Tag

, , ,

Salah satu hambatan terbesar untuk menjadi entrepreneur adalah mengatasi ego. Yang saya maksud dengan ego di sini adalah rasa arogansi, kebangsawanan, ketinggian, atau sejenisnya. Saya masih mencari kata yang lebih tepat. Contohnya begini, misalnya seorang lulusan perguruan tinggi dengan gelar S2 merasa malu kalau berjualan mie baso di pinggir jalan. Saya kan lulusan perguruan tinggi! Begitu kira-kira ekstrimnya.

Itulah sebabnya lulusan perguruan tinggi sering sulit untuk diajak menjadi entrepreneur. Saya kan sudah susah-susah sekolah, sudah bayar mahal, mengapa hanya jadi entrepreneur? “Hanya”? Nah itu dia. Padahal menjadi entrepreneur dapat menjadi solusi masalah ekonomi (dan sosial) di negara kita.

Bagaimana mengatasi ego ini? Atau setidaknya mengurangi rasa malu ini? Jawaban yang singkat adalah “just do it”. Langsung dikerjakan saja. Kalau berenang, langsung loncat ke kolam renang. he he he. Tentu saja ada cara-cara agar risiko kegagalan menjadi minimal. Misalnya kalau mau loncat ke kolam renang, ya setidaknya harus bisa ngambang lah. Jangan gaya batu. hi hi hi. Atau, ada penjaga kolam renang yang dapat menolong ketika kita akan karam.,

Sebetulnya ada latihan-latihan yang dapat dilakukan untuk mengurangi ego ini. Salah satu contohnya adalah mencoba dengan hal yang kecil. Ambil contoh begini. Beli kacang bungkus (atau permen, kertas tissue, atau apa saja yang mudah dibeli dan tidak rusak). Kemudian Anda coba jual itu di pasar malam, acara-acara, atau ke teman. Harganya buat sama dengan harga belinya. Tujuannya bukan untuk mencari keuntungan tetapi mencoba apakah Anda mau melakukannya. Sekedar “mau” saja. Itu saja. Latihan seperti ini dapat dilakukan untuk mengurangi rasa ego tersebut.

Semoga semakin banyak generasi muda entrepreneur yang sukses di Indonesia.