Tag

,

Nampaknya saya harus sepakat bahwa bangsa Indonesia ini terdiri dari orang-orang yang minta dikasihani. Kebanyakan orang merasa harus dikasihani. Bukannya menjadi orang yang mandiri dan menolong orang lain, tetapi malah ingin menjadi orang yang merengek-rengek.

Banyak orang berjualan di tempat pejalan kaki atau bahkan di jalan. Alasannya? Kasihani kami pak, kami tidak punya uang untuk menyewa toko atau kios. Nah, ketika mereka sudah besarpun – sudah punya toko – mereka masih meminta dikasihani. Mereka tidak menyediakan tempat parkir yang cukup sehingga pelanggan parkir di bahu jalan, membuat lalu lintas menjadi macet. Kasihani kami pak.

Mengendarai kendaraan juga demikian. Melanggar aturan lalu lintas. Kasihani kami, kami harus pergi kerja . (Apa orang lain tidak pergi kerja juga?) Harus cepat-cepat sampai tujuan. Serobot. Baru-baru ini ada kecelakaan antara mobil dan motor yang melawan arus. Yang disalahkan adalah mobilnya. Padahal sudah jelas yang salah. Akan tetapi karena orang beranggapan bahwa yang bawa motor adalah orang yang perlu dikasihani maka pengendar mobillah yang salah. Opo tumon?

Partai politik (dan pendukungnya) pun setali tiga uang. Partai kami ditindas oleh mereka. Dan seterusnya. Maka muncullah negative & black campaign. Bukannya mencari yang positif tetapi mencari yang negatif.

Seharusnya kita selalu berusaha dan bercita-cita menjadi orang yang mandiri. Menjadi matahari, yang menyinari sebagian dari planet. Bukan menjadi orang yang selalu minta dikasihani. Maukah kita?