Lebih Dari Itu

Beberapa hari (minggu?) yang lalu saya betermu dengan seorang rekan yang mengeluhkan bahwa pegawai di kantornya hanya kerja sesuai dengan tugas administratifnya saja. Jika tugasnya sudah selesai – misalnya harus mengerjakan ini dan itu – maka berhentilah dia. Dia tidak mau bekerja lebih, meskipun dia bisa. Dia tidak termotivasi untuk berpikir lebih dari itu. Bahkan dalam menyelesaikan tugasnyapun dia harus diberitahu. Tidak ada inisiatif sama sekali. Kalau tugasnya adalah menyusun kursi, maka setelah kursi tersusun dia tidak mau mengerjakan hal lain; menyusun meja, memasang taplak meja, ngepel lantai, dan seterusnya. Kan tugas saya nyusun kursi sudah selesai. Lantas apa lagi?

Keluhan rekan ini dapat saya pahami. Bahkan saya dapat melihat masalah yang dia hadapi bukan hanya terjadi di tempatnya saja tetapi hampir di seluruh tempat di Indonesia. (Anda termasuk?)

Saya dapat membayangkan pertanyaan orang-orang tersebut, untuk apa saya bekerja lebih banyak? Toh gaji saya sama dengan yang lain (yang kerjanya pas-pasan saja). Nah itu dia. Tolok ukur yang mereka gunakan adalah aspek finansial. Mereka bekerja hanya mengharapkan dapat gaji saja. Tidak ada kepuasan diri dalam bekerja.

Orang-orang sukses yang saya kenal tidak pernah menggunakan aspek finsansial sebagai ukuran. Mereka berpikiran lain, seperti bagaimana kontribusinya terhadap masyarakat, bagaimana kontribusi mereka terhadap perusahaan / instansi. Bagaimana agar perusahaannya (instansinya) itu menjadi lebih baik, meski entitas itu bukan milik pribadinya. Lagi-lagi karena ukurannya bukan finansial. Mereka termotivasi oleh berkontribusi.

Mereka yang sukses ini juga tidak mengukur dirinya dengan orang lain. Mereka mengukur dirinya dengan dirinya sendiri. Be the yardstick. Kalau dibanding-bandingkan, orang lain puas bekerja 70% maka dia bekerja 150%. Bahkan lebih dari itu. Angka-angka orang lain ini tidak penting bagi mereka karena mereka mengukur dirinya sendiri.

Nah, masalahnya adalah bagaimana memotivasi mayoritas orang-orang yang hanya berpikir bekerja pas-pasan saja ya?

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

12 responses to “Lebih Dari Itu

  • hizkalelmunaza

    saya termasuk yang mana ya?
    :v

  • Dedhi

    “Orang-orang sukses yang saya kenal tidak pernah menggunakan aspek finsansial sebagai ukuran”. Itu karena secara finansial mereka sudah tercover, terlindungi, sehingga punya freedom untuk bermain main dengan yang lain atau ada insentive melakukan yang lebih baik. Kalau belum secure mah saya juga akan mengerjakan seadanya, secepatnya, sehingga bisa “moonlighting” cari kerjaan lain? Contoh saja di Singapore, level pekerja blue collar kan begitu. Anda ngasih uang ke mereka aja ngambilnya kayak dirampas, dan langsung ditinggal, ndak ada beramah tamah, langsung cari kerjaan lain supaya nambah duitnya.

  • Budi Ridwin

    Saya setuju dengan kalimat Mereka yang sukses ini juga tidak mengukur dirinya dengan orang lain. Mereka mengukur dirinya dengan dirinya sendiri. Be the yardstick. Kalau dibanding-bandingkan, orang lain puas bekerja 70% maka dia bekerja 150%. Bahkan lebih dari itu. Angka-angka orang lain ini tidak penting bagi mereka karena mereka mengukur dirinya sendiri,…

    mungkin istilah kasarnya total dalam mengerjakan apapun yang dipercayakan ke mereka🙂 Menganggap sebuah pekerjaan itu adalah amanah dan tanggung jawab supaya kita bisa mendapat trust dari orang lain.

    Dengan melatih kebiasaan seperti itu,di masyarakat sekitar rumah dulu saja – lagipula orang tua kita sendiri yang ada di rumah bukankah masyarakat juga namanya? bahkan untuk mendapatkan kepercayaan dari orang tua sendiri saja seringkali kita kesulitan bukan?🙂, dengan begitu maka orang akan semakin banyak yang percaya pada kemampuan kita di luar tugas-tugas kantor. Maka biasanya dengan sendirinya akan datang tawaran-tawaran lain untuk berkontribusi juga di luar pekerjaan kantor.

    Kalau masalah tercover atau tidak, saya perhatikan banyak kok yang sukses tapi sama sekali tidak tercover, karena mindset yang ada di pikiran mereka rata-rata begini “Manusia pasti mati, entah kapan waktunya tidak ada yang bisa meramal, jadi saya harus melakukan apapun yang dipercayakan orang ke saya semaksimal mungkin sebelum saya mati”

    Untuk berkontribusi juga banyak cara yang bisa ditempuh dan ngga sulit-sulit amat pula kok. Contohnya ya ngeblog seperti blognya Pak Budi Rahardjo ini🙂 Bukan promosi supaya blogging ya, tapi memang benar dan terbukti kok🙂

  • mastopstory

    saya sependapat dengan anda, toh jika finansial yang jadi acuanya dengan kita bekerja lebih kita akan mendapatkan perhatian yang lebih.Saya sudah membuktikan hal seperti itu.

  • adienesia

    Ah tertampar (lagi) dengan postingan bapak. Karena mungkin sebagian orang memiliki tujuan awal dari bekerja adalah untuk memenuhi finansialnya saja. Pekerjaan saya ini, gaji sekian. Jika tidak ada nilai tambah yang didapat dari inisiatif kerja lainnya buat apa, karena tujuan awalnya finansial tadi. Mungkin perlu ada brainstorming terhadap pekerja dan teladan dari atasan.
    Ah saya pun masih perlu banyak belajar sepertinya tentang konsep berkontribusi…

  • Mohammad Yusuf Syafroni Karim

    kalo dilihat dari kacamata organisasi ya bener pak, wong instruksinya “menata kursi”. Beda lagi kalo instruksinya menata ruang rapat.
    Disini kalo saya lihat yang paling penting adalah instruksi yang jelas. Memang kalo dilihat aspek kreatifitas memang kelihatannya ndak kreatif atau terkesan malas.
    Bisa jadi juga ternyata dia bisa melakukan penataan kursi tersebut dengan cara efisien, sehingga cepat selesai dan bisa menangani penataan yang lain. Namun ternyata instruksi yang ada atau bahkan penggambaran acara tidak jelas, sehingga dia berpikir tidak perlu meja. Nah akhirnya dia setelah nata kursi ya pulang, wong hari sudah sore, waktunya futsal dan jreng (eh), kwkwkwkwkkw

  • Cik Misstree

    Aspek “pahala” dan soal “akhirat” dalam Islam boleh menjadi motivasi kepada pekerja melangkaui aspek keperluan kewangan semata-mata.

  • Toekang Potret Keliling

    Tulisan ini sangat inspiratif

  • juragan.sipil

    Barusan dapat quote: “Kalo anda mendapat upah 1juta, tapi anda bekerja seperti orang bergaji 2jt, maka selisihnya itu anda peroleh dalam bentuk kesehatan yang baik, kemudahan dalam berbagai urusan, terhindar dari musibah, keluarga dan lingkungan yang menenteramkan hati, dll”

  • coekma

    wah, syusyah kalau di Indonesia krn kita dididik seperti itu, jarang sekali sekolah level dasar yg menekankan softskill. Orang tua lebih bangga kalau anaknya pinter secara akademik dan juara kelas. Orang tua juga jarang mengajarkan anaknya softskill krn sibuk bekerja. Mental pekerja yg seperti itu krn memang dasarnya seperti itu, apalagi klo sudah merasa nyaman dan merasa cukup. Buat apa kerja lebih klo malah bikin capek… hehehehe…. menurut saya pendidikan mental di usia dasar adalah sangat urgent.

  • nda

    izin share pak budi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: