITB mendukung pihak tertentu.

    Salam.

  • Dyah Sujiati

    Wow! Rupanya sebagai seorang dosen, panjenengan gagal paham akan suara hati mahasiswa panjenengan sendiri.

    Seharusnya panjenengan bisa jadi orang tua yang bijak, bukan malah memelintir makna netralisasi politik seperti tulisan ini.

  • Iwan Yuliyanto

    http://nasional.kompas.com/read/2014/04/19/1920505/Baru.ke.ITB.Setelah.Jadi.Capres.Jokowi.Dipertanyakan

    “Kehadiran Jokowi di ITB adalah inisiatif dari Jokowi. ITB telah mengundang pihak Pemprov DKI Jakarta sejak November 2013, namun Pemprov DKI terus tidak menyanggupi. Tiba-tiba, atas perintah Gubernur DKI Jakarta, di bulan April ini, diadakan kunjungan ke ITB,” tulis pernyataan Ketua Kabinet KM ITB Mohammad Jeffry Giranza, Jumat (18/4/2014)

    Dulu sebelum nyapres diundang, gak datang-datang, kini setelah nyapres baru datang. Wajar kalau didemo. Nanti saja datang lagi ke ITB pasca pilpres.

  • winnet0u

    Saya baru pagi ini membaca semua info terkait ini dr beberapa link dan blog-2.
    Tidak berniat memberi komentar atas ulasan yg sudah disampaikan atau atas komentar 2 yg ada.
    Cuma mau menyampaikan saja, apa yg terlintas dalam pikiran saya setelah membaca semua info:

    1. Sepertinya beberapa Mhs ITB generasi sekarang sedang mencoba meng-aktualisasi-kan dirinya dengan demo tsb, tetapi menjadi blunder karena tidak tepat dan tidak terkendali

    2. Apabila memang ingin bersikap tidak memihak (netral), kenapa kedatangan ARB & Hatta Rajasa yg sudah dr beberapa bulan yg lalu di deklarasikan sbg Capres, reaksinya anteng2 saja? sedangkan Jokowi baru bbrp minggu jd Capres langsung di demo… ini menimbulkan opini publik mhs ITB memihak atau anti thd Jokowi, dan mesti ada apa2nya.

    3. Menurut saya, apabila ternyata di kesempatan itu Jokowi memang berbicara mengenai capres, adalah kesempatan yg paling baik untuk mengurai pemahaman & visi-misi beliau, biar bagaimana presiden berikutnya akan mempengaruhi arah masa depan negara.

    4. Kemudian ditindak-lanjuti dengan mengundang Capres2 lainnya, dan di bombardir dengan pertanyaan2 cerdas yg sama dr mahasiswa2 ITB yg terkenal cerdas, sehingga apabila diliput media, dapat menjadi referensi rakyat indonesia dalam memilih presiden-nya kelak. Dalam hal ini, apabila terlaksana, ITB dpt dibilang berkontribusi dlm masa depan negara RI.

    5. Kondisi yg sekarang, citranya sudah jatuh dari KM-ITB, mestinya tidak perlu memberikan pembelaan berpanjang-2 lebar soal tsb. krn penjelasan yg diberikan malah semakin membuat prihatin, contohnya adalah spanduk dan karangan bunga : politisasi kampus, seakan-akan Jokowi telah melakukannya, padahal bicara saja belum tetapi sudah di-hakimi di awal.

    Demikianlah pendapat saya pribadi.
    Semoga beberapa point dapat menjadi masukan, sebagai sudut pandang orang luar dan awam.

    Best Regards.

  • Phacoel

    Yang saya sayangkan dengan artikel ini justru jadi terlihat KM ITB tidak memperhitungkan aksinya “dipolitisir” baik oleh “massa” yg tidak “dikenal” ataupun “media” (kedua aspek ini harusnya sudah diperhitungkan di plan A, B, atau plan2 lainnya). Yang terekspos kan jadi bukan pesan yg dibuat awal. Kayaknya harus lebih banyak belajar bikin aksi kayak pendahulu2nya yg benar2 tidak mau dipolitisir dan lebih matang baik di perencanaan maupun di lapangan.
    (Alumni yg sering melihat seniornya berdemo dengan baik)

  • Fathah

    @aku ningrum
    seperti yang saya katakan, saya tidak ikut demo

    pertama, demo seperti ini bukan pertama kali di ITB, ARB dan Hatta Rajasa ketika datang di ITB sebeumnya sempat mengalami demo serupa. bahkan SBY ketika deklarasi capres di sabuga ITB

    *ARB saat itu di demo mengenai lapindo, SBY agar nama tempat sabuga ITB yang bisa disewa dari umum tidak dikaitkan dengan ITB sebagai institusi.

    politisasi yang ditakutkan oleh kami adalah yang seperti ini;

    “Menanggapi antusiasnya beberapa pertanyaan mahasiswa yang meminta Jokowi menjadi presiden, menurut Irwan Jokowi memang figur yang tepat untuk menjadi pemimpin.”
    http://www.tempo.co/read/news/2013/08/31/078509097/Jokowi-Disambut-Meriah-Mahasiswa-di-Padang

    ah ya, politisasi tentu tidak hanya menjelang/terkait pilpres, tapi isu ini lebih rawan menjelang pilpres

  • Derpina

    @Fathah
    [QUOTE]1. kiri-kanan-depan-belakang yang saya maksud itu gerakan politik kampus yg ada di itb. jika anda anak itb pasti tau stigma2 “anak depan” atau “anak belakang”. nah kali ini mereka yang dikotomi itu bersatu, bahkan demo sudah atas persetujuan kongres, yang diwakili oleh senator tiap himpunan. jika ada yang ketinggalan berita, maka kemungkinannya senator anda yang gagal menyampaikan ke seluruh massa himpunan atau anda yang entah ke mana.[/QUOTE]

    Pertama kali anda menuliskan itu, di media publik seperti blog pak Rahard ini pembaca tidak berasal dari dalam ITB dan sekarang anda bersih keras ini adalah istilah ITB, tidak tahukah anda sebenarnya bahwa kemaren di dalam ITB sendiri ada yang “menunggangi” aksi kemarin dan membagi bagikan atribut diluar yang disetujui kongres?
    Lalu, kenapa anda sendiri tidak ikut demo ketika anda tahu kan katanya peduli, peduli definisi ITB saat ini kan anda harus ikut serta dalam demo dan mendukung 100% kebijakan dan keputusan KM-ITB secara sepenuh hati dan jiwa?

    Jika dalam kasus “non-himp” yang biasa juga disebut sebagai “ansos”, stigma terdahsyat yang menyingkirkan semua yang dikatakan tidak terkader dan tidak ingin menerima pembelajaran mengenai budaya ITB yang luar biasa sekali, tidak peduli akan almamater serta tidak peka akan keadaan kampus, suara mereka pun tidak terwakilkan oleh KM-ITB.

    Tidak perlulah saya bawa lebih banyak kebusukan internal KM-ITB serta kelemahan struktural himpunan yang ada karena ini media publik.

    Dengan stigma “anak depan” juga saya sangsi kok nanti PKS bakalan di demo, KM ITB kan takut “depan” soalnya, kalau tidak takut, tentu akan dengan tegas mengatakan “Kami akan mendemo itu juga” yang menurut saya jauh lebih terhormat karena konsisten dengan aksi kemarin.

    [QUOTE] pertama, demo seperti ini bukan pertama kali di ITB, ARB dan Hatta Rajasa ketika datang di ITB sebeumnya sempat mengalami demo serupa. bahkan SBY ketika deklarasi capres di sabuga ITB [/QUOTE]

    Apakah anda bisa memberikan citation kepada berita yang memuat tentang hal ini?

    [QUOTE] 2. sudah diakui oleh KM-ITB bahwa itu memang kesalahan mereka dalam hal teknis, silakan baca klarifikasinya. mengenai media, pernyataan anda sendiri sebenarnya mengakui bahwa yang salah adalah media yang mencari sensasi, mengapa dipaksakan menyalahkan mereka yang aksi? [/QUOTE]

    Masyarakat dan media tidak peduli sama kesalahan teklap maupun internal dek, korlap danlap jendral apapun itu yang baik jika melihat kondisi medan perangnya sudah demikian langkah paling cerdas adalah mundur supaya terlihat siapa saja yang bukan bagian dari aksi. Ah tapi saya lupa kan mahasiswa ITB ingin bermain dengan sangat jujur dan naive, mereka selalu memperjuangkan dengan benar dan dengan cara yang paling tepat dan elegan.

    [QUOTE] maaf jika saya salah mengira jika anda di sini ingin mencari kebenaran berita. jika yang anda inginkan adalah berkomentar “seharusnya tidak seperti itu” silahkan sampaikan secara langsung ke pihak-pihak terkait. KM-ITB dan presidennya bisa dihubungi via twitter kok. [/QUOTE]

    Bukankah anda yang sedang melakukan tidakan itu kepada pembaca blog pak Rahard yang tidak setuju dengan aksi kemarin?

    Sebagai penutup saya sangat setuju dengan @Aku Nigrum, mahasiswa ITB sekarang peramal hebat ya bisa memprediksi bahwa jokowi akan mengkampanyekan dirinya agar para peserta Studium Generale kemarin memilih beliau pada pilpres mendatang.
    Tindakan KM-ITB secara tidak langsung menghina para peserta Studium Generale yang mereka anggap “bodoh” maaf, maksud saya “belum cerdas” dalam memilih sehingga perlu dilindungi dan dibimbing serta dibina oleh KM-ITB.

    Apakah anda pembaca komentar ini yang tersindir?
    Jika iya, silakan pikirkan lagi dengan pikiran dingin dari sudut pandang yang lain (itupun jika sanggup).
    Serta jika masih bisa membaca artikel dalam Bahasa Inggris ada baiknya membaca artikel ini
    http://en.wikipedia.org/wiki/Bandwagon_effect
    http://en.wikipedia.org/wiki/Barnum_effect

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: