Tag

, , , ,

Saya punya analogi khusus untuk menggantikan kata ilusi (atau halusinasi?), yaitu “seperti partai politik saja“. hi hi hi. Kata-kata ini saya gunakan ketika ada seorang calon start-up yang membuat sebuah aplikasi dan merasa bahwa aplikasinya itu bakal populer. Dengan sok pastinya, sang (calon) entrepreneur mengatakan bahwa aplikasinya akan digunakan sekian puluh ribu orang. Ini sama dengan partai politik yang merasa pasti bahwa dia akan mendapatkan kemenangan karena mendapatkan dukungan yang banyak. hi hi hi.

Masalahnya adalah cara mereka untuk mengukur diterimanya aplikasi (atau partai politik) oleh masyarakat itu salah. Mereka melakukan survey di lingkungan mereka sendiri. Partai politik A melakukan survey ketika sedang melakukan musyawarah partai A. Ya sudah jelas semuanya akan pilih partai A. ha ha ha. Demikian pula yang terjadi dengan survey kepopuleran aplikasi tersebut, yang salah adalah bagaimana mereka melakukan surveynya.

Akhir-akhir ini media sosial seperti facebook dan twitter ramai orang mempromosikan (dan lebih banyak lagi yang menjelek-jelekkan) calon presidennya. Begitu ada yang me-like, mereka berpikir bahwa mereka mendapat dukungan. Ya iyalah. Yang memberikan dukungan jelas dari lingkungannya sendiri (seperti contoh survey di acara musyawarah partai itu sendiri di atas). ha ha ha. Ini adalah ilusi. Analogi ini yang saya gunakan untuk start-up.

Orang juga berpikir bahwa dengan menuliskan sesuatu di internet, mereka dapat mengubah pemikiran (pilihan) orang. Padahal ini tidak terjadi. Apalagi yang terjadi dalam media sosial bukanlah diskusi (untuk mendapat masukan tentang apa yang dituliskan) tetapi adalah berdebat tentang ego dari orang-orang itu. Content tidak jadi bahan diskusi. You won’t get anything new from when you started. Ini hanya pertarungan ego – siapa yang lebih tahan berdebat saja. Itu saja. It doesn’t prove anything (related to the content).

Kembali ke soal calon start-up yang ingin mendapatkan masukan mengenai produk (aplikasi) yang mereka kembangkan, mereka harus melakukan survey dengan cara yang benar. Ini ada ilmunya. (Calling Syaiful from MBA SBM ITB.) Jadi jangan “seperti partai politik saja” ya.

Oh ya, bagi yang membacanya terburu-buru, ini tulisan lebih tentang entrepeneurship bukan tentang politik lho.